Kodam Siliwangi mengaku membubarkan Perpustakaan Jalanan, namun membantah melakukan pemukulan
keren989
- 0
BANDUNG, Indonesia – Kepala Penerangan Kodam III Siliwangi, Letjen. Kol. ARM Mokhamad Desi Ariyanto mengakui hal itu pihaknya membubarkan kegiatan Perpustakaan Jalanan pada Sabtu 20 Agustus tahun lalu.
Menurut Desi, aksinya dilakukan untuk membantu pemerintah daerah dan kepolisian menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang masih khawatir akan terulangnya kejahatan yang dilakukan oleh masyarakat, geng atau perampok motor.
Selain itu, kata Desi, tindakan ini sesuai dengan kesepakatan mengenai jam malam di wilayah Bandung yang waktu berkumpulnya hingga pukul 22.00 WIB.
“Jika ada yang melakukan aktivitas di luar jam tersebut maka akan dibubarkan, termasuk jika ada komunitas sepeda motor yang melakukan aktivitas harus memberitahukan terlebih dahulu kepada polisi atau kodim setempat,” kata Desi saat dihubungi Rappler, Selasa, 23 Agustus lalu. 2016.
Terkait dugaan pengeroyokan terhadap tiga anggota komunitas Perpustakaan Jalan, Desi membantah keras terjadinya pengeroyokan. Tapi dia juga melakukannya mengajak pihak-pihak yang merasa dirugikan untuk melaporkan hal tersebut ke Denpom Bandung, Jawa Barat.
“Pada saat kegiatan tadi malam tanggal 20 Agustus, tidak ada prajurit TNI dalam hal ini Kodam III Siliwangi yang melakukan pengeroyokan. Yang terjadi, beberapa pemuda yang berkumpul justru meneriaki petugas yang melakukan tindakan indisipliner, kata Desi.
Desi juga menanyakan tentang kegiatan Perpustakaan Jalanan yang dilaksanakan setelah pukul 23.00 WIB. Menurut Desi, sangat tidak logis jika melakukan kegiatan membaca buku di taman yang minim penerangan. Ia pun mempertanyakan kredibilitas buku yang dibacanya, apakah temanya cocok untuk anak muda atau tidak. Karena itu, kata Desi, pihaknya menilai kegiatan Perpustakaan Jalanan mengarah pada hal-hal negatif.
“Kegiatan penertiban yang dilakukan Kodam III Siliwangi saat itu dilakukan karena petugas di lapangan melihat kegiatan yang dilakukannya dapat menimbulkan kegiatan negatif dan meresahkan,” ujarnya.
sebelumnya, Komunitas Perpustakaan Jalanan mengaku mendapat kekerasan dari aparat TNI Kodam III Siliwangi saat mendirikan lapak di Taman Cikapayang Dago Bandung pada Sabtu malam, 20 Agustus 2016.
Dalam siaran pers yang diposting di akun Facebook Perpustakaan Jalan, Senin 22 Agustus 2016, tertulis kronologis kejadian pendistribusian yang ditandai dengan pengeroyokan terhadap tiga aktivis masyarakat.
Di hari kejadian, Perpustakaan Jalanan menggelar acara baca buku gratis di Taman Cikapayang seperti biasa. Pukul 23.00 WIB datang dua truk TNI, satu mobil polisi militer, satu mobil preman, dan satu sepeda motor.
“Bawalah sekitar 50 anggota staf. Mereka membawa senjata api dan tongkat rotan,” tulis Street Library.
Aparat kemudian membubarkan kerumunan masyarakat di sekitar Taman Cikapayang sambil berteriak dan berteriak keras.
“Saat pembubaran, salah satu aparat TNI memukuli tiga teman Perpustakaan Jalanan tanpa alasan yang jelas. Bagi kami, pemukulan tersebut merupakan tindakan brutal tanpa alasan yang harus dikutuk.”
Menurut Street Library, pembubaran kegiatan masyarakat bukan kali pertama terjadi. Dalam beberapa pekan terakhir, TNI berulang kali melakukan pembubaran serupa.
Oleh karena itu kami dengan ini menolak dan mengutuk perlakuan intimidasi dan penindasan yang dilakukan TNI. Tindakan seperti itu akan mengancam kehidupan warga sipil. Perlu ditegaskan juga bahwa TNI sama sekali tidak berwenang mengendalikan aktivitas masyarakat sipil, kata Pustaka Jalan.
Perpustakaan Jalanan menyatakan posisinya mengenai kejadian ini:
- Mengecam perlakuan yang dilakukan TNI di Bandung dibawah kekuasaannya yang menggunakan intimidasi dan kekerasan
- TNI menolak kembali ke kehidupan sipil.
- Hentikan penyisiran dan penertiban yang dilakukan TNI.
Sementara itu, Direktur LBH Bandung Arip Yogiawan mengatakan, pihaknya telah menerima beberapa pengaduan dari komunitas Perpustakaan Jalanan atas dugaan kasus kekerasan yang dialami anggota komunitas tersebut.
Namun pihak Perpustakaan Jalanan belum memutuskan apakah kasus tersebut akan dilanjutkan ke bidang hukum.
Arip mengatakan, korban yang diduga dikeroyok aparat TNI dalam kondisi ketakutan.
“Apakah wajar (takut)?” katanya kembali dengan penuh pertanyaan.
Pihaknya, kata Arip, siap mendampingi korban, namun kembali pada keputusan terkait. Meskipun ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi juga.
Misalnya, dari seluruh pelaku yang datang, yang melakukan pengeroyokan adalah satu atau dua aparat TNI, kata Arip.
Arip yang mewakili LBH Bandung menyayangkan adanya upaya penertiban dengan cara kekerasan dan kecenderungan membatasi ruang berkumpul. Menurutnya, kegiatan Street Library merupakan salah satu wujud membangun ruang kreatif di ruang publik.
Tapi, kata Arip, Bandung tidak dalam keadaan darurat keamanan sehingga kegiatan pengamanan ketertiban umum (kamtibmas) sebaiknya dilakukan dengan cara yang lebih meyakinkan.
“Ini tentang membangun partisipasi masyarakat dalam ruang sipil yang harus dihormati di era demokrasi,” ujarnya. – Rappler.com