3 Hal Tentang Alfito Deannova, Panduan Debat Final Pilgub DKI
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
KPU DKI Nilai Alfito Sebagai Sosok Independen dan Berpengalaman Pimpin Debat Antar Kandidat di Pilgub
JAKARTA, Indonesia β Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI menunjuk Alfito Deannova Ginting sebagai pemimpin debat final yang digelar pada Jumat, 10 Februari. Jika pada debat kedua KPU DKI menunjuk dua moderator untuk memimpin acara selama 120 menit, maka pada debat terakhir KPU menggunakan konsep awal. Alfito akan memimpin debat sendirian.
Betty Epsilon Idroos, Komisioner KPU DKI, mengaku Alfito dipilih karena dinilai independen dan berpengalaman menjadi presenter di beberapa stasiun televisi. Saat ini, pria berusia 39 tahun tersebut berprofesi sebagai presenter di stasiun televisi CNN Indonesia.
βDia independen, tidak terlibat dengan pasangan calon mana pun, dan terbiasa menjadi pembawa acara dan menjadi pembawa acara di berbagai media,β kata Betty kepada media.
Alfito mempunyai tugas yang cukup berat untuk bisa menghadirkan debat ketiga yang mengambil tema kependudukan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Jakarta. KPU DKI kemudian memperinci temanya yakni pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pemberantasan narkotika, dan kebijakan bagi penyandang disabilitas.
Tak ingin mengecewakan masyarakat, Alfito mengaku sudah mulai melakukan persiapan. Salah satu caranya adalah dengan meminta bimbingan kepada dua moderator sebelumnya, Ira Koesno dan Tina Talisa. Berikut rekor Alfito yang perlu Anda ketahui:
1. Pernah menjadi penyiar radio
Dunia jurnalisme sebenarnya bukan hal baru bagi Alfito. Sebelumnya, saat masih kuliah di program Akuntansi Universitas Indonesia, pria kelahiran 17 September 1976 ini sudah bekerja sebagai penyiar Radio Suara Kejayaan 101.6 FM. Begitu lulus pada September 2000, ia langsung memutuskan menjadi jurnalis.
Stasiun televisi SCTV menjadi pilihan pertama Alfito. Namun, sebelum diangkat menjadi jurnalis tetap, ia masuk dengan status jurnalis magang. Tugas pertamanya saat itu adalah meliput ledakan bom di Kedutaan Besar Filipina di kawasan Menteng pada Agustus 2000. Dari situlah ia kemudian diberi tanggung jawab pemberitaan di bidang hukum dan pidana.
2. Minat yang mendalam terhadap politik
Semasa kecil, Alfito mengaku kerap kurang percaya diri, minder, dan cenderung menyendiri. Alhasil, ia menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca buku. Politik adalah subjek yang menarik minatnya.
Ketika anak-anak seusianya memilih membaca komik atau buku cerita di bangku sekolah dasar, anak kedua dari empat bersaudara ini sibuk bertanya dan meneliti peristiwa seputar Gerakan 30 September. Ia juga membaca kumpulan pidato Soekarno milik kakeknya yang berjudul “Di Bawah Panji Revolusi”.
Alfito pun tertarik mendengar cerita tentang kakeknya yang pernah menjadi cakrabirawa, pengawal Presiden Soekarno. Karena itulah ia pernah bercita-cita menjadi tentara, namun harus menyerah karena berkacamata.
3. Karir cemerlang di bidang jurnalistik
Alfito berkarir di SCTV selama tujuh tahun. Setelah beberapa kali melakukan pemberitaan di lapangan, ia kemudian dipercaya oleh pemimpin redaksi, Karni Ilyas, sebagai pembaca berita program Liputan 6 pagi.
Selama di SCTV, ia juga dipercaya untuk bertanggung jawab atas beberapa program antara lain Liputan 6 Malam, Dari Titik Nadir untuk korban Tsunami Aceh dan program khusus Pilpres 2004, Satu Langkah Menuju Istana. Pada tahun 2007 ia pindah ke tvOne yang saat itu masih bernama Lativi. Selain sebagai pembaca berita, beliau juga dipercaya menduduki posisi Current Affairs Manager. Ia juga memiliki program sendiri bernama Alfito.
Pada tahun 2015, Alfito memutuskan keluar dari tvOne dan bergabung dengan stasiun televisi CNN Indonesia. β Rappler.com