• April 7, 2026

Jokowi akan menjamu Obama untuk makan siang di Istana Bogor

JAKARTA, Indonesia (DIPERBARUI) – “Pulanglah.” Demikian kalimat yang disampaikan Barack Obama saat berkunjung ke Indonesia pada tahun 2010. Saat itu, Obama yang masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat menyampaikan pidato di Universitas Indonesia bertajuk “Contoh Indonesia bagi Dunia” di depan ribuan orang.

Tujuh tahun kemudian, Obama akan kembali mengunjungi Indonesia. Namun kali ini bukan lagi dalam kapasitasnya sebagai orang nomor satu di Negeri Paman Sam, melainkan atas nama pribadinya.

Informasinya, Obama dan keluarga akan tiba di Indonesia pada 23 Juni atas undangan Presiden Joko “Jokowi” Widodo. Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir, undangan tersebut disampaikan saat Jokowi melakukan kunjungan bilateral ke AS pada 2015.

“Dalam kunjungan ini, Presiden Barack Obama diajak berlibur ke Indonesia jika mempunyai waktu luang lebih banyak,” kata Arrmanatha kepada Rappler melalui pesan singkat, Selasa, 13 Juni.

Rupanya, Obama menindaklanjuti ajakan tersebut. Sebelum bertemu Jokowi di Istana Bogor, Obama dan keluarga akan berlibur. Bali dan Yogyakarta dikenal sebagai salah satu destinasinya. Bali bukanlah tempat yang asing bagi Obama, karena ia pernah berkunjung ke sana untuk menghadiri KTT Asia Timur pada tahun 2011.

Usai berlibur, pada 30 Juni mendatang, Jokowi dijadwalkan menyambut Obama di Istana Bogor. Dia akan disuguhi makan siang. Menurut Juru Bicara Kepresidenan Johan Budi, tidak ada agenda khusus yang dibicarakan kedua pemimpin tersebut.

“Saya kira ini kunjungan biasa dan tidak ada agenda khusus. Namun Presiden Jokowi memang akan makan siang bersama Obama, kata Johan yang dihubungi Rappler melalui telepon siang tadi.

Karena Obama berkunjung ke Indonesia dalam kapasitas pribadi, ia tidak ingin agendanya terekspos ke publik. Meski tak bisa dihindari karena ia sempat menjadi orang nomor satu di AS selama dua periode berturut-turut.

Selain itu, Obama dijadwalkan membuka Kongres Diaspora Indonesia ke-4 di Kota Kasablanka pada 1 Juli mendatang. Kepastian tersebut disampaikan Ketua Dewan Pembina Jaringan Diaspora Indonesia Global Dino Patti Djalal.

“Kami merasa terhormat menyambut Presiden Obama kembali ke Jakarta untuk menyampaikan pidato nada utama di Konvensi,” kata Dino Pati Djalal dalam konferensi pers Kongres Diaspora Indonesia pada Workshop Diplomasi FPCI di Gedung Mayapada, Senin, 12 Juni 2017.

Ia mengatakan ini akan menjadi pidato pertama Obama di Asia sejak ia mengundurkan diri sebagai presiden. Namun, tidak sembarang orang bisa menghadiri kongres tersebut. Obama juga meminta agar pidatonya tidak diliput media.

“Media nantinya akan hadir sebagai tamu undangan. “Itu permintaan dari kantor Obama,” kata Dino.

Kongres Diaspora Indonesia merupakan acara yang diselenggarakan dua tahun sekali. Tema kongres kali ini adalah ‘Sinergi membangun bangsa’ dan merupakan yang terbesar sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2012.

Tahun ini, Kongres Diaspora Indonesia akan diselenggarakan di The Kasablanka Hall, Mall Kota Kasablanka, pada 1-4 Juli 2017. “Kami menargetkan 5000 pengunjung, namun saat ini sudah ada 6090 orang yang mendaftar,” ujarnya.

Konvensi Diaspora Indonesia kali ini akan terdiri dari 12 sesi antara lain “Belajar, Berkarya dan Bersaing di Luar Negeri”, “Inovasi Keren Diaspora Indonesia”, dan masih banyak lagi. Sebanyak 42 pembicara dari berbagai latar belakang akan menyampaikan pidatonya.

Selain sesi diskusi, Kongres Diaspora Indonesia akan diisi dengan berbagai acara seperti Diaspora Fair, Education Fair, Job Fair, dan Pameran Foto Diaspora.

Tidak ada kepentingan politik

Sayangnya, di tengah upaya menampilkan kontribusi diaspora terhadap Indonesia, acara kongres tersebut justru dibalut konflik. Beberapa diaspora lain juga mengadakan kongres serupa pada bulan Agustus. Lantas, apakah ada perpecahan dalam pengurus diaspora?

Dino membantahnya. Ia mengatakan, diaspora Indonesia tetap bersatu. Namun, dia tidak menutup kemungkinan ada pihak yang ingin kembali menciptakan peluang.

“Bagi saya bagus kalau ada kegiatan lain. “Padahal bagi kami, semakin banyak peluang, semakin baik,” kata pria yang pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini kemarin.

Tentu saja, kata Dino, ada perbedaan antara kongres diaspora yang ia selenggarakan dengan kongres diaspora yang digelar sebulan kemudian di AS.

“Acara pada bulan Juli ini akan berbentuk konferensi dan melibatkan dialog sektoral. Sedangkan kegiatan pada bulan Agustus juga melibatkan gugus tugas. “Namun saya belum melihat realisasi acara tersebut akan dilaksanakan pada bulan Agustus,” ujarnya.

Dino mengatakan, setiap diaspora bebas beraktivitas asalkan positif. Terlebih lagi, diaspora bukanlah organisasi hierarkis.

Dalam kesempatan itu, Dino juga membantah memanfaatkan kegiatan diaspora untuk tujuan politik. Ia mengaku terjun dalam politik praktis dengan mengikuti konvensi Partai Demokrat untuk maju sebagai calon presiden pada 2014. Namun demi meniti karir politik, Dino terpaksa keluar dari diaspora.

“Karena saat itu saya tidak ingin membawa diaspora ke ruang politik. “Saya baru kembali diaspora setelah keluar dari kancah politik,” ujarnya.

Dino mengaku tak akan memutarbalikkan pendapat seperti itu. Sebab, dia yakin dengan penilaian diaspora yang diajak bekerja sama selama ini.

“Dan mereka tahu, saya sebagai pendiri organisasi diaspora tidak pernah memanfaatkannya untuk politik. “Tidak peduli apa kata orang, kontribusi saya terhadap diaspora akan terhenti,” katanya. — dengan laporan Santi Dewi/Rappler.com

pengeluaran hk hari ini