• March 1, 2026
5 hal yang perlu Anda ketahui tentang Straight Street Festival

5 hal yang perlu Anda ketahui tentang Straight Street Festival

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

‘Festival Jalan Lurus diadakan untuk mengoreksi sejarah, bukan memutarbalikkannya oleh kaum kiri’

JAKARTA, Indonesia – Aktivis angkatan 1966 yang tergabung dalam Laskar Ampera Arif Rahman Hakim menggelar seminar dan dialog bertema Festival Jalan Lurus di Gedung Joang ’45, Jakarta pada Selasa, 23 Mei.

Festival ini diyakini digelar sebagai pesaing Festival Belok Kiri yang sempat dilarang karena dituding sebagai gerakan komunis gaya baru.

Apa saja yang dibicarakan dalam festival yang didukung sejumlah purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu?

(BACA: 9 Catatan Penting Penyelenggaraan Festival Belok Kiri)

Tema: Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 dan G30S

Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) Mayjen TNI. Pensiunan Kivlan Zei; Politisi Partai Demokrat dan mantan anggota DPR RI, Hakim Sorimuda Pohan; dan Juru Bicara Front Pancasila, Alfian Tanjung; hadir sebagai pembicara.

Ketiga pembicara tersebut membahas berbagai hal mengenai kewaspadaan terhadap kebangkitan komunisme gaya baru.

Menurut Ketua Umum DPV Laskar Ampera Arief Rachman Hakim, Shidki Wahab, Tujuan diadakannya Straight Out Festival adalah mengoreksi sejarahdaripada diganggu oleh kaum kiri.

“Festival Jalan Lurus 2016 ini untuk mengoreksi sejarah, apa sebenarnya tragedi pemberontakan PKI di Madiun 1948 dan pemberontakan G30S/PKI di Jakarta 1965,” ungkapnya. Shidki.

“Kami tidak ingin generasi muda penerus bangsa Indonesia di masa depan mendapat informasi yang salah tentang sejarah kelam bangsa Indonesia terkait PKI. Sikap kami terhadap pemerintah jelas dan tegas, bukan ruang PKI. dan kesempatan untuk tumbuh dan bangkit kembali,” ujarnya.

Panggilan untuk berperang

Mantan Panglima Kostrad Kivlan Zein mengatakan sudah saatnya melawan gerakan PKI yang menurutnya kini muncul dengan gaya baru.

“Kami tidak ada seminar lagi, kami siap perang,” kata Kivlan.

Kivlan menilai sejumlah lembaga negara dan organisasi masyarakat kini telah disusupi kelompok sayap kiri, seperti DPR RI yang pernah diduduki politisi PDI-Perjuangan, Budiman Sudjatmiko.

Menurut Kivlan, rancangan UU Desa yang sedang dikerjakan Budiman di Komisi II DPR RI merupakan pembuka untuk memulai gerakan PKI dari bawah. Dengan dibentuknya gerakan-gerakan dalam bentuk serikat tani maka petani akan sejahtera dan desa menjadi kuat.

Ketika kota mempunyai kekuasaan, hal ini diperkirakan akan menimbulkan perlawanan dari pejabat pemerintah. “Ini bahayanya, pada dasarnya kami siap perang,” kata Kivlan.

Pernyataan Negarawan Muda Anti-Komunis

Pada kesempatan ini juga, sekitar 20 organisasi masyarakat yang diundang hadir bersatu dan mendeklarasikan suatu gerakan Negarawan muda anti-komunis.

20 organisasi tersebut di antaranya adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Front Pembela Islam (FPI), Korps Alumni Ikatan Mahasiswa Islam (KAHMI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Islam Indonesia (KAMMI).

Selain itu ada juga Pemuda Pancasila (PP), Pemuda Panca Marga (PPM), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), dan Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia (FKPI).

6 poin penting

Dalam pernyataan posisi Negarawan Muda Anti-Komunis tersebut terdapat 6 poin utamadia:

  1. Berjanji setia untuk memperjuangkan dan mengamalkan ideologi Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara.
  2. Menolak penyebaran ideologi radikal teror, komunisme, Marxisme, dan Leninisme di Indonesia.
  3. Menyatakan dukungan pemerintah Indonesia untuk tidak meminta maaf kepada Partai Komunis Indonesia (PKI).
  4. Mendukung terwujudnya kedaulatan negara di bidang politik, ekonomi, dan budaya.
  5. Gerakan yang disebut Negarawan Muda Anti Komunis ini akan mengawal jalannya proses pemerintahan dan mengawasi kebijakan penyelenggara pemerintahan berdasarkan ideologi Pancasila.
  6. Bersatu dalam keberagaman sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Taufiq Ismail: Generasi muda PKI tidak punya rasa malu

Penggarap dan penyair Taufiq Ismail juga tampil dalam acara ini. Dalam sambutannya beliau mengatakan Generasi muda PKI sedang menggerogoti wibawa ideologi Pancasila dengan meracuni generasi muda non-PKI.

Menurut Taufiq, para pemuda tersebut memutarbalikkan sejarah dengan menyebut mereka korban TNI-Polri.

Beneran juga, nggak usah malu dan nggak punya perasaan. Seharusnya bukan mereka (PKI) yang memaksa mereka meminta maaf kepada pemerintah, tapi justru kita (non-PKI) yang memaksa mereka (PKI) kepada seluruh rakyat Indonesia untuk meminta maaf karena kesalahannya. barbarisme mereka pada masa pemberontakan tahun 1948 hingga 1965,” ujarnya.

—Rappler.com

Baca laporan lengkap Rappler pada Simposium Nasional 1965:

HK Hari Ini