• March 16, 2026

5 sosok inspiratif di tahun 2016

JAKARTA, Indonesia — Setiap orang pernah mengalami keadaan sulit. Wajar jika kita mengeluh atas apa yang kita alami. Namun ketika kita melihat sekeliling, kita seolah diingatkan untuk mensyukuri hidup yang telah diberikan dan cobaan yang kita hadapi.

Media sosial juga bisa menjadi sumber inspirasi yang tidak terduga. Tokoh-tokoh berikut ini memuji dunia maya atas tekadnya menjalani hidup dan keinginannya untuk mengubah lingkungan menjadi lebih baik.

Siapa mereka?

Bripka Seladi, petugas polisi yang sedang mandi

Nama Bripka Seladi mulai tenar sekitar pertengahan tahun 2016. Ia menolak uang sebagai ucapan “terima kasih” dari warga masyarakat yang ia layani. Bahkan, jika Seladi mau, ia bisa menambah penghasilan karena pada tahun 2001 ia ditugaskan sebagai petugas uji praktek kendaraan roda dua dan roda empat di bagian Surat Izin Mengemudi.

Meski demikian, bukan berarti ia tidak membutuhkan uang tambahan, pasalnya Seladi mempunyai pekerjaan sampingan sebagai pemulung. Yang lebih mengejutkan lagi, sejak tahun 2004 ia bekerja paruh waktu sebagai pemulung. Tentu saja saat sedang memulung, Seladi melepas baju dan lencana polisi yang ada di rumahnya.

“Saya tidak mau menyalahgunakan jabatan saya. Pos ini merupakan amanah yang perlu dilindungi. Bahkan teman-teman polisi pun tidak mengenali saya ketika saya memungut sampah di jalan,” ujarnya.

Setidaknya Seladi bisa mendapatkan penghasilan Rp 50 ribu per hari dengan memilah sampah. Ada tiga anak, istri, serta beberapa teman lainnya yang mengikuti seleksi di tempat yang sama dan mendapatkan penghasilan tanpa menyetor ke Seladi.

Seladi bahkan dianggap menghina profesi polisi karena menekuni pekerjaan sampingan yang tidak biasa sebagai petugas hukum.

Terakhir, ayah tiga anak ini mendapat penghargaan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai polisi teladan. Baca kisah Bripka Seladi selengkapnya di sini.

Rastoni ‘cangkul manusia’

Meski sudah lanjut usia, Rastoni masih harus membawa cangkul dan pengki lalu berkeliling kawasan Bintaro dengan harapan ada yang memanfaatkan jasanya. Dia menawarkan layanan mencangkul halaman, menarik rumput, dan membersihkan saluran pembuangan.

Selama 7 tahun, Rastoni menyewa toko di belakang Masjid Al-Aqsa, dekat pintu masuk kompleks Permata Bintaro. Karena kondisi rumah kontrakan yang memprihatinkan, harga sewanya hanya Rp 10 ribu per minggu.

Sebelum datang ke Jakarta, Rastoni setiap hari bekerja mencangkul sawah di Brebes. Namun seiring bertambahnya usia, semakin sulit untuk melanjutkan pekerjaan ini. “Bekerja di kota itu sulit,” katanya.

Namun, mencari nafkah di Jakarta juga tidak mudah. Menurutnya, setiap hari ia berjalan cukup jauh untuk mencari pekerjaan, bahkan sampai Pamulang dan Ciputat.

Terkadang seminggu bisa berlalu tanpa menghasilkan uang. Nasib Pak Rastoni mulai membaik setelah sempat bertemu dengan seorang wanita bernama Dewi Rachmayani pada September lalu.

Dewi pun menawarkan pekerjaan mencabut rumput di halaman rumahnya. Tak berhenti sampai disitu, Dewi yang tampak terkesan dengan pertemuannya dengan Rastoni membuat postingan di Facebook tentang pengalamannya yang akhirnya menjadi viral. Sejak itu, kekayaan Rastoni semakin meningkat.

Baca cerita lengkap Rastoni di sini.

Nasrul, fotografer jalanan

VIRUS. Pak Nasrul, seorang fotografer traveling yang kisahnya viral di media sosial. Ia biasa nongkrong di kawasan Kuningan. Foto oleh Nadia Vetta Hamid/Rappler

Tahun 2016 bukan kali pertama kisah Nasrul, seorang fotografer keliling menjadi viral. Kisahnya sebagai fotografer jalanan pertama kali diangkat oleh netizen pada tahun 2014 dan 2015.

