Kisah ‘ianfu’ mengingatkan kita pada masa kelam penjajahan Jepang
keren989
- 0
SOLO, Indonesia — Ngadirah menitikkan air mata saat menceritakan tragedi yang merenggut masa kecilnya. Nenek Wonosari, Gunungkidul, 85 tahun, diculik tentara Jepang saat berusia 12 tahun. Dia ditangkap di markas sebagai ianfu— wanita yang dijadikan budak seks oleh tentara Jepang.
Suaranya tercekat seolah Ngadirah masih trauma mengingat bagaimana tentara Negara Nippon memperkosanya secara bergantian dengan kejam dan tanpa ampun. Dia digunakan sebagai ‘jatah putaran’ bagi tentara yang bersenjatakan bayonet.
Sebagai seorang gadis, Ngadirah tak berdaya melawan. Dia hanya bisa berteriak, menangis dan meronta. Namun para prajurit tidak mempunyai belas kasihan sedikit pun.
Ia mengalami kerusakan pada organ reproduksinya akibat pemerkosaan massal yang dilakukan tentara Jepang, sehingga ia tidak dapat mengandung atau melahirkan anak. Di masa tuanya, Ngadirah hidup menyendiri sejak berpisah dengan suaminya.
“Saya rusak. “Saya terpaksa melakukannya berkali-kali setiap hari, dan tidak hanya oleh satu tentara yang mengubah orang sampai saya kesakitan,” kata Ngadirah saat menghadiri peringatan Hari Ianfu di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, yang dihadiri. Senin malam 14 Agustus.
“Saya rusak. Setiap hari saya dipaksa melakukan ‘itu’ berkali-kali, dan tidak hanya oleh satu tentara, dengan berganti-ganti orang, hingga saya kesakitan.”
Tentara Jepang mencari ianfu tidak hanya dengan menculik, tapi juga dengan memikat pekerjaan. Seperti yang menimpa Mardiyem atau lebih akrab disapa Momoye, gadis asal Yogyakarta yang dijanjikan pekerjaan sebagai pemain drama namun tertipu dan dibawa ke Telawang, Kalimantan Selatan. Dia menjadi penduduk terjadi—Sebuah pusat penahanan dengan kamar-kamar mirip rumah bordil untuk budak seks di mana tentara Jepang menggunakan tiket untuk mengantri di kamar.
Ngadirah dan Mardiyem pernah berjuang bersama menyuarakan tuntutan agar pemerintah Jepang meminta maaf langsung kepada masyarakat ianfu yang masih hidup Namun hingga Mardiyem meninggal, tuntutan mereka tidak pernah terwujud.
Kisah serupa juga dialami seorang nenek bernama Sri Sukanti yang menjadi korban nafsu biologis tentara Nippon pada tahun 1945. Ia diambil paksa dari keluarganya di Grobogan saat berusia sembilan tahun dan dibawa ke Gedung Papak – bekas gedung Belanda di Purwodadi yang dulunya dijadikan markas tentara Jepang. Keluarganya diancam akan dibunuh jika menolak menyerahkan putri mereka.
Sukanti dipenjarakan di sebuah kamar dan menjadi budak seks seorang komandan bernama Ogawa. Setiap hari, dia sendiri dimandikan oleh komandan lalu diperkosa berulang kali hingga mengalami rasa sakit dan mengeluarkan darah dari alat kelaminnya.
“Tidak ada belas kasihan atau kasih sayang apa pun. “Saat itu saya merasa seperti ingin mati,” kenang Sukanti.
Ketika Jepang menyerah kepada Tentara Sekutu, Ogawa membuangnya begitu saja tanpa memberikan kompensasi atas kebrutalan yang telah dilakukannya. Seperti Ngadirah, Sukanti mengalami kerusakan organ reproduksi parah yang membuatnya tidak bisa mempunyai anak.
Hingga saat ini, ia masih menjalani perawatan karena nyeri perut bagian bawah dan sakit kepala yang dirasakannya terus kambuh dari waktu ke waktu. Sukanti kini tinggal bersama suaminya di Salatiga.
Tuminah, suara ianfu yang pertama
Peringatan Hari Ianfu keempat yang diadakan di Solo ini dipersembahkan oleh para aktivis perempuan dan kemanusiaan kepada mendiang Tuminah, a ianfu Indonesia adalah negara pertama yang berbicara secara terbuka tentang perbudakan seks pada masa pendudukan Jepang.
Tuminah yang tinggal di Kampung Baru, Solo, juga dibawa paksa dan dijadikan budak seks di markas tentara Jepang. Heni Saptaningsih, keponakan Tuminah, mengatakan bibinya sering bercerita tentang tragedi yang menimpanya semasa kecil. ianfu.
“Budhe bercerita kepada saya bahwa banyak temannya yang juga dijadikan budak seks, tapi mereka semua orang malu menceritakannya karena dianggap memalukan. “Hanya Budhe yang berani mengungkapkannya,” kata Heni.
“Kami berpacu dengan waktu karena orang-orang ini sudah tua. Kesehatan fisik dan mentalnya terganggu oleh trauma masa lalu.”
