• March 1, 2026

Lewat ‘Istirahatkan Kata-kata’, istri Wiji Thukul memenuhi janji Jokowi

SOLO, Indonesia — Mata Dyah Sujirah selalu berkaca-kaca saat membicarakan suaminya, Wiji Thukul. Wanita bernama Sipon itu merasa campur aduk setelah menonton film tersebut Kata Istirahat (Sendirian, kesepian) besutan sineas muda berbakat asal Yogyakarta, Yosep Anggi Noen.

Andai saja itu bukan musikalisasi puisi Bunga dan Dinding Melalui putra bungsunya, Fajar Merah, yang menutup film tersebut, Sipon mungkin tak berdaya. Lagu-lagu Fajar dan bandnya Merah Bercerita lah yang selalu menguatkan hati Sipon untuk hidup tanpa laki-laki.

Entah sudah berapa kali luka lama itu terbuka kembali ketika kenangan akan suaminya yang hilang dibuka kembali dan diceritakan kembali di layar perak. Seperti yang digambarkan dalam film, perasaan Sipon terhadap suaminya sulit dijelaskan ketika Thukul harus meninggalkan dirinya dan kedua anaknya yang masih kecil.

Sipon terjebak dalam dilema, dia tidak ingin suaminya pergi, tapi dia juga tidak ingin suaminya pulang. Dia hanya ingin Thukul tetap hidup.

“Sulit, saya harus menghidupi dua anak kecil. “Tetapi saya tidak ingin suami saya pulang dan ditangkap tentara,” kenang Sipon kepada Rappler, Senin, 23 Januari.

Thukul harus bersembunyi dan berpindah dari kota ke kota karena dia adalah pembelot dari tentara. Puisi-puisi perlawanan dan demonstrasi yang diorganisirnya dipandang oleh penguasa Orde Baru sebagai ancaman serius.

Sipon bertahan di Kampung Kalangan, kawasan padat penduduk di bagian timur Kota Solo yang selalu dimata-matai tentara. Dia bertahan hidup dengan menjahit pakaian dan hutang karena suaminya tidak pernah pulang.

Meski memerankan kembali peristiwa tersebut menggugah emosinya, Sipon melihat ada hal positif di balik kalimat minimal dalam film tersebut. Ia tak lagi diam berteman dengan puisi suaminya. Kini Sipon merasa banyak orang yang peduli dan bersimpati dengan perjuangan Thukul yang selama ini dituding sebagai penyair sayap kiri.

Menurut Sipon, karya Anggi yang dinobatkan sebagai Film Asia Terbaik dan meraih Golden Hanoman Award di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2016, akan membangkitkan ingatan masyarakat akan pembungkaman suara dan penghilangan paksa aktivis prodemokrasi di berakhirnya rezim Orde Baru.

Thukul, penyair tak dikenal yang juga pembela buruh di Solo, menjadi korban kekerasan negara dan hingga kini pihak hutan tak pernah tahu apakah ia masih hidup atau sudah mati.

Sipon yakin filmnya Kata Istirahat Ini akan menjadi catatan sejarah kelam yang bisa diceritakan kepada anak cucu agar kasus serupa tidak terulang lagi di kemudian hari dimana (pejabat) pemerintah menculik dan menghilangkan warganya sendiri.

“Hanya kami yang mengalami hal ini. “Jangan punya Wiji Thukul lagi,” kata Sipon.

Sipon berharap film yang telah diputar dan diputar di beberapa festival film dunia – Locarno, Busan, Hamburg, dan Rotterdam ini – dapat membuka mata dunia terhadap peristiwa pemberangusan kritik.

Lewat film ini, Sipon pun memenuhi janji Presiden Joko “Jokowi” Widodo — yang juga menyukai puisi-puisi Thukul. Mantan Wali Kota Solo itu pernah bersumpah akan mencari dan menemukan Thukul hidup atau mati.

Impian untuk tinggal bersama ayahku yang tidak pernah menjadi kenyataan

Sementara itu, kata putra sulung Sipon, Fitri Nganthi Wani Kata Istirahat sebagai sebuah film dengan keheningan yang penuh makna, menggambarkan bagaimana rezim diktator militer sangat serius dalam membungkam kata-kata, unsur terkecil dari bahasa.

“Ini adalah film tentang perjuangan peradaban. Sejarah akan mencatat. “Pencinta sastra, sejarah, dan aktivis wajib menonton film artistik ini,” kata Wani.

Berbeda dengan Fajar Merah yang masih balita, Wani ditinggalkan oleh Thukul saat ia berusia 8 tahun dan sudah memiliki kenangan lengkap dengan ayahnya. Namanya diberikan oleh ayahnya sendiri yang berarti “kemurnian bergabung dengan keberanian”.

Wani memiliki kenangan indah tentang pelarian ayahnya. Di penghujung Desember 1997, Thukul berhasil mengobati kerinduan anak-anaknya. Wani diajak Sipon sambil menggendong Fajar naik kereta Prambanan Ekspres dari Stasiun Solo menuju Stasiun Tugu.

Betapa bahagianya Wani bisa bertemu ayahnya di Yogyakarta, setelah sekian lama tidak bertemu wajahnya. Wani tak mengerti kenapa ayahnya memenuhi semua keinginannya hari itu, pergi jalan-jalan dan jajan di Malioboro.

“Ayah membeli banyak makanan. ‘Nanti kamu kehabisan uang (Nanti uangnya habis) Pak, kataku, tapi kamu malah tersenyum. “Ayah saya adalah orang terbaik di dunia saat itu, saya dimanja,” kenang Wani.

Ia juga teringat bagaimana Thukul mengajak anak-anak jalan-jalan ke Kaliurang, lereng selatan Merapi, dan bermalam di sana. Ia merasakan bahagianya seorang anak menerima curahan kasih sayang dari seorang ayah.

“Bahkan saat saya mengompol di penginapan, ayah saya tidak memarahi saya,” kata Wani.

Mereka kemudian kembali ke Yogyakarta. Thukul mengantar Sipon ke stasiun Tugu. Betapa terkejutnya Wani saat mengetahui ayahnya hanya berdiri di peron dan membiarkan istri dan anak-anaknya masuk melalui gerbang penumpang.

Wani menangis dan meronta saat kereta mulai melaju ke Solo tanpa ayahnya. Wajah ayahnya tersenyum di luar jendela kereta sambil melambai. Sipon menghentikan Wani yang berlari keluar dan terus berusaha menenangkannya.

Wani tiba-tiba merasa hatinya hancur, setelah dua hari kebahagiaannya bersama ayahnya tercerabut dengan paksa oleh perpisahan lagi. Mimpinya untuk tinggal bersama ayahnya tidak pernah menjadi kenyataan. Dia tidak begitu paham kenapa ayahnya tidak mau pulang bersama keluarganya.

Tumbuh dewasa, Wani mencari tahu dan mengetahui alasan ayahnya meninggalkannya. Ia memahami bahwa ayahnya adalah seorang syahid dalam perjuangan suatu zaman melawan tiran. Dan sejak saat itu, di tengah kerinduan terhadap ayahnya, timbul rasa bangga dan kagum.

Wani pun menggemakan puisi ayahnya bersama Fajar Merah. Dan malam ini, 24 Januari, mereka berencana untuk ‘Puisi Mengamen Kata-kata Istirahat‘ di Taman Ismail Marzuki Jakarta. —Rappler.com

BACA JUGA:

unitogel