• March 20, 2026

Nikmati keindahan peninggalan leluhur suku Baduy di akhir pekan ini

JAKARTA, Indonesia — Siap beraktivitas tanpa listrik, koneksi internet, dan mandi di sungai tanpa menggunakan sabun? Sensasi tersebut bisa Anda rasakan ketika Anda berkunjung ke Desa Cibeo yang berada di kawasan Baduy Dalam.

Desa Cibeo tidak pernah gagal menjadi destinasi wisata. Selalu ada masyarakat Jabodetabek atau kota lain yang menginap di Kampung Cibeo di akhir pekan.

Untuk Mengenal Suku Baduy Dalam

Wilayah Baduy Dalam hanya terdiri dari tiga desa yaitu Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana. Cibeo merupakan desa terluar di wilayah Baduy Dalam. Jika anda ingin menginap di kawasan Baduy Dalam pasti menginap di Kampung Cibeo. Karena diperlukan persetujuan khusus untuk mengunjungi desa Cikeusik dan Cikertawana.

Perjanjian ini erat kaitannya dengan aturan adat yang dianut masyarakat Baduy yaitu keras kepala. Mengatakan keras kepala berarti “padat” atau “tidak dapat diubah”.

Kegigihan merupakan aturan adat yang menjadi pedoman hidup suku Baduy dan berdasarkan ajaran Sunda Wiwitan.

Selain itu, ada juga larangan adat yang harus dipatuhi oleh masyarakat Baduy. Isi larangan tersebut antara lain larangan membuat saluran air, larangan mengubah bentuk tanah, larangan menebang pohon, larangan menggunakan bahan kimia, larangan memelihara hewan berkaki empat seperti kambing atau keru, larangan memelihara binatang berkaki empat seperti kambing atau keru. pembukaan lahan yang sembarangan dan masih banyak lagi. Mereka juga tidak diperbolehkan memakai sepatu, tidak mengemudikan kendaraan, dan tidak bersekolah formal.

Masyarakat Baduy Dalam tidak bisa mengubah dan melanggar aturan. Apabila ketahuan melakukan pelanggaran maka masyarakat suku Baduy Dalam akan dikeluarkan dari wilayah Baduy Dalam.

Sementara itu, beberapa peraturan adat tidak diterapkan di wilayah Baduy Luar. Oleh karena itu, jika Anda berkunjung ke Baduy Luar, Anda bisa menjumpai masyarakat yang memakai sepatu dan mengenakan pakaian modern.

Suku Baduy Dalam mempunyai pemimpin adat bernama Pu’un. Segala keputusan Pu’un harus dihormati oleh masyarakat setempat. Kedudukan Pu’un bukanlah suatu kedudukan yang diwariskan secara keturunan. Pu’un bisa mundur dari jabatannya jika dianggap tidak mampu memimpin masyarakat Baduy.

Sayangnya, tidak sembarang orang bisa bertemu Pu’un. Masyarakat Suku Baduy Dalam hanya menemui Pu’un apabila mempunyai kepentingan seperti akan menikah atau ingin melaporkan sesuatu.

Pengalaman tinggal di Baduy Dalam

Mengunjungi Desa Cibeo dari Jakarta tidaklah terlalu sulit. Pertama, Anda harus pergi ke Rangkas Bitung.

Anda bisa naik Kereta Api Ekonomi Rangkas Jaya dari Stasiun Tanah Abang atau Stasiun Palmerah dengan biaya tiket Rp 5.000. Kereta Rangkas Jaya berjalan di jalur kereta Tanah Abang-Tigaraksa dan berhenti di berbagai stasiun, seperti Kebayoran, Serpong, Parung Panjang dan Tigaraksa.

Pada awal tahun 2017, KRL Jalur komuter mengumumkan bahwa rute dari Stasiun Angke menuju Stasiun Rangkas Bitung akan dibuka melalui situs web resmi. Anda bisa menggunakan kereta ini menuju stasiun Rangkas Bitung. Ke depan, layanan KRL ini akan menggantikan kereta ekonomi tujuan Stasiun Rangkas Bitung.

Setelah sampai di Stasiun Rangkas Bitung, seberangi rel kereta api menuju Pasar Rangkas Bitung dan cari angkutan umum ukuran sedang menuju Cijahe.

Perjalanan menuju Cijahe memakan waktu sekitar 3 hingga 4 jam dan melewati jalan yang berkelok-kelok. Jangan lupa untuk menyiapkan makanan ringan dan obat-obatan pribadi, apalagi jika Anda memiliki kebiasaan mabuk darat.

Begitulah gambaran situasi di Cijahe, tempat pemberhentian terakhir kendaraan dan menjadi tempat transit wisatawan menuju Baduy Dalam.

Tidak ada tarif tetap jika Anda menggunakan angkutan umum berukuran sedang dari Pasar Rangkas Bitung ke Cijahe. Biasanya Anda harus membayar sekitar Rp30 ribu hingga Rp60 ribu.

Namun harganya tergantung jumlah penumpang. Semakin banyak penumpang yang Anda naiki, semakin besar kemungkinan Anda akan dikenakan tarif lebih murah. Jangan lupa tanyakan kepada supir mengenai jadwal perjalanan pulang dari Cijahe ke pasar Rangkas Bitung yang tersedia keesokan paginya.

Menginap di rumah warga

Cijahe merupakan perhentian terakhir bagi kendaraan bermotor. Setelah itu, Anda harus berjalan kaki sekitar 45 menit menuju Desa Cibeo. Biasanya masyarakat Baduy Dalam sudah menunggu di kawasan Cijahe untuk menawarkan jasa pemandu. Anda bisa menggunakan jasa mereka jika belum paham rute menuju Binne-Baduy, karena kawasan sekitar pasti tidak terlacak radar GPS.

Ini adalah jalur dari Cijahe ke Cibeo.  Sepanjang perjalanan harus melintasi medan tanah.  Untuk itu gunakanlah sepatu yang memiliki grip agar tidak mudah terpeleset saat hujan.

Anda dapat mengambil foto saat bepergian. Namun ingat, saat berada di kawasan Baduy Dalam, Anda tidak diperbolehkan mengambil dokumentasi baik berupa foto, video, bahkan audio.

Hal ini sekali lagi berkaitan dengan aturan adat setempat yang harus dihormati. Mintalah pemandu Anda untuk mengingatkan Anda kapan Anda berada di titik terakhir untuk mengambil foto atau merekam video.

Titik terakhir pengambilan foto.  Hanya di lokasi ini Anda diperbolehkan memotret rumah masyarakat Baduy Dalam dari kejauhan.

Sesampainya di Desa Cibeo, Anda bisa bermalam di salah satu rumah warga, membersihkan diri dan berjalan-jalan keliling desa hingga matahari terbenam. Jangan lupa untuk membawa nasi, mie instan, telur atau makanan lainnya secukupnya bersama orang-orang di tempat tinggal Anda.

Setelah itu boleh istirahat, tapi jangan bangun kesiangan! Sayang sekali jika melewatkan melihat matahari terbit di Baduy.

Setelah bersih-bersih dan mandi di sungai sebaiknya segera sarapan pagi dan berangkat menuju Cijahe. Pasalnya, jumlah angkutan umum yang berangkat dari Cijahe menuju Pasar Rangkas Bitung sangat terbatas.

Dalam perjalanan pulang dari Desa Cibeo menuju Cijahe, Anda dapat memanfaatkan kesempatan berkeliling dengan menempuh jalur jalan melalui Desa Baduy Luar. Mintalah pemandu Anda untuk berjalan di rute menuju Cijahe.

Situasi berbeda bisa Anda lihat ketika berkunjung ke Baduy Luar.  Sebagian warga Baduy Luar sudah tidak lagi menerapkan beberapa aturan adat.

Setelah sampai di Pasar Rangkas Bitung, Anda bisa berjalan kaki sekitar 5 menit menuju Stasiun Rangkas Bitung dan membeli tiket ke Stasiun Palmerah atau Stasiun Tanah Abang. Harga tiketnya juga bervariasi tergantung stasiun mana yang Anda tuju.

Harga tiket ke Stasiun Palmerah Rp 5.000, sedangkan harga tiket ke Stasiun Tanah Abang Rp 50 ribu. Bisa juga naik kereta KRL yang berangkat ke Angke.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan

Siapkan sandal atau sepatu itupeganganpakaian secukupnya, jas hujan, topi, tisu basah, cairan antiseptik, perlengkapan mandi, obat-obatan pribadi, senter dan kartu identitas untuk membeli tiket kereta api.

Jika tidak berani berangkat sendiri, Anda bisa menggunakan jasa agen perjalanan yang menawarkan pilihan wisata ke Baduy Dalam.

Apalagi, Anda hanya bisa menginap di kawasan Baduy Dalam maksimal satu malam saja. Kawasan Baduy Dalam juga tertutup bagi wisatawan asing. Wisatawan asing hanya diperbolehkan mengunjungi kawasan Baduy Luar.

Jika ingin mandi di sungai, jangan menggunakan bahan pembersih kimia, seperti sabun, sampo, atau pasta gigi. Bagi masyarakat Baduy, penggunaan produk kimia dapat menjadi ancaman bagi kelestarian lingkungannya.

Sayangnya kawasan Baduy Dalam ditutup untuk wisatawan pada bulan Februari-April karena masyarakat Baduy Dalam harus melaksanakan tradisi Kawalu. Kawalu dilakukan selama tiga bulan untuk menjalankan tradisi puasa dan berdoa demi keselamatan bangsa dan negara yang damai dan sejahtera.

Meski begitu, warga Baduy Dalam masih bisa Anda jumpai karena masih melintasi kawasan Cijahe. -Rappler.com

keluaran hk