• March 29, 2026
Target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,4%

Target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,4%

Presiden menyampaikan pidato pengantar Nota Keuangan dan RAPBN Tahun 2018

JAKARTA, Indonesia — Dalam Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2018, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4% yang dicapai dengan dukungan konsumsi rumah tangga yang berkelanjutan, peningkatan investasi, dan peningkatan kinerja ekspor-impor. Angka ini merupakan indikator pertama eekonomi makro 2018.

“Pada tahun 2018, pemerintah akan fokus mendukung pertumbuhan wilayah Maluku, Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali serta Nusa Tenggara dengan memperkuat hubungan dengan pulau Jawa dan Sumatera yang merupakan penyumbang terbesar perekonomian nasional,” kata Presiden. Joko “Jokowi” Widodo dalam pidato pengantar Nota Keuangan RAPBN Tahun 2018 di hadapan Sidang Paripurna DPR RI, sekaligus pembukaan masa sidang I Tahun 2017-2018.

Indikator Kedua, Kata Jokowi, inflasi yang ditetapkan pada kisaran 3,5% akan dipertahankan oleh perbaikan kapasitas produksi, stabilitas harga, dan harga komoditas global yang masih tergolong rendah. Senada, Jokowi mengingatkan pentingnya memperhatikan dampak cuaca terhadap stabilitas pangan. “Ini risiko yang harus diperhitungkan karena cuaca bisa berdampak pada kenaikan inflasi,” kata Jokowi yang berganti pakaian berjas berwarna gelap dan berdasi merah.

Indikator ketiga, Pasalnya, nilai tukar atau nilai tukar rupiah ditarget Rp 13.500 per dolar Amerika Serikat (AS).

Indikator keempat, Rata-rata suku bunga T-bill tiga bulan ditetapkan sekitar 5,3%.

Indikator kelima, Asumsinya, harga minyak mentah Indonesia (ICP) ditargetkan pada kisaran US$48 per barel.

KeenamVolume lift migas ditargetkan mencapai 2 juta hingga 2.050 ribu barel per hari (bph), dengan oil lift sekitar 800 ribu bph dan gas bumi sekitar 1,2 juta barel setara minyak per hari.

Kebijakan strategis juga disampaikan Jokowi dalam RAPBN tahun 2018. Belanja pemerintah pada tahun 2018 direncanakan sebesar Rp 2.204,4 triliun, yang terutama ditujukan untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan serta mencapai masyarakat yang berkeadilan, meningkatkan efektivitas program perlindungan sosial, mengintensifkan belanja pada program pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. .

Program perlindungan sosial akan ditingkatkan, berupa perluasan cakupan penerima Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi 10 juta keluarga dan cakupan bantuan iuran BPJS kesehatan mencapai 92,4 juta orang, kata Jokowi.

Pemerintah juga akan mengalihkan bantuan pangan kesejahteraan beras (rastra) ke bantuan pangan nontunai sehingga menambah jumlah penerima manfaat. Untuk mengendalikan inflasi dan meningkatkan daya beli, pemerintah akan terus memberikan subsidi listrik, bahan bakar minyak, pupuk dan bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta perumahan dan pelayanan publik.

“Untuk mencapai beberapa target pembangunan di atas diperlukan pendapatan negara sebesar Rp1.878,4 triliun,” kata Jokowi. Ia juga mengatakan, merujuk pada tema kebijakan fiskal tahun 2018 dan strategi pendukungnya, pendapatan negara dalam RAPBN tahun 2018 direncanakan sebesar Rp1.878,4 triliun. Dari jumlah itu, rencananya Rp1.609 triliun berasal dari penerimaan pajak, dan Rp267,9 triliun dari penerimaan bukan pajak.

Belanja pemerintah dalam RAPBN tahun 2018 direncanakan sebesar Rp2.204,4 triliun, terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.443,3 triliun dan dana transfer ke daerah dan kota sebesar Rp761,1 triliun.

Defisit anggaran dalam RAPBN 2018 direncanakan sebesar Rp325,9 triliun atau setara 2,19% PDB. “Target defisit lebih rendah dibandingkan prospek“Tahun 2017 sebesar 362,9 triliun atau 2,67% PDB,” kata Jokowi.

Rapat pembukaan masa sidang I tahun 2017-2018 dipimpin oleh Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon. Dalam pengantarnya di awal sidang, Fadli Zon menyebut kondisi Ketua DPR RI Setya Novanto sedang kurang baik. –Rappler.com

Result SGP