4 rumah sakit di Jakarta menggunakan vaksin palsu
keren989
- 0
Polisi masih mendalami apakah pihak rumah sakit sengaja menggunakan vaksin palsu atau tidak. Bagaimana cara membedakan vaksin asli dan palsu?
JAKARTA, Indonesia – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri menyebut peredaran vaksin palsu sudah meluas hingga ke Semarang dan Yogyakarta, tak hanya Jakarta.
Barang buktinya, polisi berhasil menangkap dua orang pengedar vaksin palsu di sebuah hotel di Semarang, yakni P dan M, pada Senin 27 Juni.
Agung Setya, Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim, mengatakan kedua pelaku masih satu rantai dengan 12 pelaku sindikat vaksin bayi palsu yang ditangkap sebelumnya.
Namun, jelas Agung, P dan M lebih banyak berhubungan dengan 5 sindikat yang berperan sebagai penyalur, yakni T, D, F, J dan A. Sedangkan 7 pelaku lainnya berperan sebagai penyalur. penjualanpengumpul botol vaksin bekas, dan pengemas botol vaksin.
“Kami sekarang fokus ke mana arah peredaran vaksin palsu ini. Total tersangka yang ditangkap hari ini mencapai 15 orang, kata Agung di Mapolres, Senin.
Saat ini polisi masih mencari distributor vaksin palsu lainnya. Sebab, dari tangan distributor itulah penyidik dapat memperoleh dokumen pemesanan dan memetakan di mana vaksin palsu tersebut berakhir.
“Karena dengan mengetahui lokasi penyalurannya, kita bisa melihat seberapa besar permasalahan ini. Tim kami pindah ke Yogyakarta, Semarang dan kota-kota lain di Indonesia. “Kami terus melakukan penyelidikan,” katanya.
Apakah rumah sakit menggunakan vaksin palsu?
Sementara saat ditanya keterlibatan rumah sakit, Agung mengaku ada beberapa rumah sakit yang menggunakan vaksin palsu. Namun, dia belum mengetahui apakah penggunaan vaksin palsu itu disengaja atau tidak.
Sejauh ini, ia menemukan ada 4 rumah sakit di Jakarta yang menggunakan vaksin palsu. Namun, dia bungkam saat diminta media membeberkan nama keempat rumah sakit tersebut.
Selain di rumah sakit, kami juga menemukan vaksin palsu di dua apotek di Jatinegara dan satu apotek di Jakarta, kata Agung.
Ia mengatakan, pihaknya bisa mengetahui rumah sakit mana saja yang menggunakan vaksin palsu berdasarkan informasi dari distributor yang ditangkap. Karena menyimpan informasi dan barang bukti, polisi lebih mengutamakan pengejaran.
Polisi khawatir distributor bisa kehilangan barang bukti.
“Kami juga memperoleh data dengan mengonfrontasi rumah sakit dan apotek dengan distributor,” kata Agung.
Selain mencari informasi dari distributor dan pemalsu yang tertangkap, Bareskrim juga bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan untuk bisa memetakan peredaran vaksin palsu. Selain itu, ia meminta agar rumah sakit segera menarik vaksin palsu.
Dalam penilaian Agung, kasus ini memiliki potensi besar untuk dilibatkan juga oleh tenaga medis. Untuk itu, Bareskrim menggelar rapat koordinasi dengan BPOM dan Kementerian Kesehatan pada hari ini, Selasa, 28 Juni.
“Kita akan membahas bagaimana mencegah dan menghentikan penyebaran stok (vaksin palsu) ini,” ujarnya.
Sulit membedakan vaksin palsu
Dalam keterangannya, Agung juga memberikan tips membedakan vaksin palsu dan asli. Menurutnya, masyarakat bisa membedakan vaksin palsu berdasarkan tutup botolnya.
Dalam vaksin palsu, alatnya tekanan Botol yang digunakan masih tergolong majemuk.
“Sarung karet palsu terlihat lebih mudah menyebar dibandingkan yang asli. Apalagi bentuknya kurang rapi, kata Agung.
Selain itu, Agung mengakui masyarakat sulit mengenali vaksin palsu dan asli. Mereka baru mengetahui vaksin itu asli setelah orang yang dituju jatuh sakit.
“Dampak dari vaksin palsu atau asli tidak langsung terlihat. “Dampaknya baru terasa setelah serangan kuman karena diberikan vaksin palsu,” ujarnya. —Rappler.com
BACA JUGA: