• March 20, 2026

Korban kecelakaan crane di Indonesia menuntut keadilan

Akibat derek jatuh di Saudi, Zulfitri terpaksa kehilangan kaki kanannya.

JAKARTA, Indonesia – Dua tahun sudah berlalu sejak jatuhnya crane di Kompleks Masjidil Haram, Arab Saudi. Namun janji pemerintah Saudi untuk memberikan kompensasi bagi korban tewas dan luka belum terpenuhi.

Salah satunya jemaah haji asal Padang, Sumatera Barat, Zulfitri Zaini yang menjadi korban pada 11 September 2015. Akibat kejadian tersebut, wanita berusia 58 tahun tersebut kehilangan kaki kanannya. (BACA: FOTO: Derek Jatuh di Masjidil Haram, Dua WNI Meninggal)

Meski menyandang disabilitas, Zulfitri tidak putus asa dan tetap menjalankan aktivitasnya sebagai guru di SMAN 1 Talang Kabupaten Solok.

Saat ini Ibu Zulfitri sedang menunggu pertanggungjawaban dari pemerintah Arab Saudi, kata Indira Suryani, Koordinator Departemen Bantuan Hukum LBH Padang, saat dihubungi Rappler melalui telepon, Rabu, 8 Februari.

Indira mengatakan, korban berangkat pada 20 Agustus 2015 untuk menunaikan ibadah haji dari Padang. Kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 17.00 waktu setempat pada 11 September 2015. Zulfitri baru saja selesai shalat Asar saat itu.

“Tiba-tiba ada derek jatuh di Masjidil Haram. Pecahan besi beterbangan ke segala arah, mengenai tangan dan kaki korban. Besi tersebut melukai pergelangan tangan kirinya, pangkal lengan kirinya mengalami luka robek yang cukup dalam. “Persis seperti itu di kaki korban,” kata Indira.

Zulfitri kemudian dilarikan ke rumah sakit dan langsung menjalani operasi pemasangan peniti di pergelangan tangan kirinya. Pangkal lengan kiri juga dijahit.

“Korban terpaksa kehilangan kaki kanannya hingga lutut,” ujarnya lagi.

Saat dirawat di rumah sakit, Zulfitri dirawat di Arab Saudi oleh petugas KBRI di Riyadh. Pejabat tersebut, kata Indira, mengatakan pemerintah Arab Saudi akan memberikan santunan dan asuransi sebesar 1 juta Riyal atau setara Rp 3,8 miliar.

Sayangnya hingga korban kembali ke tanah air pada 2 Oktober 2015 hingga saat ini, belum ada kompensasi atau jaminan apapun dari pemerintah Saudi, ujarnya.

Mendesak pemerintah Saudi untuk memberikan kompensasi

Pada tahun 2016, Zulfitri menjalani dua kali operasi. Pertama, operasi melepas pin yang terpasang di pergelangan tangan kiri. Operasi tersebut menyebabkan benjolan tumbuh pada bekas luka di lengan.

“Biaya operasi, pemeriksaan rutin kaki, dan pembuatan kaki palsu menghabiskan biaya Rp 28,5 juta. Ini adalah dana pribadi korban. Sedangkan BPJS hanya menanggung Rp500 ribu, ujarnya.

Oleh karena itu, LBH Padang menuntut pemerintah Indonesia aktif mendesak Arab Saudi untuk segera merealisasikan santunan, asuransi, dan santunan bagi para korban. Hal ini demi pemenuhan dan perlindungan hak Zulfitri.

LBH Padang mengaku pada 17 Januari lalu mereka mengirimkan surat kepada perwakilan Kementerian Agama di Padang, Kementerian Luar Negeri, dan Kedutaan Besar Saudi di Jakarta. Namun, tidak ada tanggapan.

“Itu merupakan tanggung jawab pemerintah Indonesia terhadap warga negaranya, khususnya dalam penyelenggaraan ibadah haji, pemerintah wajib melayani, melindungi dan mengamankan jamaah haji,” ujarnya.

Masih dalam tahap verifikasi

Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel mengaku sudah beberapa kali mengirimkan nota diplomatik ke Kementerian Luar Negeri Saudi. Pemerintah setempat menyatakan masih melakukan verifikasi siapa saja korban kecelakaan crane yang berhak menerima uang ganti rugi.

“Karena ada negara yang memasukkan warganya sebagai korban. Faktanya, warga tidak mengalami luka akibat kecelakaan jatuhnya crane tersebut. “Indonesia tidak melakukannya, tapi kami yang terkena dampaknya,” kata Agus yang dihubungi Rappler melalui telepon.

Dari informasi yang diterimanya, dana tersebut sudah berada di Kementerian Keuangan Saudi untuk diproses. Belum ada satupun WNI korban yang mendapatkan santunan dan asuransi. Dalam tragedi tersebut, 107 jemaah haji meninggal dunia, termasuk 10 orang asal Indonesia.

Pemasangan crane di kompleks Masjid Agung karena dilakukan perluasan di kawasan tersebut. Sementara itu, badai pasir yang muncul saat itu disertai hujan deras menyebabkan crane yang masih terpasang roboh. – Rappler.com

Keluaran Sidney