• April 29, 2026

TEDxJakarta ‘Niyata’ berani mengeksplorasi diri demi tujuan hidup

Jakarta, Indonesia – “Pikiran yang hebat berbicara tentang ide. Bukan sembarang ide biasa, tapi ide yang layak disebarkan!”

Kurang lebih itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan TEDx, sebuah komunitas yang dikenal di seluruh dunia karena menyelenggarakan pertemuan yang menghadirkan berbagai pembicara dari berbagai latar belakang untuk berbagi. Mulai dari pengalaman bermakna yang mengubah hidup mereka hingga ide-ide cemerlang yang menginspirasi dan layak dibagikan kepada banyak orang.

TEDx sendiri merupakan bagian dari Komunitas TED Internasional yang awalnya diprakarsai oleh Chris Anderson pada tahun 1984. Komunitas ini mengadakan acara dengan format yang sama, yang bertujuan untuk berbagi ide cemerlang seputar Teknologi, Hiburan dan Desain di Silicon Valley, Amerika Serikat.

Pada tahun-tahun berikutnya, TED berkembang menjadi ajang berbagi ide dan gagasan cemerlang tentang apa pun, yang akhirnya menyebar dan diadaptasi oleh banyak negara di dunia. Arti ‘x’ dalam TEDx sendiri adalah ‘Terorganisir secara independen‘, yang berarti setiap negara atau kota dapat menyelenggarakan acara TED masing-masing.

Di Indonesia sendiri, salah satu acara TEDx yang banyak dikenal masyarakat umum adalah TEDxJakarta yang telah menggelar acara TED ke-12 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Jakarta Pusat pada Sabtu, 10 Juni.

(BACA: Update LANGSUNG: TEDxJakarta 12: Niyata)

Topik yang diangkat pada TEDxJakarta ke-12 adalah ‘Niyata’ yang merupakan akar kata Sansekerta dari kata ‘Nyata’ dalam bahasa Indonesia. Topik ini merupakan kelanjutan dari topik TEDxJakarta ke-11 yang diselenggarakan pada tahun 2016 dengan topik ‘Kebetulan‘ atau dalam bahasa Indonesia berarti ‘Ketidakteraturan’.

“TEDxJakarta 12th dibangun berdasarkan pemahaman bahwa di balik kehidupan yang tampak acak dan tidak teratur, terdapat pola dan rangkaian yang nyata. “Dan hari ini kita akan menjajaki arah itu melalui pengalaman dan ide cemerlang yang akan hadir di ruangan ini,” ujar Kartika Anindya, salah satu penggagas TEDxJakarta saat membuka acara.

Topik pembahasan dirangkum dalam 3 sesi pertemuan; Sesi 1: Ni (Di dalam, Di dalam), Nada 2: Atau (Mohon, capai), lalu Sesi 3: Ta (Virgo, pejuang). Ketiga sesi tersebut diisi oleh pembicara dari berbagai latar belakang yang berbagi pemikiran dan idenya sebagai bentuk refleksi atas pengalamannya mencari makna dan tujuan hidup.

Meninggalkan ‘Samsara’, melalui ‘Moksha

Filosofi TEDxJakarta ke-12 dibangun berdasarkan filosofi agama Hindu tentang karma dan kehidupan. Tinggalkan ‘Samsara’ yang berarti belenggu kehidupan duniawi, melalui ‘Moksa’ yang dalam kepercayaan agama Hindu diyakini sebagai upaya menemukan tujuan hidup yang sebenarnya.

Setidaknya pada acara Sabtu lalu, ada delapan pembicara dari berbagai bidang yang berbagi pengalamannya mengeksplorasi diri, keluar dari zona nyaman, menemukan sesuatu yang disukai. gairah dan tujuan hidup mereka.

Lihat saja Firly Savitri, seorang dokter dan dosen di sebuah universitas swasta, yang berani meninggalkan kenyamanan hidupnya secara ekonomi untuk mendirikan Ilmuwan Muda Indonesia (IMI), sebuah komunitas yang berupaya untuk menyebarkan betapa menyenangkannya mengajarkan sains kepada orang lain. anak sekolah dasar sebagai antitesis terhadap anggapan bahwa belajar ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan tidak berguna, serta sebagai bentuk “perlawanan” terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang terabaikan di Indonesia.

