• March 20, 2026

Untuk mengembalikan senyum Nijam yang hilang

BANDUNG, Indonesia — Entah apa yang dirasakan Jamaludin Muhammad, bocah lelaki yang kedua tangannya harus diamputasi karena tertimpa mesin batu bata.

Ia hanya terbaring tenang di bangsal Ruang Kemuning Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung, Jawa Barat, dengan perban masih membalut pangkal lengannya.

Peristiwa nahas itu terjadi Sabtu pagi lalu, 21 Januari. Saat itu, Nijam yang akrab disapa Jamaludin bergabung dengan ayahnya, Heryadi, yang bekerja sebagai tukang batu bata di Desa Cicanta, Desa Cikarang, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut.

Biasanya Nijam tinggal serumah bersama ibunya, Lisnawati. Namun karena sang ibu baru saja melahirkan, maka ayahnya membawanya bekerja. Kemudian terjadilah peristiwa tragis yang membuat Nijam menjadi penyandang disabilitas.

Di rumah sakit, bocah 6 tahun itu harus menjalani sejumlah prosedur bedah ortopedi dan plastik. Pada Senin 6 Februari, Nijam menjalani operasi ketiganya. Operasi dilakukan untuk menutup luka dengan kulit tanduk yang diambil dari paha Nijam.

“Hingga saat ini, terima kasih Tuhan, tidak ada masalah yang berarti. Mudah-mudahan minggu depan bisa pulang, kata dokter bedah plastik Ali Sundoro kepada wartawan, Selasa, 7 Februari.

Namun rasa sakit akibat luka operasi akan sulit ditanggung oleh siapa pun, apalagi anak seusia Nijam. Selain itu, ada tambahan luka baru di pahanya. Akibatnya nafsu makan Nijam menurun. Padahal, sebelumnya Nijam biasa makan sepuasnya dengan sate dan petai, makanan favoritnya.

“Saya tidak punya keluarga, saya tidak punya apa-apa. “Tapi sekarang alhamdulillah banyak saudara saya di sini di Bandung,” kata Heryadi, ayah Nijam, dengan mata berkaca-kaca.

Heryadi menuturkan, anak sulungnya kehilangan nafsu makan karena kesakitan. Padahal, asupan makanan tidak boleh dihentikan untuk mempercepat penyembuhan luka.

“Akhirnya menjadi dokter memesan diberi makan dengan selang,” kata Heryadi kepada Rappler, Rabu, 8 Februari.

Meski begitu, Nijam adalah anak yang kuat. Dia tidak pernah menangis bahkan ketika kecelakaan itu terjadi.

“Dia baru saja menelepon ibunya,” kata Heryadi.

Nijam tidak pernah mengeluh atau meminta kedua tangannya diamputasi, tangannya aktif bermain sebelumnya permainan Dari telepon berjalan dari Heryadi. Saat ini, Nijam sedang melatih kakinya untuk menggunakannya kembali Gawai. Terkadang dia marah karena hal itu sulit dilakukan, terkadang dia tampak senang mencobanya.

Alhamdulillah, “Dia tidak cepat menyerah, tapi sepertinya dia ingin membuktikan bahwa dia bisa,” kata Heryadi.

Untuk memanggil badut

Namun senyuman masih jarang menghiasi wajah Nijam. Anak lebih sering diam, tidak pernah menceritakan musibah yang dialaminya.

Heryadi mengira hal itu terjadi karena kurangnya pemahaman Nijam yang masih anak-anak. Selain itu, ia memahami Nijam sebagai anak yang lebih banyak bergerak dibandingkan berbicara.

Namun, tidak demikian dengan pendapat ketua tim dokter yang merawat Nijam, Ghuna Arioharjo Utoyo. Katanya Nijam diam karena anak itu masih merasakanmati” Tentang musibah yang dialaminya, meski perasaan itu tak pernah diungkapkan putra kelahiran 8 Oktober 2010 itu.

Bagi Ghuna, kondisi psikologis Nijam menjadi perhatian timnya, selain penyembuhan luka operasinya. Bersama timnya, Ghuna berusaha membuat Nijam merasa nyaman dan terhibur selama menjalani perawatan. Salah satunya, membiarkan Nijam menonton film kesukaannya dengan bantuan pemutar DVD yang dipinjam oleh salah satu perawat.

Untuk membuat Nijam tersenyum, Ghuna bahkan berencana membawa badut ke ruang perawatan pasiennya.

“Saya pribadi ingin mencoba membawa badut ke kamar (Nijam) nanti, dengan izin sutradara tentunya. Sampai jumpa lagi,” katanya sambil tersenyum.

Idolisasi Anak Jalanan

Membawa kebahagiaan bagi Nijam adalah tujuan semua orang yang bersimpati dengan penderitaan anak laki-laki itu. Bantuan dan dukungan dari tokoh-tokoh Jabar pun datang. Sama seperti istri Gubernur Jawa Barat Netty Heryawan dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Kedua tokoh tersebut menjenguk Nijam di rumah sakit dan menjanjikan sejumlah bantuan, termasuk sumbangan pemasangan tangan palsu.

Berbagai lembaga dan organisasi sosial pun berupaya membantu kesembuhan Nijam, sekaligus memikirkan masa depannya. Salah satunya bahkan mendatangkan Steven Williams yang berperan sebagai Boy dalam sinetron tersebut anak jalanan. Hal itu dilakukan untuk membuat Nijam tersenyum.

“Nijam menyukai Bocah itu. Ada juga banyak pakaian dengan gambar Anak di atasnya. “Dia senang sekali saat Bocah itu datang,” kata Heryadi.

Steven William yang hadir bersama istrinya, Celine Evangelista berjanji kepada Heryadi akan menggelar acara penggalangan dana untuk Nijam.

Heryadi merasa bersyukur ada banyak pihak yang berupaya untuk kesembuhan anak tercintanya. Sedikit demi sedikit, rasa syukurnya meluluhkan penyesalan dan trauma yang membebaninya. Selain itu, pria berusia 28 tahun itu merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa anaknya.

Namun seperti kata pepatah, selalu ada hikmah di balik segala bencana, Heryadi membuktikannya.

“Saya punya waktu, apa? Itu dia Di Bandung saya tidak punya keluarga, saya tidak punya apa-apa. Tapi sekarang, terima kasih Tuhan“Saya punya banyak keluarga di Bandung,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Kini Heryadi fokus pada kesembuhan dan masa depan Nijam. Ia merasa beruntung karena tidak perlu memikirkan sendiri melainkan dibantu oleh banyak pihak.

Salah satu yang ada di benak Heryadi adalah mewujudkan keinginan anaknya untuk bersekolah. Sementara di desanya belum ada sekolah untuk anak berkebutuhan khusus.

Sempat muncul pilihan untuk pindah ke Kota Bandung, namun hal itu membuat Heryadi harus memboyong seluruh keluarganya dan memulai dari awal lagi. Namun jika terpaksa, Heryadi mengaku siap.

Demi anak, apapun harus dilakukan, kata Heryadi.

Heryadi akan melakukan apa saja untuk mengembalikan senyum Nijam yang hilang. —Rappler.com

Togel Sidney