• March 22, 2026
5 hal yang perlu Anda ketahui tentang Tito Karnavian

5 hal yang perlu Anda ketahui tentang Tito Karnavian

Tito membela hak-hak kelompok LGBT, namun juga akrab dengan FPI.

JAKARTA, Indonesia—Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisaris Jenderal Tito Karnavian, disebut-sebut menjadi calon kuat Kapolri. Penyebutan tersebut diperkuat dengan pernyataan Ketua DPR Ade Komaruddin kepada media hari ini, Rabu, 15 Juni.

Ade mengatakan, Presiden Joko Widodo mencalonkan Tito sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri).

“Saya menerima surat dari presiden. Isi suratnya menyebutkan Presiden meminta pencalonan Komisaris Jenderal Tito Karnavian dan merupakan satu-satunya calon Kapolri pengganti Jenderal Badrodin Haiti, kata pria yang akrab disapa Akom itu.

DPR akan segera memproses hal tersebut, dimulai dari rapat pimpinan hingga pemaparan pencalonan Komjen Tito.

Siapa sebenarnya Tito Karnavian?

Berikut 5 hal yang perlu Anda ketahui tentang calon Kapolri ini:

Jenderal yang suka sekolah

Tito merupakan lulusan terbaik Akademi Kepolisian (Akpol) yang lulus pada tahun 1987. Atas prestasinya, ia mendapat bintang Adhi Makayasa.

Pada tahun 1993 ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Exeter di Inggris dan memperoleh gelar MA di bidang Studi Kepolisian.

Pada tahun 1996, beliau menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jakarta dan memperoleh gelar Sarjana Ilmu Kepolisian, serta mendapat Beasiswa Bintang Wiyata sebagai lulusan terbaik PTIK.

Selain itu Tito Karnavian juga menyelesaikan pendidikannya di:

  • Massey University Auckland di Selandia Baru dalam bidang Studi Strategis pada tahun 1998.
  • Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura, sebagai kandidat PhD bidang Studi Strategis pada tahun 2008.

Pemburu teroris

Nama Tito mulai dikenal luas saat bergabung dengan tim Divisi Khusus 88. Pada tahun 2005, ia bersama tim Densus saat itu berhasil menangkap teroris besar Dr. Azahari.

Pada tahun 2007, Tito dan Densus 88 Anti Teror kembali berhasil menangkap puluhan tersangka yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) di Kabupaten Poso.

Pada tahun 2009 ia berhasil mengalahkan Noordin M Top di Solo. Ia kemudian dipromosikan menjadi Kepala Densus 88 setelah penangkapan.

Tahun ini, Tito akhirnya dilantik menjadi Kepala BNPT. Menurut sumber polisi Rappler, Tito ikut mencari Santoso di lapangan pada April lalu.

Tomy Soeharto kalah

Tito juga dikenal karena perannya sebagai pemimpin tim yang menangkap Hutomo “Tomi” Mandala Putra, putra mantan Presiden Soeharto.

Penangkapan Tommy saat itu terkait pembunuhan Hakim Pengadilan Tinggi Safiuddin Kartasasmita.

Saat itu, Tito menjabat sebagai Kepala Satuan Reserse Umum dengan pangkat Pembantu Komisaris dengan jumlah anggota 23 orang. Tim Kobra berhasil menangkap Tommy pada 28 November 2001 di tempat persembunyiannya di Jalan Maleo II Blok JB, Bintaro Jaya, Tangerang, Banten.

Total aset: Rp 11 miliar

Demikian dilansir situs kpk.go.id, Tito melaporkan laporan kesejahteraan pegawai negeri sipil terakhir kali pada 20 November 2014. Tepatnya saat masih menjabat Asisten Perencanaan Umum dan Anggaran Kapolri.

Dalam laporannya, Tito tercatat memiliki harta tidak bergerak berupa tanah dan bangunan senilai Rp11.297.741.000.

Aset real estat tersebut meliputi tanah dan bangunan di kawasan Jakarta Selatan masing-masing seluas 307 meter persegi dan 207 meter persegi. Tanah tersebut diperoleh pada tahun 2003 dari penghasilan sendiri dan hibah dengan NJOP Rp5.273.397.000.

Ada pula bangunan seluas 120 meter persegi di Singapura yang diperoleh dari hasil sendiri pada tahun 2008 dengan nilai jual objek pajak (NPO) sebesar Rp3.000.000.000.

Sedangkan untuk harta bergerak, belum ada laporan mengenai alat pengangkutnya. Hanya dilaporkan terdapat harta bergerak senilai Rp160.000.000,- di antaranya terdapat logam mulia senilai Rp150.000.000.

Tito juga melaporkan harta berupa giro dan setara kas senilai Rp1.827.719.823. Ia tercatat tidak memiliki debitur.

Total harta Tito tercatat sebesar Rp13.285.460.823. Namun ia memiliki utang sebesar Rp2.993.785.000, sehingga total harta Tito adalah Rp10.291.675.823.

Kontroversi: Antara kelompok LGBT dan FPI

Tito bukanlah seorang jenderal yang mendukung diskriminasi terhadap LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).

Saat menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, Tito mengatakan kaum LGBT adalah warga negara yang juga patut dilindungi. “Dalam artian terlindungi dari tindakan kekerasan,” ujarnya.

Menurut Tito, LGBT merupakan permasalahan kompleks yang mencakup aspek sosial, hukum, dan sosiologis yang menimbulkan keuntungan dan kerugian dalam masyarakat. “Tidak hanya kelompok LGBT atau pendukungnya saja yang harus dilindungi, namun pihak yang menentang juga harus diperhatikan dan diakomodasi,” kata Tito.

Namun di sisi lain, Tito diketahui dekat dengan organisasi masyarakat anti LGBT, seperti Front Pembela Islam.

Rappler pernah menyaksikan pidato Tito Karnavian pada acara nonton bareng film G 30S/PKI yang diselenggarakan FPI. Tito disambut jemaah dan ditempatkan di podium utama. Baca lebih lanjut di sini. —Rappler.com

SDY Prize