5 Pah bersaudara, penjaga sasandoe Oebelo
keren989
- 0
“Oh… jadi namanya sasandu ya? Bukankah itu Sasando?” tanyaku.
Jeagril Pah membenarkan.
Selama ini saya mengira nama alat musiknya adalah sasando, dengan huruf “o”, bukan “u”. Citra alat musik asli Pulau Rote ini tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, kecuali mereka yang lahir pada akhir tahun 1990-an atau setelahnya.
Pada uang kertas Rp 5.000 tahun 1992 terdapat gambar Sasandu Rote dan Danau Kelimutu. Namun, di catatan itu tertulis “sasando hafalan”, jadi tak heran selama ini saya salah mengucapkannya.
Jika saya tidak bertemu dengan Jeagril Putra Jeremias, saya mungkin tidak akan pernah tahu cara bermain sasandu. Anda tidak akan pernah tahu bagaimana sasandu bisa menghasilkan melodi dan ritme yang enak didengar.
Sore itu di sebuah mall di Hong Kong, Jeagril memainkan lagu-lagu Indonesia, Barat, dan China yang membuat penonton terpesona. Ada yang pendek, ada pula yang panjang.
Saya ingat, salah satu remaja mengagumi sasandu yang terkesan dinamis seperti piano. Remaja itu mengibaratkan sasandu dengan kecapi berbentuk lingkaran.
Jak, sapaan akrab Jeagril, sudah mengenal Sasandu sejak duduk di bangku sekolah dasar. Namun dia baru benar-benar mahir memainkannya pada usia 20 tahun. Artinya, pria asal Oebelo, Kupang, Nusa Tenggara Timur ini, sudah 15 tahun menguasai permainan sasandu.
Ayahnya, Jeremias Aogust Pah, lah yang mengajari Jak dan adik-adiknya bermain sasandu. Benar sekali, Jak dan saudara-saudaranya.
Jika Anda penyuka bulutangkis pastinya mengenal marga Mainaky yang berasal dari Ternate. Richard, Rexy, Rionny, Karel dan Marlev adalah lima putra Rudolf Mainaky yang semuanya bermain bulu tangkis. Yang paling tenar tentu saja Rexy berkat medali emas Olimpiade Atalanta tahun 1996. Hal serupa juga terjadi pada keluarga Pah. Jeagril, Berto, Djitron, John dan Ivan Pah semuanya piawai memainkan sasandu.
Diakui Rexy, ayahnya mengajarinya bermain bulu tangkis dengan giat. Padahal Rexy lebih menyukai sepak bola dibandingkan bulutangkis. Jika Anda menebak Jeremias Pah memiliki pemikiran yang sama dengan Rudolf Mainaky, Anda tidak salah sama sekali.
“Setiap hari kita diharapkan berlatih sasandu. “Pada dasarnya setiap hari harus mengadakan sasandu, meski hanya satu jam,” kata Direktur Pendidikan Nasional John Pah yang biasa disapa Exel.
Kelima bersaudara itu sering berlatih bersama. Di sana Jeremias sedang menonton dengan tongkat di tangannya. Sikap mengintimidasi ini kemudian diapresiasi oleh Pah bersaudara.
“Sekarang aku mengerti kenapa ayahku seperti itu. “Kalau dulu tidak seperti ini, tidak mungkin saya bisa berada di sini,” kata Exel bersyukur atas didikan ketat ayahnya.
Saat itu saya dan Exel sedang berada di Osaka, Jepang. Kami berdua mengunjungi Stadion Koshien. Bagi remaja Jepang, stadion ini sangat sakral. Di sanalah diadakan kejuaraan baseball tingkat SMA tingkat nasional. Merupakan hal yang umum untuk membaca resolusi anak-anak SMA seperti, “Ayo pergi ke Koshien!”
Sasandu mengajak Jak dan keempat adiknya berkeliling dunia. Sebelum berangkat ke Jepang, Exel sudah terlebih dahulu singgah di Paris. Begitu pula Jak yang sudah memiliki visa Schengen di paspornya.
“Bagi kami di Oebelo, hampir tidak ada orang yang berpikir untuk bepergian keliling dunia. Jangan khawatir dengan hal seperti itu, tidak banyak orang yang mempunyai mimpi seperti itu untuk pergi ke Jakarta,” kata Exel.
Sasandu yang dimainkan oleh Pah bersaudara ini telah mengalami banyak perkembangan. Alat musik yang mereka pegang memiliki 32 senar. Sasandu tradisional hanya mempunyai 10 senar. Para seniman sasandu merasa terbatas dalam memainkan nada-nada dan berinovasi dengan menambahkan senar. Dari 10 menjadi 26, lalu 28 dan sekarang 32.
Gambar sasandu pada uang kertas Rp 5.000 edisi tahun 1992 terdapat 32 dawai. “Itu buatan ayahku,” kata Jak.
Mewarisi keahlian Jeremias, Jak pun punya inovasi. Ia membuat sasandu senar 48 dan mendaftarkan hak kekayaan intelektual (HAKI) miliknya ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Hanya saja dia belum mau mengeluarkannya sampai urusan HKI selesai.
Dan karena penemunya sendiri, hingga saat ini hanya Jak yang bisa memainkan sasandu 48 senar. Bahkan adik-adiknya pun tidak. Namun bukan berarti mereka tidak bersatu.
Exel, 26 tahun, mengaku sangat kompak dengan keempat saudaranya. Jika ada tawaran bermain yang tidak dapat dipenuhi, maka segera tawarkan kepada guru lain. Di Osaka, seharusnya Jak yang bermain, namun karena pembatasan visa, Exel akhirnya hengkang.
Kelima Mainaky tersebut masih berkecimpung di dunia bulu tangkis. Rexy, Richard, dan Marlev sama-sama melatih Timnas Cipayung. Rionny dan Karel menjadi pelatih di klub Jepang. Generasi selanjutnya juga menekuni bulutangkis, yaitu Natalia Mainaky (putra Richard), Marvin dan Mario Mainaky (putra Marinus, kakak Richard), serta Lyanny Mainaky (putri Rionny)
Saya bertanya kepada Exel apakah dia mau mengajari putranya cara bermain sasandu.
“Ya, tentu saja,” jawabnya tegas. —Rappler.com