• April 27, 2026
Ketika pelajar transgender menjadi korban intoleransi

Ketika pelajar transgender menjadi korban intoleransi

“Mereka berhak berdoa, karena mereka juga bagian dari ciptaan Tuhan.”

JAKARTA, Indonesia – Asrama Islam Al Fatah untuk waria di Bantul, Yogyakarta, ditutup tujuh bulan lalu. Meski demikian, aktivitas keagamaan di tempat ini masih tetap semarak.

Setiap minggunya, beberapa waria yang pernah bersekolah di pesantren ini diam-diam berkumpul di pesantren tersebut untuk belajar Islam dan berdoa.

“Kami ingin membuktikan bahwa Islam menerima kaum transgender,” kata Shinta Ratri, pemimpin kelompok transgender di penginapan tersebut, kepada AFP, Minggu, 9 Oktober 2016. “Bahwa Islam adalah berkah bagi semua.”

Kediaman Islam Al Fatah berdiri pada tahun 2008. Pesantren ini langsung menjadi simbol toleransi di Indonesia. Namun kelompok garis keras menentang keberadaan pesantren ini.

Pada tanggal 24 Februari 2016, penginapan ditutup. Alih-alih mendapat perlindungan dari aparat, penutupan gubuk ini justru diawasi oleh Kepala Dusun, Bupati, dan Kapolsek.

Penutupan Pondok Pesantren Al Fatah menjadi alarm adanya gelombang intoleransi di Yogyakarta, kota yang sejak lama dikenal sangat terbuka terhadap perbedaan pendapat.

Bersatu dalam keberagaman

Koordinator Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, Agnes Dwi Rusjiyati mengatakan, gelombang intoleransi sudah berlangsung bertahun-tahun.

“Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat sejumlah kelompok intoleran yang terus memaksakan pemahamannya yang kaku kepada masyarakat,” kata Agnes Dwi Rusjiyati.

Padahal Indonesia mempunyai semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya hanya satu. Namun ada reaksi balik yang membuat Bhinneka Tunggal Ika tidak dihormati lagi.

Beberapa pengamat menilai intoleransi yang terjadi di Yogyakarta telah menjangkiti hampir seluruh tanah air. Mereka menargetkan apa saja mulai dari kaum gay, alkohol, hingga pornografi.

Konstitusi Indonesia memberikan ruang bagi enam agama yang berbeda. Dan sebagian besar dari 255 juta penduduk Indonesia menganut Islam moderat. Tidak ada yang percaya negara ini akan menerima hukum syariah.

Namun, semakin kuatnya kelompok garis keras dan keengganan pemerintah menangani mereka karena takut dicap anti-Islam telah menyebabkan intoleransi tumbuh begitu besar.

Penutupan Pondok Pesantren Al Fatah yang sebelumnya dihuni mayoritas warga menjadi contoh betapa intoleransi begitu nyata di Yogyakarta, bahkan di Indonesia.

Bagian dari ciptaan Tuhan

“Sangat sulit bagi kaum transgender untuk bisa salat di masjid karena ada stigma yang melekat pada mereka,” kata seorang guru mengaji, Arif Nuh Safri, 32 tahun, kepada AFP.

“Saat pertama kali saya datang ke gubuk ini, saya katakan kepada mereka bahwa mereka berhak untuk salat karena mereka juga bagian dari ciptaan Tuhan.”

Sebelum penutupan berlangsung, sejumlah warga bersimpati di sekitar pondok. “Mereka mau belajar mengaji, ingin jadi orang baik, itu lebih baik dari pada mabuk-mabukan,” kata seorang tetangga, Aris Sutanto.

Namun, pemimpin Front Jihad Islam, Abdurrahman, tak kenal ampun. “Kita tidak bisa mentoleransi hal seburuk ini,” kata Abdurrahman. Ia mengatakan, pihaknya selalu berkoordinasi dengan aparat keamanan saat menggelar aksi perlawanan.

Polisi sendiri masih meyakini Yogyakarta masih menjadi kota toleran. Padahal kasus intoleransi terus meningkat sejak tahun 2011, ketika kelompok garis keras menyasar gereja.

Pada bulan April, kelompok garis keras dan polisi dilaporkan menutup sebuah festival seni perempuan. Pihak penyelenggara mengklaim mereka dicaci-maki dan beberapa penyelenggara ditahan.

Ahmad Suaedy, peneliti Islam yang ditunjuk pemerintah sebagai ombudsman masalah agama dan budaya, mengatakan kegagalan pemerintah menghentikan tindakan intoleransi telah menyebabkan penderitaan bagi kelompok minoritas.

“Itu strategi politik agar mereka dianggap sebagai jalan tengah,” kata Suaedy. “Tetapi akibatnya, kelompok minoritas menjadi korban.” —dengan laporan oleh AFP/Rappler.com

Keluaran HK Hari Ini