• March 14, 2026
5 Hal Tentang Film ‘Pantja-Sila: Cita-cita & Kenyataan’

5 Hal Tentang Film ‘Pantja-Sila: Cita-cita & Kenyataan’

Hal yang perlu diketahui pemirsa tentang film dokumenter sejarah ‘Pantja-Sila: Cita-cita & Realitas’ karya Tino Saroengallo dan Tyo Pakusadewo.

JAKARTA, Indonesia — Setelah sekian lama, sutradara Tino Saroengallo dan Tyo Pakusadewo akhirnya merilis film dokumenter bertajuk Pantja-Sila: Cita-cita dan Realitas pada hari Kamis, 2 Juni.

Penayangan perdana berlangsung di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Berikut 5 hal yang perlu Anda ketahui tentang film yang dirilis sehari setelah Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni itu:

1. Terinspirasi dari pidato Bung Karno

Penggagas film ini, Tyo Pakusadewo mengaku ingin membuat film ini setelah membaca bukunya Pedoman Pelaksanaan Amanat Penderitaan Manusia Jilid 1. Buku tersebut memuat salah satu pidato Presiden Sukarno yang berjudul Lahirnya Pancasila.

“Mas Tyo menyadari pentingnya isi pidato sebagai salah satu titik awal perjalanan bangsa,” kata sutradara dan produser eksekutif Tino Saroengallo.

Pidato ini disampaikan Bung Karno pada sidang Dokuritsu Junbi Cosakai pada tanggal 1 Juni 1945. Kemudian hari ini diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila.

Saat itu Indonesia masih dalam tahap keraguan akan kemerdekaan karena berbagai faktor, termasuk dasar negara yang akan diambil. Kebingungan tersebut dijawab Bung Karno dengan menyampaikan lima poin yang nantinya menjadi Pancasila.

2. Berisi pidato Bung Karno

Sepanjang film, hanya satu wajah tokoh yang terlihat jelas: Bung Karno. Memang sebelum pidato dimulai, ada preview dari beberapa tokoh lain seperti Mohammad Yamin (Teuku Rifnu Wikana); Liem Koen Hian (Verdi Sulaiman); Ki Bagus Hadikoesumo (Jantra Suryaman); dan R. Abikoesno Tjokrosoejoso (Wicaksono Wisnu Legowo). Namun, wajah mereka buram.

“Memang ingin membuat rekaman audio visual suatu pidato yang tidak ada dalam rekaman,” kata Tino.

Selama 79 menit, penonton akan menyaksikan Tyo Pakusadewo yang berperan sebagai Bung Karno memberikan pidato. Di sela-sela, ada tanggapan dari beberapa tokoh yang disebutkan di atas, namun wajahnya masih belum terlihat.

3. Anggaran dari ‘crowd financing’

Kepada Rappler, Tino mengatakan bahwa Tyo membawakan film ini kepadanya pada akhir tahun 2014, namun baru mulai menggarapnya sejak Februari 2015.

“Itu juga terhenti karena tidak ada uang,” kata sutradara Gerakan Mahasiswa Indonesiasebuah film dokumenter tentang aksi mahasiswa pada Mei 1998.

(BACA: Sineas ‘Gerakan Mahasiswa Indonesia’: Reformasi Gagal)

Beruntung, ia mendapat bantuan dana dari rekannya yang kebetulan bertemu dengannya di Bali. Saat itu, rekannya menanyakan apakah Tino dan Tyo serius melanjutkan film ini.

“Saya mengiyakan, lalu dia menawarkan bantuan. Meskipun tidak penuh“Tapi ya, dari situ proyek ini akan kami lanjutkan,” kata Tino.

Proses penggalangan dana ini tidak berhenti setelah pemutaran perdana film tersebut. Rupanya, Sindikasi Media Jakarta dan Gepetto Production masih membutuhkan donasi agar film tersebut bisa tayang di layar bioskop.

Pada acara premiere di TIM kemarin terdapat kotak donasi bagi yang ingin membantu. Tino rencananya film ini akan tayang di bioskop pada 17 Agustus mendatang.

4. Keterlibatan keluarga Soekarno

Pada pertunjukan kemarin, turut hadir putra bungsu Bung Karno dari Fatmawati, Guruh Soekarnoputra. Meski Tyo sendiri banyak memahami karakter presiden pertama Indonesia ini melalui buku-bukunya, namun sesekali ia mengunjungi Guruh untuk berkonsultasi.

“Ya, saya ingin memberi masukan tentang Anda kepada Mas Tyo,” kata Guruh kepada Rappler.

Ia sendiri mengaku puas melihat film ini. Film dokumenter sejarah ini diharapkan dapat menambah daftar arsip nasional tentang pembentukan bangsa. Sebab, isi pidato Bung Karno yang pertama kali mencanangkan Pancasila jarang diketahui secara lengkap.

5. Persepsi terserah penonton

Meski dalam sambutan awalnya Tino mengutarakan kritik dan renungannya terhadap Pancasila saat ini, namun ia mengaku belum ada niat untuk membuat film tersebut. Ya, saya hanya menyampaikan apa itu lahirnya Pancasila, ujarnya.

Sedangkan untuk pemahaman dan pandangan penonton terhadap film ini, ia serahkan pada individu masing-masing.

“Memang seharusnya banyak orang yang punya tujuan atau sasaran tertentu, tapi kalau saya buat film ini, tidak akan ada,” ujarnya. Menurut Tino, semua terjadi secara kebetulan dan takdir untuk film tersebut Pantja-Sila Ini.

Seperti kenapa hanya tayang pada tanggal 2 Juni, bukan pada hari ulang tahun yang jatuh sehari sebelumnya?

“Iya karena belum dapat gedung, baru hari ini dapat. Tapi ya, kebetulan, kan?” dia berkata.-Rappler.com

BACA JUGA:

SDy Hari Ini