• February 8, 2026

5 Masalah yang Akan Diprediksi oleh Jokowi dan Duterte


JAKARTA, Indonesia – Presiden Filipina Rodrigo Duterte akan melakukan kunjungan kenegaraan bilateral pertamanya ke luar negeri sebagai pemimpin negara. Dia dijadwalkan tiba di Jakarta pekan ini.

Indonesia yang berpenduduk 250 juta jiwa merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia. Selain itu, mayoritas penduduknya beragama Islam menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbesar di dunia.

Dilihat dari sejarah kedua negara, baik Indonesia maupun Filipina memiliki hubungan yang sangat baik. Maka tak heran jika Duterte pertama kali memilih Indonesia untuk berkunjung saat ia terpilih menjadi presiden.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Duterte memiliki beberapa masalah serupa yang harus diatasi, termasuk pemberantasan perdagangan narkoba. Rappler berbicara dengan Dewi Fortuna Anwar, yang menjabat sebagai direktur program dan penelitian di Habibie Center, tentang isu-isu yang kemungkinan besar akan dibahas oleh kedua pemimpin ketika mereka bertemu di Jakarta.

Dewi kini juga menjabat sebagai staf ahli politik Wakil Presiden. Berikut adalah 5 topik yang kemungkinan akan dibahas oleh kedua pemimpin:

1. WNI yang disandera Abu Sayyaf

Saat ini, masih terdapat 10 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir, tingkat penculikan di wilayah laut antara Indonesia dan Filipina sering terjadi sehingga menimbulkan kekhawatiran yang mendalam.

Pemerintah Indonesia menuntut Filipina melakukan upaya lebih konkrit untuk membebaskan 10 warganya.

“Saya pikir sangat penting untuk mendapatkan indikasi jelas mengenai apa yang telah dilakukan dalam waktu singkat untuk menjamin pembebasan mereka,” kata Dewi.

Selain itu, lanjut Dewi, keluarga mereka juga sangat memperhatikan keselamatan orang yang mereka cintai.

“Ini persoalan yang menjadi sorotan masyarakat Indonesia dan jelas pemerintah masih mendapat tekanan untuk melepaskan mereka,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jika Filipina mengklaim bisa membebaskan para sandera melalui upaya mereka sendiri, maka penting bagi kedua pemimpin untuk mendiskusikan langkah apa yang diambil pemerintah Duterte untuk menjamin keselamatan para sandera. Sebab jika tentara terus menyerang wilayah Abu Sayyaf, keselamatan para sandera bisa terancam.

Alternatif lain yang bisa digunakan pemerintah Filipina adalah menerima tawaran Indonesia untuk mengirimkan pasukan keamanan guna menyelamatkan para sandera. Namun, rincian opsi-opsi ini harus disampaikan dengan jelas kepada Filipina. Indonesia sejak awal menyatakan siap membantu jika Filipina setuju.

“Kami sadar, menghormati dan peka bahwa Filipina adalah negara berdaulat. Oleh karena itu, penting adanya permintaan resmi dari pemerintah Filipina sebelum Indonesia terlibat dalam upaya penyelamatan, kata Dewi.

2. Keamanan maritim di Laut Sulu

Mengenai penyanderaan yang berulang kali, Dewi mengatakan kedua pemimpin harus berdialog tentang cara terbaik menerapkan opsi patroli di Laut Sulu, tempat Abu Sayyaf sering beroperasi.

“Bahkan, setelah dilakukan pertemuan trilateral yang melibatkan Filipina, Indonesia, dan Malaysia serta rapat koordinasi patroli, Abu Sayyaf terus beraksi. Bahkan, mereka mulai menyasar warga negara Indonesia, kata Dewi.

Hal ini, menurutnya, tidak bisa diterima. Kedua pemimpin harus memastikan bahwa tindakan pencegahan yang diambil efektif.

“Upaya yang lebih kuat harus dilakukan oleh Filipina untuk membasmi Abu Sayyaf dan menjamin keamanan maritim di wilayah tersebut,” katanya.

Tahun ini, sebanyak 24 awak kapal asal Indonesia dan beberapa awak kapal asal Malaysia diculik saat berlayar di kawasan tersebut. Pada bulan Mei, Indonesia, Malaysia dan Filipina sepakat untuk melakukan patroli terkoordinasi di wilayah perairan agar tidak menghalangi Abu Sayyaf.

Duterte memerintahkan militer untuk menghancurkan kelompok Abu Sayyaf dan mengumumkan keadaan darurat nasional setelah ledakan di Kota Davao, Pulau Mindanao.

3. Perang melawan narkoba dan Mary Jane

PERANG TERHADAP NARKOBA.  Baik Presiden Joko

Baik Jokowi maupun Duterte sama-sama mengklaim negaranya berada dalam kondisi darurat perang melawan narkoba. Namun pendekatan yang dipilih kedua pemimpin untuk mengatasi masalah ini menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk dunia internasional.

Kedua pemimpin juga dilaporkan akan membahas cara terbaik untuk menghentikan perdagangan narkoba.

Jokowi telah dikritik oleh masyarakat karena menghidupkan kembali hukuman mati bagi narapidana narkoba, sementara Duterte telah dikritik karena meningkatnya pembunuhan di luar proses hukum di Filipina. Menurut banyak pihak, pembunuhan itu terkait dengan kampanyenya melawan peredaran narkoba.

