• April 20, 2026
Gunung Bromo tetap waspada, bandara Malang kembali beroperasi

Gunung Bromo tetap waspada, bandara Malang kembali beroperasi

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Warga sekitar bisa mengukur apakah letusan Bromo mengancam keselamatan mereka atau tidak

MALANG, Indonesia – Bandara Abdulrachman Saleh di Malang, Jawa Timur, dibuka kembali untuk penerbangan komersial pada Selasa, 12 Juli, hampir 12 jam setelah ditutup akibat abu vulkanik Gunung Bromo.

Bandara dibuka pukul 08.40 WIB, kata Suharno, Kepala UPT Bandara Abdulrachman Saleh Malang.

Pihak berwenang terpaksa menutup bandara Abdulrachman Saleh mulai pukul 11.00 WIB setelah Gunung Bromo memuntahkan abu vulkanik yang membahayakan penerbangan. Tujuh dari 10 penerbangan yang dijadwalkan pada Senin 11 Juli terpaksa dibatalkan.

Abu gunung Bromo masih menyembur pada ketinggian 300 hingga 800 meter di atas kawah dengan angin bertiup ke arah barat daya-selatan. Menurut Suharno, Abu bromin tidak mempengaruhi penerbangan sekitar Bandara Abdulrachman Saleh.

Status Gunung Bromo tetap waspada pada Selasa, pengelola kawasan melarang pengunjung masuk dalam radius 1 kilometer dari bibir kawah Bromo.

Sementara itu, sesepuh masyarakat Tengger berencana menggelar upacara Tradisi Kasada di sekitar bibir kawah pada tanggal 21 Juli. Warga Tengger menyebut dampak letusan Bromo lebih membahayakan tanaman dibandingkan warga sekitar.

Antong Hartadi, Kepala Subbagian Data Evaluasi, Pelaporan dan Humas TNBTS, mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan sesepuh Tengger dalam upacara adat Kasada yang rutin digelar setiap tahunnya.

Selama tiga bulan terakhir, status Bromo tetap waspada dan pengunjung dilarang masuk dalam radius 1 km dari bibir kawah.

“Nanti kami akan berkoordinasi dengan sesepuh dan tokoh masyarakat di Tengger. “Karena Kasada merupakan upacara adat mereka yang wajib dilaksanakan setiap tahunnya,” kata Antong, Selasa.

Antong menambahkan, warga sekitar juga mengetahui kebiasaan dan gejala yang ditimbulkan Bromo. Mereka bisa mengukur apakah letusan akan mengancam keselamatan atau tidak. Sehingga warga Tengger bisa memutuskan apa yang terbaik untuk keselamatannya.

“Biasanya warga sekitar lebih familiar dengan kebiasaan Gunung Bromo. “Mereka akan tahu apakah itu berbahaya atau tidak,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Mujianto mengatakan, letusan Bromo tidak merugikan warga sekitar. Sesepuh Tengger di Ngadas mengatakan, sejumlah warga dan pengunjung kerap terlihat mendaki hingga ke sekitar kawah. Upacara Kasada yang berlangsung di sekitar kaldera Bromo tidak terganggu dengan letusan abu Bromo.

Tidak berbahaya, masih banyak yang naik, kata Mujianto, Selasa 12 Juli.

Menurut dia, warga khawatir dengan dampak abu terhadap tanaman mereka. Suku Tengger sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan bercocok tanam di lereng pegunungan Tengger. Abu yang berjatuhan menutupi tanaman yang didominasi kentang, kubis, dan daun bawang.

“Sekarang kita belum bisa melihatnya, tapi nanti kalau hujan kita bisa melihatnya. “Tanaman akan layu dan kering,” ujarnya.

Sebagian besar penduduk Ngadas yang berjumlah 1.490 jiwa berprofesi sebagai petani kentang. Terdapat sekitar 240 hektar lahan kentang di Ngadas, dengan produktivitas rata-rata 40 ton per hektar.

“Saat ini kentang yang menunggu untuk dipanen sekitar 50 hektare, sebagian lagi baru dipanen dan akan ditanam kembali,” ujarnya. – Rappler.com.

Hk Pools