• March 29, 2026

Usia 17 tahun, Sugi mengajar muridnya sambil berbaring karena lumpuh

BANYUMAS, Indonesia — Separuh badan Sugiarto (38 tahun), warga Desa Karangbawang, Banyumas, Jawa Tengah, mungkin mati rasa, namun semangatnya dalam mengajar tak pernah padam.

Dua puluh anak berpakaian muslim menyambut kedatangan Bapak. memasuki ruangan Ustadz Sugiarto. Masing-masing bergantian menyambutnya, lalu ditempatkan di sisi tempat tidur.

Keterbatasan ruang membuat anak-anak harus duduk berdekatan. Seketika ruangan sempit itu berubah menjadi ruang kelas.

Sugi, begitu ia biasa disapa, hanya bisa memandangi pupil matanya. Kepalanya sulit digerakkan. Separuh tubuhnya lumpuh total.

Untungnya lidahnya masih normal. Tangannya tetap bisa mengangkat Alquran meski harus menyandarkannya di dada. Sugi memimpin doa untuk memulai pembelajaran yang diikuti murid-muridnya.

Pembelajaran telah dimulai. Ia memperhatikan murid-muridnya bergantian membaca Al-Quran. Jika ada pembacaan yang salah, tugasnya adalah memperbaikinya.

Sugi pun dengan cermat membimbing para pelajar muda yang baru belajar mengeja bahasa Arab. Kegiatan pembelajaran dimulai setiap hari pada pukul 15:00 WIB hingga pukul 18:00 WIB.

Sudah tujuh belas tahun, Sugi istiqamah untuk mengajarkan pelajaran agama kepada anak-anak di desanya sambil terbaring lumpuh. Dia bahkan tidak bisa hanya duduk.

Sugi menyadari sebagian besar tubuhnya telah lumpuh. Meski demikian, ia bersyukur masih ada organ fungsional yang bisa dimanfaatkannya untuk memberi manfaat bagi orang lain.

“Tidak ada alasan untuk tidak berbuat baik dalam kondisi apapun. “Jika aku tidak berbuat apa-apa, hidupku hanya akan sia-sia menunggu kematian,” ucapnya penuh harap.

Bagi Sugi, pendidikan agama penting bagi anak untuk menanamkan moral dan menjauhkannya dari pesta pora.

Ia juga tidak memungut biaya sepeser pun dari orang tua siswa untuk pendidikan anaknya. Sugi rela tak dibayar meski hidupnya penuh kekurangan.

Mengajar dalam kondisi seperti ini tentu tidak mudah. Sugi mengetahuinya sambil sesekali meringis kesakitan.

Sugi pasrah dengan kondisi kesehatannya. Apa yang dia harap dia bisa bertahan istiqamah mengajar sampai akhir hayatnya.

“Satu-satunya harapan saya adalah istiqamah. Saya akan terus belajar sampai Tuhan memanggil saya,” ujarnya.

Ini dimulai dengan sebuah kecelakaan

Sugiarto mulai mengajar sekitar 20 tahun yang lalu sebelum ia mengalami kelumpuhan. Beliau merupakan lulusan salah satu pesantren ternama di Banyumas.

Suatu hari kejadian malang menimpanya. Ia ditabrak bus antarprovinsi di jalan raya saat selesai mengajar mengaji kepada murid-muridnya.

Sugi dirawat di sejumlah rumah sakit selama 40 hari untuk menyembuhkan lukanya. Selama di rumah sakit, pengajaran mengaji di rumah dihentikan sementara. Murid-muridnya menunggu dengan cemas di rumah sambil menunggu ustadz pulang dan kembali mengajar.

Setelah 40 hari dirawat dan tak kunjung membaik, Sugi memutuskan untuk pulang. Apalagi dokter memvonisnya lumpuh total.

Sekembalinya dari rumah sakit, Sugi kembali membuka kelas. Namun situasinya kini telah berubah. Ia terpaksa memindahkan kelas belajar ke dalam ruangan karena tubuhnya tidak bisa bergerak. Dia harus belajar sambil berbaring.

“Selama di rumah sakit, saya memikirkan murid-murid saya, mereka tidak punya siapa-siapa untuk diajar, jadi akhirnya saya pulang,” akunya.

Tasem, ibu Sugiarto, adalah sosok perempuan yang setia mendampingi dan merawat anaknya. Setiap tiga hari sekali ia mengganti perban untuk menutupi luka membusuk di kaki Sugi.

Air mata Tasem mengalir ketika menceritakan situasi memprihatinkan yang dialami putranya. Sejak menderita kelumpuhan 17 tahun lalu, kesehatan Sugi terus menurun. Badannya kurus dan sering sakit-sakitan. Kakinya yang sempat lumpuh justru mengalami luka busuk.

Selain mengobati luka, setiap beberapa hari sekali Sugi dibantu warga sekitar untuk mengangkat jenazah Sugi yang bergeser dari posisi semula.

Tasem ingin anaknya diperiksa kembali di rumah sakit. Selalu ada harapan untuk kesembuhan anaknya. Namun keterbatasan dana memaksanya menyerah. Ia juga tidak memiliki jaminan kesehatan dari pemerintah meski tergolong miskin.

“Saya ingin mengganti hipotek setiap hari. “Tetapi karena uang saya tidak cukup, saya membeli perban di apotek dan menggantinya setiap tiga hari,” kata Tasem.

Di sisi lain, Tasem terharu melihat tekad putranya istiqamah mengajar meski dalam keadaan lumpuh.

Sesuai harapan putranya istiqamah mengajar, ia pun berharap diberi kekuatan untuk itu istiqamah menjaga anaknya, sampai akhir hayatnya.

Jolastri, wali murid Fahru Nurudin (9 tahun), punya alasan tersendiri mempercayakan pendidikan anaknya kepada Sugiarto.

Diakuinya, Sugi adalah guru yang alim dan menguasai ilmu agama. Lebih dari itu, beliau adalah sosok yang ikhlas mendedikasikan waktunya untuk mengajar tanpa meminta uang.

Jolastri, ibu Fahru, juga membawakan makanan untuk guru. Berkat jasa ustad, kata Jolastri, putranya yang sudah tiga tahun belajar bersama Sugi kini bisa lancar membaca Alquran.

Karakter Fahru juga tetap terjaga karena sering mendapat nasehat positif dari gurunya.

“Kami sebenarnya turut prihatin melihat kondisi ustad. “Beliau bersedia mengajar meski sakit,” kata Jolastri.—Rappler.com

SGP Prize