Di masa tuanya, pada tahun 1992, Tuminah bersaksi bahwa kejahatan militer Jepang sebenarnya terjadi di Pulau Jawa dan menimpa perempuan anak-anak dan remaja putri. Kesaksian ini menguatkan kesaksian Kim Hak-soon di depan publik pada 14 Agustus 1991 yang kemudian diperingati sebagai Hari Ianfu Internasional oleh Asian Solidarity Forum ke-11 di Taipei pada tahun 2013.
Hak-segera adalah seseorang ianfu Korea Selatan dan menjadi negara pertama di dunia yang berani mengungkap perbudakan seks yang dilakukan tentara Jepang pada Perang Dunia II. Ia juga mengajukan gugatan terhadap pemerintah Jepang atas kejahatan perang.
Kesaksian Tuminah sungguh menginspirasi ianfu orang lain di Jawa untuk memecah keheningan sejarah, seperti Mardiyem yang berbicara kepada LBH Yogyakarta setahun kemudian. Satu per satu ianfu maju dengan ceritanya sendiri dan mulai berani mempertanyakan tanggung jawab pemerintah Jepang atas tragedi tersebut.
Tidak ada jumlah pastinya ianfu di dunia ini. Ada yang mengatakan 30.000, namun laporan lain mengklaim hingga 200.000 perempuan di Jepang, Korea, Tiongkok, Taiwan, Vietnam, Filipina, dan Indonesia menjadi korban perbudakan seks oleh tentara Jepang selama Perang Dunia II. Selain itu, jumlah penyintas di Indonesia semakin berkurang dan semuanya kini berusia di atas 80 tahun.
Aktivis kemanusiaan mencoba mendokumentasikan ianfu, seperti melalui film dokumenter, buku, dan lukisan wajah, selagi mereka masih hidup. Seperti yang dilakukan Dewi Candraningrum, seniman sekaligus pemimpin redaksi Jurnal Perempuan yang membuat selendang untuk melukis wajah Ianfu yang hasilnya ia sumbangkan.
“Kami berpacu dengan waktu karena orang-orang ini sudah tua. Kesehatan fisik dan mentalnya terganggu karena trauma sebelumnya, kata Dewi.
Mengizinkan
Kasus ianfu yang tidak pernah diakui secara terbuka oleh pemerintah Jepang, telah menjadi penghambat diplomasi negara tersebut dengan negara-negara Asia Timur dan Tenggara selama 70 tahun. Satu hal yang menonjol adalah hubungan Jepang-Korea sempat mengalami pasang surut karena ianfu.
Rakyat Korea dengan sangat militan menolak tawaran perjanjian dimana Jepang bersedia memberikan uang kompensasi dalam jumlah besar pada tahun 2015 sebagai bentuk permintaan maaf. Bagi mereka, uang tidak bisa menghapus luka akibat kejahatan perang.
Sebagai bentuk perlawanan, masyarakat Korea menjadikan patung perunggu seorang gadis berpakaian adat sebagai simbolnya ianfu, yang ditempatkan tepat di depan Kedutaan Besar Jepang di Seoul dan Konsulat Jepang di Busan. Pemerintahan Jepang di bawah Shinzo Abe memanggil kembali duta besarnya untuk Korea karena protes masyarakat Korea yang menolak pemindahan patung tersebut ianfu.
Berbeda dengan Korea Selatan yang membuat ianfu Sebagai isu utama hubungan bilateral, Indonesia masih terkesan adem ayem. Pemerintah nampaknya belum serius untuk membuka kembali luka lama dan menyelesaikannya dengan Jepang. Sementara itu, masih banyak masyarakat Indonesia yang masih buta terhadap sejarah perbudakan seks yang telah merendahkan martabat perempuan bangsanya.
“Faktor utama yang membuat Indonesia sulit memikul tanggung jawab politik atas kasus perbudakan seks adalah terlalu kuatnya daya tawar Jepang, sebagai negara donor dan investor,” kata Eka Hindra, peneliti independen dan pembela hak asasi manusia. ianfu.
Meski mengetahui pemerintah Indonesia lamban dalam mengungkapkan hak-hak korban perbudakan seks, namun para penyintas tetap menuntut tiga hal, yakni permintaan maaf langsung dari pemerintah Jepang kepada korban perbudakan seks yang masih hidup, pemberian kompensasi, dan yang tidak kalah pentingnya adalah pengakuan atas tragedi tersebut sebagai bagian dari sejarah ekspansi Jepang – dan bukan penyangkalan yang mencoba mengacaukan ianfu dengan pekerja seks perempuan.
Hingga saat ini, generasi muda Jepang tidak pernah mengetahui bahwa para prajurit Negeri Matahari—atau mungkin kakek mereka—melakukan kejahatan perang di masa lalu. Potret kelam ini sengaja diingkari dan disembunyikan, serta tidak dimasukkan dalam pendidikan sejarah Jepang.
“Saya telah kehilangan segalanya sejak saya masih remaja. “Harus ada permintaan maaf dan pengakuan,” kata Ngadirah menuntut. —Rappler.com
BACA JUGA: