Diperiksa selama enam jam, begitulah kata Roman Baswedan
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Penyidik Polri belum menunjukkan sketsa terduga pelaku kepada Novel
JAKARTA, Indonesia – Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan akhirnya kembali diperiksa penyidik kepolisian di Singapura pada Senin, 14 Agustus. Proses pemeriksaan kali ini berlangsung di kantor KBRI yang masuk wilayah Indonesia.
Ini salah satu syarat yang harus dipenuhi jika ingin meminta informasi kepada Novel. Menurut anggota tim advokasi Novel, Hariz Azhar, proses pemeriksaan dimulai pukul 11.00 hingga 16.00 waktu setempat. Lantas apa kata penyidik senior lembaga antirasuah itu?
Ada dua hal besar yang disampaikan Novel kepada kedua penyidik Polri tersebut, yakni kekecewaannya terhadap cara polisi mengusut kasus irigasi asam dan kronologis kejadian teroris 11 April itu.
“Polisi memang sempat mengarahkan dan menanyakan pertanyaan di luar peristiwa 11 April. Namun, Roman tak mau menjawab. “Selain itu, Novel hanya ingin meneruskannya ke TGPF (Tim Pencari Fakta Gabungan),” kata Hariz yang dihubungi Rappler melalui telepon malam tadi.
Padahal, menurut Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, pembentukan TGPF dinilai tidak perlu. Sebab, kini kerja sama Polri dan KPK semakin dekat mengungkap eksekutor dan dalang penyerangan terhadap Roman. Namun, Novel mengaku apatis kasus tersebut akan terungkap jika polisi masih menggunakan cara-cara lama dalam menanganinya.
Bahkan, Tito baru mempublikasikan sketsa salah satu terduga pelaku setelah 100 hari. Namun Hariz mengatakan sketsa yang diperlihatkan Tito tidak diperlihatkan kepada Novel.
“Tidak ada sketsa (ditampilkan),” ujarnya.
Sementara, kekecewaan Novel adalah soal tidak profesionalnya Polri dalam mengusut kasus penyerangan 11 April itu. Setidaknya ada lima hal yang menunjuk pada hal tersebut, yaitu:
- saksi kunci sebenarnya telah diungkapkan oleh polisi. Padahal, polisi harus melindungi mereka agar bisa memberikan informasi dengan baik dan aman
- penyidik terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan dan mempublikasikan kesimpulan terkait terduga pelaku ke publik. Sehingga menimbulkan kesan ingin menutupi pihak-pihak tertentu.
- tidak ditemukan sidik jari pada cangkir yang digunakan untuk menuangkan air sadah. Faktanya, ini adalah bukti penting.
- Penyidik polisi justru menjaga jarak dengan keluarganya dan tidak memberikan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP).
- Barang bukti berupa foto terduga pelaku diberikan ke polisi pada 19 April. Namun tampaknya hal tersebut tidak ditindaklanjuti.
“Padahal yang memberi foto itu adalah anggota Densus 88 Anti Teror. Saya kemudian mengirimkan foto terduga pelaku kepada adik saya untuk ditunjukkan ke berbagai orang di sekitar kejadian. Alhasil, mereka mengenali foto tersebut, kata Novel dalam keterangan tertulisnya.
Jangan menghalangi polisi
Menurut Hariz, Novel tidak banyak memberikan keterangan kepada polisi karena harus menjaga kondisi fisiknya. Ia diminta dokter istirahat cukup sebelum menjalani operasi pada Kamis 17 Agustus.
Namun bagi Hariz, pemeriksaan hari ini menjadi momen penting yang harus ditunjukkan kepada publik, yakni tak ada niat menghalangi proses penyidikan polisi. Ia merasa tidak ada masalah jika ingin dimintai keterangan.
“Untuk mengungkap kasus ini, mohon jangan hanya mengutamakan informasi Novel. Dia menjadi korban. Jadi, jangan terkesan karena dia tidak mau diselidiki dan kasusnya sulit diungkap, kata salah satu calon Komisioner Komnas HAM itu.
Padahal, kata Hariz, barang bukti tersebut sudah dikantongi polisi. Mereka hanya perlu mengembangkannya.
Lalu apakah polisi juga menanyakan soal jenderal yang dituding Novel sebagai pelaku utama penyerangan tersebut? Hariz mengatakan, lebih tepat persoalan itu diajukan ke Polri.
“Jangan lakukan itu pada novel. “Lebih baik tanyakan pada polisi,” ujarnya. – Rappler.com
BACA JUGA: