• March 18, 2026
Indonesia kecewa dengan cara polisi Malaysia menangani kasus Siti Aisyah

Indonesia kecewa dengan cara polisi Malaysia menangani kasus Siti Aisyah

Polisi Malaysia justru menyampaikan fakta hukum baru terkait Siti Aisyah kepada media dan bukan kepada kuasa hukum KBRI.

JAKARTA, Indonesia – Satu minggu setelah penahanan Siti Aisyah, warga negara Indonesia yang diduga terlibat dalam pembunuhan Kim Jong-Nam, tim KBRI dikabarkan tidak diperbolehkan bertemu dengannya. Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mendapat informasi bahwa masa penahanan perempuan 25 tahun itu diperpanjang satu minggu lagi.

Artinya, kepolisian Malaysia masih membutuhkan bukti untuk membuktikan keterlibatan wanita kelahiran Serang, Banten tersebut. Namun, dalam konferensi pers yang digelar kepolisian Negeri Jiran pada Rabu pagi, 22 Februari, Irjen Khalid Abu Bakar menyampaikan temuan mengejutkan.

Ia mengatakan serangan yang kemudian berujung pada kematian Kim Jong-Nam adalah sesuatu yang direncanakan. Kedua perempuan yang diduga pelaku telah dilatih beberapa kali sebelum beraksi.

“Ini bukan sesuatu seperti berfoto atau bermain-main,” kata Khalid seperti dikutip di markas besar kepolisian Malaysia pada hari Rabu, menurut harian itu. Waktu Selat.

Aisyah dan tersangka lain asal Vietnam, Doan Thi Huong, diberi cairan oleh empat pria asal Korea Utara. Keempat orang tersebut kemudian meninggalkan Malaysia setelah operasi berhasil. Mereka dikabarkan melarikan diri ke Pyongyang, Korea Utara.

Pernyataan Khalid itu diperkuat dengan rekaman kamera pengawas (CCTV) yang menggambarkan penyerangan yang terjadi pada 13 Februari itu. Dalam rekaman CCTV, Aisyah menyerang Kim Jong-Nam lebih dulu. Kemudian Doan Thi Huong dari Vietnam juga menyerang dari belakang.

Salah satu dari mereka kemudian menjauh dari korban dan menuju kamar mandi. Tangannya tidak menyentuh bagian tubuh lainnya.

“Jadi, dia tahu betul kalau itu mengandung racun dan dia harus cuci tangan,” ujarnya.

Setelah diserang, Kim Jong-Nam mengatakan kepada petugas bandara bahwa dia merasa tidak enak badan. Beberapa jam kemudian dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Menanggapi pernyataan kepolisian Malaysia tersebut, pemerintah Indonesia mengaku bingung karena informasi penting tersebut disampaikan kepada media dan tidak kepada pengacara terpelajar yang disewa KBRI.

“Kami tidak punya akses (ke Siti Aisyah). Oleh karena itu, harapan kami, jika ada fakta hukum baru mengenai Siti Aisyah, sebaiknya pihak kepolisian Malaysia menyampaikannya kepada pengacara yang kami tunjuk, bukan kepada media, kata Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri. Urusan, kata. Urusan, Lalu Muhammad Iqbal, dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 23 Februari.

Pengacara yang disewa Kedutaan Indonesia tidak memperoleh informasi apa pun, termasuk pernyataan Kepolisian Malaysia dalam dua konferensi pers. Kementerian Luar Negeri mengaku khawatir pernyataan tersebut justru membentuk opini publik bahwa Aisyah terbukti bersalah. Faktanya, hingga saat ini penyebab kematian Kim Jong-Nam dan peran Aisyah dalam serangan 13 Februari belum terungkap.

Kendati demikian, Iqbal meyakinkan pemerintah Indonesia akan fokus pada bantuan hukum berdasarkan fakta yang ada dan akan diungkapkan nanti dalam berkas perkara.

Media Korea Utara sangat marah

Sementara itu, kemarahan Korea Utara semakin terlihat jelas setelah jenazah Kim Jong-Nam tidak diserahkan ke kedutaan Korea Utara di Kuala Lumpur. Kemarahan tersebut pertama kali diungkapkan oleh media pemerintah KCNA yang menulis bahwa pemerintah Malaysia bertanggung jawab atas kematian saudara tiri Kim Jong-Un. Mereka juga menuding negara tetangganya berkonspirasi dengan Korea Selatan untuk menahan jenazah Kim Jong-Nam.

“Malaysia wajib menyerahkan jenazahnya kepada Korea Utara sementara mereka melakukan otopsi dan penyelidikan forensik dengan cara yang tidak bermoral dan ilegal,” kata pakar hukum Korea Utara dalam komentarnya yang ditulis di KCNA.

Dia mengatakan keengganan Malaysia untuk memulangkan jenazah tersebut dan meminta sampel DNA dari keluarga Kim Jong-Nam menunjukkan bahwa negara tetangganya akan mempolitisasi masalah tersebut.

“Jadi mereka punya niat jahat,” ujarnya.

Korea Utara pun mengaku bingung karena Kim Jong-Nam sejak awal dilaporkan ke kedutaan mereka di Kuala Lumpur meninggal karena serangan jantung. Namun, Malaysia baru-baru ini mengatakan penyebab kematiannya tidak pantas untuk dilakukan otopsi.

Korea Utara juga berupaya mengidentifikasi pria yang tewas di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) 2 sebagai Kim-Chol berdasarkan data paspor diplomatik yang dibawanya pada 13 Februari. Sementara itu, Malaysia telah mengonfirmasi bahwa pria tersebut adalah Kim Jong-Nam, saudara tiri Kim Jong-Un.

Sejauh ini Malaysia telah menahan 4 orang, termasuk Siti Aisyah dan satu warga negara Korea Utara. Polisi Malaysia kini meminta izin kepada Kedutaan Besar Korea Utara di Kuala Lumpur agar bisa meminta keterangan kepada dua warga Korea Utara lainnya. Salah satunya adalah pejabat Kedutaan Besar Korea Utara yang diduga mengenal empat orang yang sedang mereka buru. – dengan pelaporan AFP/Rappler.com

unitogel