Berasal dari Gunung Merah Putih, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Nasrul sudah menetap di Jakarta sejak 1973. Ia mengaku bekerja di sektor perminyakan bersama suku Sakai, salah satu masyarakat terpencil di Provinsi Riau, hingga akhirnya berpindah-pindah sebelum menetap di ibu kota.

Nasrul mengaku tidak langsung menjadi fotografer setelah bekerja di Riau, bahkan ia tidak punya pekerjaan di Jakarta.

Apakah Nasrul menyukai pekerjaannya sebagai fotografer? Ia mengaku menyukai fotografi, namun “Tidak ada cara lain. Tidak ada cara lain untuk hidup. Itu saja yang mudah.”

Dengan tarif yang cukup terjangkau – Rp 20.000 untuk satu foto – Nasrul bisa melanjutkan kesehariannya. Foto baru dapat diambil setelah lima hingga enam hari.

Kini ia tinggal di kawasan Pasar Rumput, Manggarai, Jakarta Timur. Setiap hari dia naik bus Kopaja untuk mencapai Kuningan. Ia bercerita, kini ia tinggal sendiri meski sudah memiliki seorang anak.

Baca cerita lengkap Nasrul di sini.

‘Transportasi Perpustakaan’ karya Elis Ratna dan Muhammad Pian Sopian

TRANSPORTASI PERPUSTAKAAN. Elis Ratna dan Muhammad Pian Sopian menggagas perpustakaan mini di angkutan umum yang dikelola Pian. Foto dari Facebook Elis Ratna

Kepedulian pasangan ini terhadap pendidikan patut diacungi jempol. Elis Ratna Suminar adalah pustakawan SDN Cisalak, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung. Dari karyanya ia terinspirasi untuk menjalankan perpustakaan keliling dengan sepeda motor dari kota ke kota.

Kemudian suaminya, Muhammad Pian Sopian, ikut ambil bagian. Mereka kemudian mendirikan ‘perpustakaan angkutan umum’, sebuah perpustakaan mini di dalam bus angkutan umum Soreang-Leuwi Panjang yang dioperasikan oleh Pian. Perpustakaan mini berbentuk rak kecil yang berisi buku-buku, mulai dari novel, fiksi, fiksi ilmiah, dan lain-lain. Buku-buku ini gratis untuk dibaca penumpang.

Menurut Elis, buku bacaan yang ada di ‘perpustakaan angkot’ tersebut merupakan buku koleksi keduanya, namun ada juga yang dipinjamnya dari SDN Cisalak.

“Daripada mengeluhkan kemacetan di sekitar Jalan Raya Kopo Leuwi yang panjang, yuk naik angkutan umum, sambil baca buku gratis,” tulis Elis. “Super thanks buat suamiku yang sudah bekerja sama mewujudkan mimpi itu. Demi Bandung Melek,” sambungnya.

Status Elis pun langsung viral di media sosial. Banyak warganet yang memuji kepedulian pasangan ini dalam menumbuhkan minat membaca warga Kabupaten Bandung. Lagi Di Sini.

Status Facebook Bijaksana Asa Firda Inayah

MENUNJUKKAN. Asa Firda Inayah, sosok di balik akun Facebook Afi Nihaya Faradisa mengunggah status yang menggugah banyak orang. Foto dari Facebook Afi Nihaya Faradisa

Asa Firda Inayah mungkin masih muda, masih 16 tahun. Namun, statusnya di Facebook mencerminkan kebijaksanaan yang melampaui remaja seusianya.

Asa, begitu ia kerap disapa, merupakan sosok di balik akun Facebook Afi Nihaya Faradisa. Ia menulis tentang orang-orang di media sosial yang saling membenci karena berbeda pendapat. Hingga artikel ini ditulis, status tersebut telah dibagikan lebih dari 33 ribu kali.

Asa sekarang duduk di dekatnya kelas XII IPA 3, SMAN 1 Gambiran, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi. Latar belakang keluarganya bukan seorang penulis: ayahnya berjualan kue di sekolah setiap hari, dan ibunya sekarang hanya bisa tinggal di rumah karena glaukoma yang dideritanya.

Ide untuk menulis status ini muncul setelah ia merasa prihatin dengan banyaknya masyarakat di media sosial yang mencari dukungan dengan menjatuhkan lawannya. Dalam statusnya dia juga mengatakan bahwa dia dibunuh telepon genggamselama 10 hari, menyamakan apa yang dikonsumsi perangkat dengan “makanan untuk roh”.

“Apa yang kita masukkan ke dalam pikiran, jiwa, dan hati kita selama ini menentukan siapa diri kita,” tulisnya. Baca cerita lengkap Asa Di Sini. —Rappler.com

lagu togel