• March 22, 2026
Sandiaga Uno tak pede dicalonkan Prabowo sebagai Wakil Gubernur DKI

Sandiaga Uno tak pede dicalonkan Prabowo sebagai Wakil Gubernur DKI

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

“Saya diyakinkan oleh dia (Prabowo) untuk tidak mengatakan ‘tidak’ dulu, karena dalam politik segala sesuatu mungkin terjadi,” kata Sandi.

JAKARTA, Indonesia – Wakil Gubernur terpilih DKI Sandiaga Uno mengaku sempat tak percaya diri saat dicalonkan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, untuk mengikuti Pilkada 2017. Pasalnya, ia tergolong baru dibandingkan nama-nama besar lainnya yang masuk dalam proses nominasi. . Salah satunya adalah Aziz Syamsuddin yang merupakan teman dekat mantan Panglima Kopassus.

Bahkan, saat berhadapan dengan Prabowo, Sandi memilih dihukum dengan lari maraton atau push-up ketimbang harus mencalonkan diri di Pilkada DKI.

“Saya mendapat tugas dari Partai Gerindra untuk maju ke Pilkada DKI. Jadi, saya tidak pernah mau ikut Pilkada DKI. Saya jalani saja,” kata Sandi saat berbicara di Rappler Talk, Senin, 15 Mei.

Prabowo sebagai politikus senior pun tak segan-segan menyodorkan nama Sandi, pemain baru di dunia politik. Menurutnya, Sandi punya potensi bagus.

“Saya pada dasarnya diyakinkan olehnya untuk tidak mengatakan ‘tidak’ dulu, karena dalam politik segalanya mungkin terjadi. Jadi harus belajar dulu,” ujarnya.

Tentu saja, agar bisa maju dan bersinar dibandingkan 8 calon pilihan Partai Gerindra lainnya, ada hal yang perlu dicapai Sandi, yakni elektabilitas baik minimal 20 persen dan indeks kinerja (KPI).

Sandi akhirnya menjabat tangan Prabowo dan berjanji akan mewujudkannya. Dari situlah timbul semangat berkompetisi untuk melawan kandidat lainnya.

Untuk mencapai hal tersebut, mantan Ketua KADIN ini mencoba menerapkan pembelajaran yang terkandung dalam buku bertajuk tersebut “Ketidakcocokan Underdog dan Seni Melawan Raksasa” oleh Malcolm Gladwell dan David & Goliath. Dari buku tersebut tertulis bahwa ia harus bisa menemukan sesuatu yang menjadi kelebihannya.

Manfaat pertama apa yang dia sadari adalah bahwa itu kecil dan tangguh.

“Ketika saya memulai bisnis saya, saya melakukan banyak trial and error. Aku sempat patah, tapi aku bangkit kembali. “Saya pernah dilanda krisis, tapi bisa pulih,” ujarnya.

Keuntungan kedua, dalam berkampanye Sandi berusaha rasional. Dalam menyusun programnya, Sandi mengaku mengandalkan “big data”. Dari situ kita dapat melihat tiga permasalahan terbesar yang dihadapi warga DKI, yaitu keinginan mendapatkan pekerjaan yang baik, biaya hidup yang tinggi, dan akses terhadap pendidikan.

“Pertanyaan tentang agama tidak muncul sama sekali. “Masalah ini muncul baru-baru ini setelah kampanye dibajak,” katanya.

Sementara, manfaat terakhir, dia tidak pernah berhenti berdoa. Sebaliknya, Prabowo memilih sosok Anies yang justru melengkapi kekurangannya.

“Saya tidak pandai membicarakan masalah yang berkaitan dengan kebangsaan. Kalau ada topik yang biasa saya bahas, itu hanya tentang bisnis dan kewirausahaan. Aku juga tidak pandai berdebat. Di sinilah akhirnya keluar sosok Anies, jelasnya.

Dari pencapaian yang ia rasakan sendiri, Sandi berpesan kepada siapa pun bahwa setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menggapai sesuatu yang besar. Kuncinya terletak pada strategi dan eksekusi yang baik.

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno akan dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih pada Oktober mendatang menggantikan Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Paslon nomor urut tiga berhasil mengalahkan Ahok-Djarot dengan perolehan suara atau 57,96 persen 3.240.987 orang. – Rappler.com

sbobet88