5 gerakan mengumpulkan koin di Indonesia
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Ny. Saeni, pemilik warung makan yang baru-baru ini digerebek Satpol PP Serang, menerima sumbangan lebih dari Rp 265 juta dari masyarakat. Gerakan ini digagas Dwika Putra dan seleb Twitter lainnya sebagai bentuk simpati.
Gerakan penggalangan dana melalui media sosial sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Sebelum Ny. Namun, ada beberapa gerakan serupa yang menimbulkan kegaduhan.
(BACA: Ditutup, Donasi untuk Wanita Pemilik Toko yang Dirampok di Serang Capai Rp 265 Juta)
Yuk, simak penggalangan dana ini:
1. Koin untuk Pritchard
Koin untuk Prita bisa dikatakan sebagai pionir dalam gerakan penggalangan dana. Saat itu, publik bersimpati dengan Prita Mulyasari yang harus membayar denda pencemaran nama baik ke RS Omni Internasional, Tangsel pada 2009.
Gerakan ini juga diikuti sejumlah musisi ternama seperti Slank, Nidji, Ari Lasso, Gigi, Seringai, dan lainnya. Dana dikumpulkan melalui penjualan barang daganganrelawan berkeliling mengumpulkan uang logam, hingga uang kertas yang dikirim dalam bentuk parsel.
Hasilnya, terkumpul Rp 825 juta – empat kali lipat dari denda yang harus dibayar Prita ke RS Omni yakni Rp 204 juta.
Karena RS Omni akhirnya memutuskan menghapus denda, Prita punya rencana menyumbangkan uangnya. “Saya ingin memberikan kepada lembaga atau yayasan yang menunjukkan kepedulian terhadap masalah anak atau kesehatan,” ujarnya.
Di akhir kasus ini, Prita dibebaskan dari segala tuduhan yang diajukan terhadapnya.
2. Koin untuk Bilqis
Setahun setelah Prita, masyarakat kembali bangkit melakukan pengumpulan dana untuk bayi Bilqis Anindya Passa. Putri Dewi Farida dan Donny Ardianta ini membutuhkan dana Rp 1 miliar untuk menjalani operasi transplantasi hati.
Bilqis menderita atresia empedu – suatu kondisi dimana saluran empedu tidak berfungsi. Alhasil, kulit bayi yang semula putih ini berubah menjadi hitam, matanya menguning, dan perutnya membuncit. Fesesnya juga berwarna putih seperti dempul.
Meski sempat tersendat, gerakan ini berhasil meraup dana lebih dari yang dibutuhkan, yakni sekitar Rp1,3 miliar.
Sayangnya, bayi Bilqis meninggal sebelum sempat menjalani operasi.
Akhirnya Dewi memutuskan untuk mendonasikan dana tersebut kepada bayi lain yang memiliki kondisi yang sama dengan putranya.
3. Koin untuk KPK
Pergerakan ini terjadi pada tahun 2012, saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berencana membangun gedung baru. Namun rencana tersebut terganjal DPR RI yang tak kunjung menyetujui alokasi anggaran pembangunan.
Disepakati pembangunan tersebut akan didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 225,7 miliar. Namun DPR tidak mengetuk palu agar uang tersebut bisa dicairkan.
Masyarakat yang melihat sikap DPR sebagai upaya pencegahan pemberantasan korupsi pun memutuskan melakukan perlawanan dengan mengumpulkan uang logam.
Gerakan ini berakhir pada bulan Oktober 2012 dan berhasil mengumpulkan dana lebih dari Rp 403 juta.
Sayangnya, saat gerakan tersebut berakhir, Komisi III DPR RI menyetujui anggaran pembangunan gedung baru tersebut. Terakhir, uang tersebut diberikan kepada Kementerian Keuangan, dan masuk dalam kategori Hibah Langsung yang berasal dari dalam negeri.
4. Koin Untuk Australia
Kali ini bukan untuk gerakan sosial, tapi lebih untuk ekspresi kemarahan terhadap pernyataan mantan Perdana Menteri Australia Tony Abbott pada tahun 2015.
Saat itu, dua warga Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, hendak dieksekusi. Abbott meminta Indonesia menghentikan hukuman tersebut dengan menghadirkan bantuan benua Kanguru saat terjadi tsunami Aceh.
“Australia telah mengirimkan bantuan sebesar AUS$1 miliar. Kami berharap Anda menunjukkan kebaikan kepada kami saat ini,” kata Abbott.
Komentar tersebut mendorong Persatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (Kammi) Aceh membuka pos penggalangan dana untuk Australia sebagai protes atas pernyataan Abbott.
Aksi ini berhasil mengumpulkan koin lebih dari Rp 4 juta. Rencananya uang tersebut akan dibawa ke Kedutaan Besar Australia di Jakarta.
Namun aksi itu terhenti karena ada rencana penundaan eksekusi. Ujung-ujungnya, duo Australia itu pun tewas di tangan algojo.
5. Koin Untuk Rio
Ide ini digagas Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi untuk membantu pebalap Indonesia bersaing di Formula 1, Rio Haryanto.
Dengan menggalang dana, diharapkan masyarakat Indonesia bisa membantu Rio melunasi utangnya kepada Manor Racing. Rio hanya mampu membayar 5,25 juta euro, dan masih berhutang 9,75 euro. Dia tidak menemukan penjamin yang bersedia membayar.
Akhirnya terkumpul Rp 262 juta untuk Rio, hasil sumbangan pegawai Kemenpora. Namun jumlah tersebut masih belum cukup untuk menjamin Rio mendapatkan satu kursi di Formula 1.—Rappler.com