Namun di sisi lain, satu orang warga negara Filipina kini divonis hukuman mati karena terlibat kasus narkoba. Untuk itu, Duerte mengaku akan berbicara dengan Jokowi terkait kasus Mary Jane Veloso. Mantan Wali Kota Davao itu akan meminta maaf terhadap perempuan berusia 31 tahun tersebut.

“Saya hanya akan meminta kepada Widodo dengan cara yang paling sopan dan penuh hormat. Dan jika permohonan itu tidak didengarkan, saya siap menerimanya. Alasannya sederhana, saya tidak ingin mempertanyakan sistem hukum di Indonesia, kata Duterte sebelum berangkat ke Laos menghadiri KTT ASEAN.

4. Penegakan hukum di Laut Cina Selatan

KEGIATAN DAUR ULANG.  Kegiatan reklamasi diduga dilakukan China di wilayah sengketa di Laut Cina Selatan (LCS).  Foto oleh Ritchie Tongo/Kolam Renang/EPA

Kedua pemimpin diperkirakan juga akan membahas sikap Tiongkok yang semakin agresif di kawasan Asia Tenggara. China mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, bahkan hingga pesisir Filipina dan negara-negara lain di ASEAN. Dari sisi perdagangan, kawasan ini sangat strategis karena dijadikan jalur perdagangan.

China juga mengabaikan hasil pengadilan internasional yang dikeluarkan di Den Haag pada Juli lalu. Pengadilan internasional menyatakan klaim Tiongkok di kawasan LCS tidak sesuai dengan aturan hukum internasional. Membangun pulau buatan di wilayah perairan juga dianggap ilegal.

Dewi memperkirakan kedua pemimpin akan membahas bagaimana Indonesia, Filipina, dan negara ASEAN lainnya dapat memperkuat kerja sama serta pilar keamanan dan politik ASEAN.

“Kita semua sangat prihatin dengan perpecahan di dalam ASEAN yang dapat menimbulkan pertengkaran antar negara anggota ASEAN atau dimanfaatkan oleh negara lain yang lebih besar untuk kepentingannya,” kata Dewi tentang kegagalan para pemimpin ASEAN mengeluarkan pernyataan bersama tentang LCS edisi Juli lalu.

Empat anggota ASEAN yakni Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei masing-masing mengklaim wilayah di Laut Cina Selatan. Sebagian besar anggota ASEAN ingin terus memberikan tekanan kepada China agar negara Tirai Bambu itu menghentikan pembangunan di kawasan. Namun, Tiongkok sering dianggap memecah ASEAN dengan menawarkan bantuan keuangan dan perdagangan ke Laos dan Kamboja.

Dewi juga mengatakan penting bagi negara-negara ASEAN untuk mematuhi hukum internasional dan mendorong pembentukan Good Code of Conduct (COC) di kawasan Laut Cina Selatan.

“Kami tidak memihak siapa pun yang mengklaim wilayah di sana. “Terserah negara penggugat, tapi kami sebagai negara kepulauan prihatin dengan apa yang terjadi di negara tetangga dan bagaimana dampaknya terhadap Indonesia dan ASEAN,” tegasnya.

5. Kerjasama ekonomi

KERJASAMA ASEAN.  Kerja sama ekonomi di kawasan ASEAN diyakini menjadi salah satu topik yang akan dibicarakan antara Jokowi dan Duterte.  Foto oleh Hoang Dinh Nam/AFP

Kedua negara saat ini sedang mengembangkan dan meningkatkan perekonomiannya masing-masing. Apalagi, Komunitas ASEAN resmi dimulai pada awal tahun.

Dewi menilai topik ini tidak hanya perlu dibahas pada pertemuan ASEAN saja, tapi juga pada tingkat bilateral. Sebab keberhasilan komunitas ASEAN akan melibatkan pemerintahan seluruh negara anggota di tingkat yang berbeda-beda.

“Indonesia dan Filipina harus menghidupkan kembali kerja sama di Pulau Sulawesi, Kalimantan, dan Filipina bagian selatan,” kata Dewi.

Ia mengatakan konektivitas di kawasan tersebut perlu mendapat perhatian khusus karena sejalan dengan prioritas pembangunan ekonomi kedua negara.

“Ini sejalan dengan prioritas sosial ekonomi dan politik. Memang salah satu kelemahan Filipina adalah letaknya yang berada di wilayah selatan. “Jika ada kerja sama yang lebih baik di wilayah perbatasan, maka kesejahteraan warga di wilayah tersebut akan meningkat,” jelas Dewi.

Keamanan di kawasan juga akan lebih koheren.

Perekonomian Filipina tumbuh sebesar 7 persen pada kuartal II tahun 2016. Fakta ini menjadikan Filipina sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di kawasan ASEAN. Kini para investor sedang mempertimbangkan apakah tim ekonomi pilihan Duterte dapat melanjutkan pencapaian tersebut.

Pemerintahan Duterte berjanji akan meningkatkan anggaran di sektor infrastruktur. Hal ini juga menjadi indikasi meningkatnya utang pemerintah.

Sementara perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,18 persen, jauh lebih tinggi dari perkiraan. Jokowi saat ini fokus pada perbaikan pembangunan infrastruktur, penyederhanaan regulasi dan birokrasi. – dengan pelaporan oleh Santi Dewi/AFP/Rappler.com; Foto oleh Roslan Rahman/AFP

Pengeluaran HK