Faye Simanjuntak, seorang gadis muda berhati mulia yang tergerak hatinya, mengorbankan kenyamanan masa kecilnya untuk melawan maraknya kasus perdagangan anak di Indonesia melalui lembaga swadaya masyarakat RumahFaye yang bekerja untuk menangani anak-anak, untuk menyelamatkan dan merehabilitasi. korban perdagangan manusia yang ia dirikan saat ia masih remaja, 12 tahun.

Ada pula Bunda Iffet, manajer grup rock SLANK yang sudah 20 tahun lebih berkisah tentang suka dan dukanya dan konsisten mendukung grup rock ternama tanah air tersebut dari awal hingga kesuksesannya saat ini.

Cerita dan ide brilian lainnya juga datang dari pembicara pada sesi kedua. Ada Anindya Krisna yang gigih sejak usia 14 tahun dan memilih belajar menjadi penari balet profesional dan 20 tahun kemudian berhasil mewujudkan mimpinya.

Dian Ara yang berani melawan kehidupan, dengan segala keterbatasan sumber daya yang dimilikinya, demi mengejar cita-citanya menjadi manusia video/permainan papan desainer. Lain halnya dengan Mirza Kusrini, dokter sekaligus dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) yang mengabdikan hidupnya menjelajahi alam liar untuk meneliti reptil dan amfibi, serta mengkampanyekan gerakan konservasi spesies yang terancam di Indonesia.

Tak kalah menariknya dengan para pembicara pada sesi sebelumnya, sesi ketiga juga diisi dengan cerita pengalaman dan ide menarik dari Adi Utarini, mantan dekan Fakultas Kedokteran UGM yang juga Project Leader Eliminate Dengue Project (VGP) Yogyakarta .yang mengembangkan metode untuk mengurangi kasus demam berdarah dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya: Membiakkan nyamuk dengan bakteri.

Terakhir ada Intan Suci Nurhati, sosoknya Ilmuwan iklimyang dengan segala prestasi dan kestabilan yang diraihnya di luar negeri memutuskan untuk kembali ke tanah air untuk berkarya dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk Indonesia melalui karang.

Semua pembicara dapat menyampaikan pengalaman yang berbeda, cerita yang berbeda dan bidang yang berbeda. Namun kedelapan pembicara tersebut memiliki persamaan yaitu berani menantang kehidupan dan keluar dari zona nyaman, gigih dalam bekerja, serta tidak sungkan berbagi pengalaman dan ide menarik. Tentunya jika melihat antusias dan reaksi peserta di penghujung acara terlihat puas dan terinspirasi.

Animo yang tidak pernah surut

Hingga ke-12 kalinya TEDxJakarta menggelar acara ini, animo pengunjung yang ingin menghadiri acara tersebut tidak pernah berkurang. Tak kurang dari 500 peserta yang hadir dan seluruh kursi di GKJ terisi penuh menjadi bukti bahwa acara ini tak pernah sepi peminatnya. Faktanya, peserta yang hadir merupakan hasil algoritma sistem seleksi yang secara acak memilih ribuan peserta yang mendaftar.

Reaksi pengunjung media sosial juga serupa. Banyak pengunjung yang mengaku puas dan senang bisa mengikuti acara selama 8 jam ini. Seperti Gita Swasti, seorang mahasiswi yang rela mengorbankan waktu liburannya untuk menghadiri acara ini, atau Dina Puspita Sari yang senang karena tidak hanya bisa mendengarkan narasumber yang menginspirasi, tetapi juga karena acara dan kesempatannya seru. untuk bersosialisasi dengan orang baru.

Ini juga menjadi bukti bahwa TEDxJakarta telah membuktikan bahwa mereka mampu menyatukan sesuatu peristiwa yang sangat diminati dan dinanti-nantikan orang setiap tahunnya. —Rappler.com

Data Hongkong