5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Kepala BNPT Suhardi Alius
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Suhardi terpilih menjadi Kepala BNPT berkat rekomendasi Tito Karnavian yang disampaikan kepada Presiden Jokowi
JAKARTA, Indonesia – Menyusul kepergian Jenderal Polisi Tito Karnavian, posisi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) akan diisi oleh Komjen Pol Suhardi Alius. Terpilihnya Suhardi sebagai Kepala BNPT dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo.
Rencananya Suhardi akan dilantik Presiden di Istana Negara hari ini bersama Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
Berikut hal-hal yang perlu Anda ketahui tentang Suhardi:
Mulai dari Bandung
Pria kelahiran 10 Mei 1962 ini memulai karirnya di Bandung. Setelah lulus dari Akademi Kepolisian pada tahun 1985, Suhardi memulai karir sebagai Pamapta Polres Bandung pada tahun yang sama.
Tahun berikutnya, ia dipromosikan menjadi Wakil Kepala Satuan Sabhara Polrestabes Bandung. Suhardi dipercaya menjadi Kapolres Cimahi pada tahun 1987.
Ia kemudian ditarik dari Bandung dan dipindahkan ke Tapanuli Selatan untuk menjadi Kepala Pusat Komando Pengendalian Operasional (Kapuskodal Ops) di sana.
Dia pertama kali memasuki ibu kota pada tahun 1995, sebagai Guru muda di Pusdiklat Recintel Lemdiklat Polri.
Setelah itu, Suhardi berganti jabatan setiap tahun hingga mendapat pangkat komisaris polisi pada tahun 2004 saat menjadi Kapolres Metro Jakarta Barat.
Aksi di Jakarta
Suhardi kemudian dipanggil kembali ke Mabes Polri pada tahun 2010 sebagai Direktur Tindak Pidana Tertentu. Namun, ia hanya sempat bertugas di Mabes selama setahun, sebelum dimutasi ke Wakapolda Metro Jaya.
Segera ditarik ke poros tengah Kabag Humas Polri selama setahun sebelum menjadi Kapolda Jawa Barat dan Kabareskrim Polri pada tahun yang sama. Baru dua tahun menjabat Kabareskrim Polri, Suhadi dimutasi ke Lemhanas.
Bentrok dengan Budi Gunawan
Kepindahan Suhardi ke Lemhanas disebut-sebut tak lepas dari kontaknya dengan calon Kapolri awal 2015, yakni Budi Gunawan.
Suhardi merupakan orang yang membocorkan informasi penipuan yang dilakukan Budi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Terakhir, KPK menetapkan Budi sebagai tersangka kasus dugaan kepemilikan rekening tidak wajar.
Posisi Suhardi akhirnya digantikan oleh Irjen Budi Waseso yang sebelumnya menjabat Kepala Sekolah Personalia dan Pimpinan (Sespim) Polri. Sementara itu, jabatan Kapolri akhirnya dijabat oleh Jenderal Polisi Badrodin Haiti, sebelum digantikan oleh Tito.
Calon Kapolri?
Bahkan, nama Suhardi sempat masuk dalam daftar calon Kapolri pada awal tahun 2015. Namun, ia segera ‘dibersihkan’ karena dituduh melakukan makar.
Namun Edi Hasibuan yang saat itu masih menjadi anggota Kompolnas membantahnya. Edi mengatakan, nama Suhardi dihilangkan karena usianya yang masih terlalu muda.
Kami fokus mencari calon Kapolri angkatan 1982-1984. “Untuk Suhardi angkatan 1985,” ujarnya.
Rekomendasi Tito
Salah satu alasan Presiden Joko Widodo memilih Suhardi adalah rekomendasi Tito untuk merekomendasikan namanya. Mantan Anggota Komisi Kepolisian Nasional Edi Hasibuan mengatakan Tito lah yang menunjuk pimpinan baru lembaga yang menangani teroris itu. “Ini usulan Kapolri dan Presiden menyetujuinya,” ujarnya usai bertemu Kapolri.
Menurutnya, kerja sama yang baik antara kedua lembaga ini diperlukan untuk menangani terorisme. – Rappler.com