14 menteri menolak bergabung dengan Kabinet Reformasi Soeharto
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia — Letkol K. Inugroho TNI Angkatan Udara, Asisten Menteri Koordinator Perekonomian dan Perindustrian Ginandjar Kartasasmita, terpaksa menembus pengamanan ketat di sekitar Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, kediaman pribadi Presiden Soeharto.
Hari sudah gelap, pada hari itu, 20 Mei 1998.
“Saya menghubungi ajudan yang kebetulan sesama perwira TNI AU untuk menyerahkan surat yang ditandatangani 14 menteri Kabinet Pembangunan VII,” kata Inugroho kepada Rappler, Selasa, 17 Mei 2016, belasan tahun setelah awal keruntuhan Kabinet. Pesanan baru.
Ajudan presiden berkoordinasi dengan Panglima Pasukan Keamanan Presiden lalu mengirimkan mobil untuk menjemput Inugroho.
Inugroho yang merupakan pensiunan perwira bintang dua TNI AU saat ini aktif menjabat sebagai salah satu Wakil Ketua Umum Pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Ia menjadi saksi mata proses penyusunan surat yang menyatakan menolak bergabung dalam Kabinet Reformasi yang akan dibentuk Soeharto seperti janjinya dalam jumpa pers sehari sebelumnya, 19 Mei 1998.
Soeharto berharap dengan terbentuknya kabinet baru, tuntutan agar dirinya mundur bisa melunak.
Beginilah isi surat itu:
Ke Yth.
Bapak Presiden Republik Indonesia
Dengan ini kami melaporkan dengan hormat bahwa setelah mengevaluasi keadaan terkini, khususnya di bidang perekonomian, kami berkesimpulan bahwa keadaan perekonomian kita tidak akan bertahan lebih dari 1 (satu) minggu jika tidak diambil langkah-langkah politik yang segera dan tepat. pertumbuhan masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan reformasi di segala bidang, sesuai anjuran DPR RI dan pimpinan Fraksi pada Selasa, 19 Mei 1998.
Sehubungan dengan itu, kami sepakat bahwa langkah pembentukan kabinet baru seperti yang Anda rencanakan tidak akan menyelesaikan masalah.
Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, kami secara pribadi menyatakan belum siap untuk masuk dalam susunan kabinet baru.
Sebagai anggota Kabinet Pembangunan VII, kami akan terus membantu sepenuhnya dalam pelaksanaan tugas yang Saudara emban untuk mensukseskan Catur Krida Kabinet Pembangunan VII.
Atas perhatian dan persetujuannya diucapkan terima kasih.
Semoga sukses,
- Akbar Tanjung
- AM Hendropriyono
- Ginandjar Kartasasmita
- Giri Suseno
- Haryanto Dhanutirto
- Yustika Baharsyah
- Kuntoro Mangkusubroto
- Rachmadi Bambang Sumadhijo
- Rahardi Ramelan
- Subiakto Tjakrawerdaya
- Sanyoto Sastrowardoyo
- Sumahadi
- Theo L. Sambuaga
- Tanri Abeng
Soeharto membaca surat itu di kamarnya, sekitar pukul 20.00 WIB. Menurut Saadillah Mursjid, Menteri Sekretaris Negara, Soeharto tampak terkejut. Sebab, sehari sebelumnya dia sudah membahas rencana kabinet baru dengan para menteri senior, termasuk siapa saja yang akan bergabung.
Beberapa menteri yang menandatangani surat penolakan duduk di kabinet reformasi adalah menteri senior yang menjadi andalan presiden.
Sore harinya datang pukulan baru. Dari 45 orang yang diminta duduk di Komite Reformasi, sebagian besar menolak bergabung.
Ginandjar Kartasasmita dalam bukunya Mengelola Transformasi Indonesia: Sebuah Sejarah Lisan, mengatakan sejumlah menteri berkumpul pagi itu di rumah dinasnya di kawasan Widya Chandra, Jakarta Selatan. Diantaranya Akbar Tanjung, Hendropriyono, Kuntoro Mangkusubroto.
Hadir pula pengusaha Arifin Panigoro dan Zainal Arifin. Arifin Panigoro secara terbuka mendukung gerakan mahasiswa. Rumahnya di kawasan Jenggala menjadi pos penting gerakan reformasi.
Penulis juga berada di kediaman Ginandjar dan menyaksikan pertemuan tersebut. Saat itu kami membahas perkembangan situasi yang semakin parah. Akbar Tanjung menyampaikan hasil rapat pimpinan Ikatan Pelajar Indonesia malam sebelumnya di kediaman Malik Fadjar, tokoh Muhammadiyah. Akibat pertemuan itu, Soeharto harus lengser dari kekuasaan.
Pertemuan di rumah Ginandjar membahas ancaman bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan. Keinginan mahasiswa dan pendukung gerakan reformasi untuk menggulingkan Soeharto tak bisa lagi dibendung, meski hanya dengan janji bergerak lagi kabinet dan pembentukan Komite Reformasi. Sementara Soeharto merasa yakin ada pihak yang mendukungnya.
“Kalau (tabrakan) bisa berjatuhan banyak korban, tidak terbayangkan kerusakan sektor ekonomi, dana terseret ke dalam kerusuhan sosial,” kata Ginandjar.
Citra Lapangan Tiananmen yang berdarah sangat kuat dalam perbincangan.
Saya kemudian meminta para menteri perekonomian untuk bertemu sore itu juga, kata Ginandjar.
Seluruh menteri perekonomian hadir kecuali tiga orang: Menteri Lingkungan Hidup Juwono Sudarsono yang dirawat di rumah sakit, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Bob Hasan yang mengaku tidak bisa melewati hambatan tersebut, dan Menteri Keuangan Fuad Bawazier yang tidak bisa dihubungi.
Kami memahami posisi Bob Hasan dan Fuad Bawazier yang sangat dekat dengan Soeharto dan keluarganya, kata Ginandjar.
Para menteri menganalisis situasi ekonomi dan dampaknya terhadap politik. Mereka menelpon Gubernur Bank Indonesia (BI) Syahril Sjabirin yang menjelaskan, kantor BI tutup selama dua hari karena pegawai tidak bisa mencapai kantor. Blokade di mana-mana.
“Menurut Gubernur BI, jika situasi ini berlanjut selama seminggu lagi, tanpa berfungsinya Bank Sentral, perekonomian akan invasi,” kata Ginandjar.
Mendapat penjelasan tersebut, Ginadjar mengaku sempat bercerita kepada rekan-rekannya bahwa ia pernah mendengar Presiden Soeharto akan membentuk Kabinet Reformasi.
Ada indikasi kuat saya akan masuk kembali ke kabinet, kata Ginandjar.
Namun dia akan menolak, karena kabinet baru tidak akan menawarkan solusi terhadap situasi yang ada. Sejumlah menteri yang hadir mengamini pendapat Ginandjar.
Tidak semua orang yang hadir menandatangani surat penolakan menjadi bagian Kabinet Reformasi Soeharto.
Surat 14 menteri ini mempercepat keputusan Soeharto meninggalkan kerajaan keesokan harinya, 21 Mei 1998. Soeharto merasa kaget dan marah karena beberapa di antara mereka adalah orang-orang yang dibesarkannya dan dianggap setia.
Beberapa di antaranya dilantik menjadi kabinet Presiden BJ Habibie. —Rappler.com
BACA JUGA: