• April 17, 2026

Enak dan sehat tidak harus menjadi dua kubu yang berbeda

JAKARTA, Indonesia – Kebiasaan makan sembarangan bisa menjadi salah satu faktor penyebab obesitas atau kurus. Selanjutnya gangguan kesehatan akan menghantui tubuh. Bahkan bagi generasi muda.

Data Riset Kesehatan Nasional tahun 2016 mengungkapkan angka obesitas di Indonesia mencapai 20,7% yang berarti meningkat pesat dibandingkan tahun 2013 sebesar 15,4%. Hal ini seiring dengan pergeseran pola makan generasi muda yang cenderung lebih sering mengonsumsi makanan cepat saji dan minuman manis.

“Enak dan sehat tidak boleh menjadi dua kutub yang berbeda,” kata Anindita Sitepu, Ketua Forum Pemuda Indonesia (FYI).

Penjelasan Regional Advocacy Officer for Sustainable Diets for All Silviana Paath sebelumnya dirangkumnya pada Panel Diskusi Pemuda Memimpin Gerakan Diet Sehat dalam rangkaian acara FYI: Our Food, Our Future yang digelar di Aula Utama Usmar Ismail, Jakarta Selatan pada Minggu, Oktober 22.

(BACA: FYI: Masalah makanan kemasan menjadi kekhawatiran anak muda)

Menurut Silviana, ada beberapa elemen terkait pangan berkelanjutan; yaitu sehat, aman, terjangkau dan ramah lingkungan. Namun, masih ada sesuatu yang hilang.

“Ada yang kurang yaitu rasa. Jika rasanya tidak enak, siapa yang menginginkannya?” dia berkata.

Menyadari hal tersebut, lahirlah Gerakan Dapur Indonesia yang bertujuan untuk memperjuangkan makanan sehat dan lezat serta menjadikannya trend. Di sisi lain, ia merasa generasi muda bisa berperan penting. Karena generasi mudalah yang sadar akan perubahan tren.

Hal ini menjadi bukti bahwa generasi muda harus bisa berperan dalam memperjuangkan pola konsumsi pangan berkelanjutan yang sehat dan enak. Apalagi, kata dia, konsumen mempunyai kekuatan yang luar biasa. Hal ini tercermin dalam premis “jika ada pertanyaanpasti ada memasok“.

“Misalnya di restoran mana kamu suka makan, tapi kamu merasa makanan sehat dan lokalnya kurang, kamu bisa minta (memilikinya),” kata Silviana.

Selain itu, generasi muda juga lebih mengenal perkembangan teknologi dan media sosial yang dapat digunakan untuk tujuan promosi makanan sehat. Apalagi dengan maraknya kebiasaan memotret makanan dan mengunggahnya ke media sosial sebelum disantap.

“Jadi, banyak hal praktis yang bisa dilakukan,” ujarnya.

Atur gerakan pemuda

Upaya memperjuangkan pangan sehat dilakukan Fatmawati Purba bersama tim Pencerah Nusantara. Dalam usahanya ia memanfaatkan daun kelor yang dianggap masih segar diremehkan, padahal banyak juga di Asia dan Afrika, termasuk Indonesia. Apalagi, kesehatan menjadi salah satu permasalahan utama di wilayah yang ditunjuknya, Sumbawa Barat.

“Jika bisa dikembangkan dengan baik, maka bisa menyelamatkan jutaan nyawa di negara-negara tersebut,” kata Fatma.

Kelor sendiri sudah terbukti memiliki banyak nutrisi di dalamnya. Fatma menjelaskan, kelor memiliki kandungan potasium yang lebih tinggi dibandingkan pisang, vitamin A dibandingkan wortel, zat besi dari bayam, vitamin C dari jeruk, kalsium dari susu, dan protein dari yogurt.

Dengan kandungan nutrisi tersebut, kelor didorong untuk menjadi bahan makanan pokok. Karena pada prinsipnya pertumbuhan dan perkembangan yang baik merupakan kunci kecerdasan yang optimal.

Bahan kelor ini juga dibuat menjadi berbagai jenis makanan seperti mie kelor, kue lumpur kelor, bongkahan Kelor, sempol kelor, puding lumpur kelor, dan lain-lain. Harapannya, diversifikasi pangan terus terjadi meski hanya dengan satu bahan dasar.

Usaha Fatma tidak sia-sia. Gerakannya bahkan dikenal dan diapresiasi oleh Pemerintah Daerah Sumbawa Barat melalui pemberlakuan Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat no. 80 Tahun 2017 tentang Gerakan Penanaman dan Konservasi Kelor (GEMARI KELOR).

Pada akhir, Fatma menekankan pentingnya peningkatan kualitas gizi masyarakat dengan juga meningkatkan kualitas pangan.

“Nilai suatu pangan bukan dari penyajiannya, tapi dari nutrisi yang ada di dalamnya,” kata Fatma.

Selain Fatma, ada juga Bhaskara Agarda dan Albert Tulak yang mencetuskan ide untuk melakukan diversifikasi produk olahan ubi jalar di Wamena, Papua. Mereka mempresentasikan ide ini pada kompetisi Seeds for Change, dan terpilih sebagai salah satu dari dua pemenang utama.

Ide ini muncul karena masyarakat Wamena nampaknya semakin meninggalkan ubi sebagai makanan lokal setelah menikmati nasi yang penyebarannya hingga ke wilayah Timur didorong oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo.

Padahal, kebutuhan pangan di Papua sangat bergantung pada pengiriman melalui jalur udara.

“Jadi kalau Hercules jatuh, pesawat kargonya jatuh, itu saja. “Kami tidak punya bensin, kami tidak punya makanan, kami berpuasa,” kata Bhaskara.

Hal lain yang juga menimbulkan kekhawatiran adalah rendahnya kapasitas pengolahan ubi jalar di sana. Selama ini, jelasnya, ubi di sana hanya dimasak dalam bentuk direbus atau digoreng, yang hampir semua orang bisa melakukannya.

Ujung-ujungnya nilai ekonominya menjadi rendah. Bhaskara dan Albert berinisiatif memberdayakan perempuan Papua agar mampu mengolah ubi menjadi bentuk baru, seperti keripik, browniesdan kue lainnya.

Jadi, ide ini fokus pada beberapa hal yang berjalan beriringan, seperti melestarikan ubi jalar sebagai pangan lokal, edukasi tentang pengolahan ubi jalar sebagai bentuk upaya peningkatan kapasitas ekonomi, serta meningkatkan diversifikasi jenis pangan meski dengan keterbatasan. satu bahan pokok.

Kedua hal tersebut dapat menjadi bukti bahwa generasi muda sebagai pihak yang akan produktif hingga puluhan tahun ke depan, benar-benar dapat berkontribusi dalam perbaikan pangan berkelanjutan di Indonesia, baik melalui cara-cara praktis seperti promosi pangan sehat, hingga ide-ide nyata yang mendalam. dan tindakan seperti yang dijelaskan dilakukan oleh Fatma, Bhaskara, dan timnya. —Rappler.com

slot online gratis