Meski bakteri antraks banyak ditemukan di Yogyakarta, namun ternak sapi masih aman untuk diperjualbelikan
keren989
- 0
Dinas Kesehatan Yogyakarta menyebutkan, hanya ada satu pasien lansia yang terkonfirmasi mengidap penyakit antraks dan berasal dari Kulonprogo. Sementara itu, pasien anak di RSUP dr. Sardjito tidak mati karena bakteri antraks.
YOGYAKARTA, Indonesia – Munculnya bakteri antraks di Yogyakarta membuat masyarakat was-was. Bakteri tersebut ditemukan pada tubuh pasien asal Kabupaten Kulonprogo.
Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta menyebutkan bakteri antraks ditemukan pada salah satu pasien dengan gejala penyakit antraks jenis kulit. Pasien yang diketahui merupakan pria berusia 78 tahun itu meninggal dunia beberapa waktu lalu. Namun Kementerian Kesehatan membantah penyebab kematian pasien tersebut karena tertular bakteri antraks.
“Dia juga menderita diabetes dan tidak ditemukan (bakteri) antraks dalam napasnya. Ada kemungkinan kuman penyakit antraks yaitu Bacillus Anthracis masuk melalui luka tersebut. Namun diagnosis pasti penyebab kematiannya adalah gagal ginjal, kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DI Yogyakarta Pembayun Setyaningastutie kepada Rappler, Senin, 23 Januari.
Pembayun menegaskan, kuman antraks memang terdapat pada tubuh pasien lansia tersebut, namun bukan penyebab utama kematiannya. Ia juga membantah kabar adanya pasien anak asal Kabupaten Sleman yang juga meninggal dunia akibat terpapar penyakit antraks. Pasien anak tersebut sempat dirawat di RSUD Sleman, namun kemudian dipindahkan ke RSUD dr. Sardjito.
“Itu tidak benar (pasien anak-anak terkena penyakit antraks). RS Sardjito tidak menemukan penyakit antraks pada tubuh pasiennya. Tidak ada apa-apa,” katanya.
Bakteri tersebut mulai menyebar pada akhir tahun lalu. Saat itu, puluhan sapi mati pada November 2016 di Kabupaten Kulonprogo. Empat ternak lainnya juga mati pada Januari 2017.
Belakangan diketahui, pasien lansia tersebut dan 15 orang lainnya mungkin pernah melakukan kontak atau memakan daging sapi yang mengandung penyakit antraks.
“Dari puluhan ternak tersebut, satu ekor sapi mati dan dipotong warga pada November lalu. Kuman antraks ditemukan pada daging dan tanah yang digunakan untuk menyembelih sapi. “Hasil ternak lainnya belum keluar,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kulonprogo, Astungkoro.
Penularan penyakit antraks dari hewan ternak ke manusia diduga melalui konsumsi daging sapi yang mengandung kuman antraks dan luka yang diderita warga. Sejauh data yang dimiliki Sekda, belum pernah ada kasus kuman antraks ditularkan melalui udara kemudian masuk melalui pernafasan.
Sebanyak 15 orang penderita antraks kulit dilarikan ke rumah sakit dan diperbolehkan pulang.
Pemerintah setempat juga tengah menyelidiki asal usul sapi milik warga yang positif mengidap penyakit antraks. Temuan ini, kata Astungkoro, baru pertama kali terjadi di Kulonprogo.
“Kami sedang mendalami dari mana asal sapi bapak tersebut, karena kejadian ini baru pertama kali terjadi di Kulonprogo,” ujarnya.
Tidak perlu panik
Meski ada hewan yang positif terjangkit bakteri antraks, Kepala Dinas Kesehatan Pemprov DIY Pembayun Setyaningastutie meminta warga tidak panik. Sejauh ini Pemprov belum menetapkan temuan bakteri antraks sebagai kejadian luar biasa (KLB).
“Untuk menentukan KLB, kita masing-masing punya pedomannya masing-masing. Gubernur DIY belum menetapkannya sebagai KLB sehingga masyarakat tidak perlu panik, ujarnya.
Menurutnya, bakteri antraks dapat menular dari hewan ternak ke manusia melalui makanan, luka, dan udara. Jejak darah dan daging hewan yang mengandung kuman antraks dapat menyebar melalui udara dan ditularkan melalui pernafasan. Namun jumlahnya cukup besar.
Untuk mencegah penyebaran bakteri tersebut, pemerintah setempat melakukan beberapa langkah, antara lain pendirian sejumlah pos kesehatan bagi warga dan hewan ternak. Posko telah didirikan di puskesmas setempat dan di Kecamatan Girimulyo.
Pemerintah provinsi juga mengimbau warga untuk melakukan penyemprotan disinfektan, memberikan vaksin, dan memusnahkan daging hewan tertular yang masih dipelihara warga. Mereka juga mendapat sosialisasi penyediaan pakan dan kebersihan kandang ternak.
Warga juga diminta memeriksa hewan ternaknya jika ditemukan sakit. Saat memasak daging, warga diminta memasak dengan suhu di atas 100 derajat Celcius. Tujuannya agar semua kuman pada daging tersebut mati dan aman dikonsumsi.
Sementara bagi warga yang hendak melakukan jual beli hewan ternak harus dilengkapi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) yang dikeluarkan oleh dokter di Puskesmas tempat hewan ternak tersebut berasal.
“Proses pengurusan SKKH sangat mudah. “Dalam waktu kurang dari satu jam, ternak yang sehat dan aman dikonsumsi, baik untuk diperjualbelikan maupun dijual, pasti mendapat SKKH,” kata Astungkoro. – Rappler.com