• April 8, 2026

Memotret Rangga dan New York melalui lensa Mo Riza

JAKARTA, Indonesia — Kumpulan puisi dan foto karya penyair Aan Mansyur dan fotografer Mo Riza untuk film Ada apa dengan cinta? 2 (AADC 2) terjual habis.

Pada hari pertama peluncurannya yang bertepatan dengan perilisan filmnya AADC 2pada tanggal 28 April, 5.000 buku berjudul Tidak Ada New York Hari Ini Sold out dan langsung masuk cetakan kedua.

Puisi dan foto tak lepas dari sosok Rangga sang pemeran utama pria AADC 2. Dalam kesendiriannya selama tinggal di New York, kedua hal itu menjadi caranya mengungkapkan perasaannya.

Setelah sebelumnya membahas sosok Aan Mansyur di balik puisi Rangga, kini saatnya menilik mata di balik lensa kamera Rangga.

Mo Riza, a fotografer jalanan berdomisili di New York dipilih oleh produser AADC 2, Mira Lesmana, menjadi Rangga lewat jepretan kameranya.

Siapa Mo Riza?

Mo bekerja setiap hari sebagai a desainer visual dengan latar belakang desain industri dan interaktif dengan pengalaman lebih dari 20 tahun.

Ayah dua anak ini aktif sebagai Chief Design Officer di Amplify. Namun di sela-sela kesibukannya, ia selalu menyempatkan diri untuk memotret berbagai sudut kota New York melalui lensa kameranya.

Awal mula ketertarikan pada fotografi

Mo telah tertarik pada fotografi sejak dia masih di sekolah menengah. Saat itu fotografi hanya sekedar hobby karena saya ikut teman.

Semasa kuliah, hobinya ini terus berlanjut karena ia mempunyai banyak teman yang paham fotografi. Saat kuliah Desain Industri Seni Rupa Universitas Trisakti, rekan-rekan dari jurusan Desain Grafis sering menjadi mentor, dengan kamera dan teknik yang lebih baik.

Namun saat itu, fotografi masih menjadi hobi (yang harganya cukup mahal).

Akhirnya, setelah kamera digital mulai beredar, Mo mulai benar-benar serius dan mencoba memotret setiap hari. Keterbatasan film yang dulu menjadi kendala justru memberikan kesempatan untuk berlatih.

Menurutnya, fotografi, seperti keterampilan lainnya, hanya 10 persen bakat, sedangkan 90 persen lainnya adalah keringat.

“Jadi semakin sering Anda memotret, semakin banyak peluang yang Anda miliki untuk menjadi fotografer yang baik,” kata Mo kepada Rappler via surel.

Padahal, berdasarkan pengalamannya, peralatan canggih tidak dianggap. Sebagian besar foto hanya diambil melalui kamera iPhone.

Keterlibatan dalam ‘AADC 2’

Keterlibatan Mo dalam proyek tersebut AADC 2 Bermula saat produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza datang ke New York untuk mencari lokasi syuting. Produser lah yang langsung memintanya untuk menggunakan fotonya sebagai foto Rangga.

“Mungkin karena fotoku ada tim waktu, dari Rangga ke New York sampai sekarang,” katanya.

Sementara itu, Mira sendiri mengaku mengundang Mo Riza karena menyukai foto-fotonya di New York yang kerap diunggah di media sosial.

“Saya sudah mengenal Mo Riza sejak lama. Saya selalu mengikuti foto-foto yang diambilnya di New York via media sosial– miliknya. Setiap kali saya berharap Rangga selalu mengambil foto atau video di NYC, saya merasa fotonya sempurna,” ujar Mira kepada Rappler, Selasa, 10 Mei 2018.

Awalnya Mira dan Riri memberi ringkasan alur cerita film AADC 2, serta mengirimkan puisi Mo Aan. Berdasarkan hal tersebut, Mo memilih beberapa foto yang diambilnya yang menurutnya dapat diambil oleh Rangga.

Selanjutnya pada bulan Maret 2016, Mo berkunjung ke Jakarta untukmerevisi tata letak dirancang oleh Muhammad “Emte” Taufiq dan terkesan dengan hasilnya.

Mo pun mengaku senang sekaligus salut dengan kejeniusan Aan dalam menulis puisi dari sudut pandang Rangga.

Menurutnya, inilah alasan mengapa buku tersebut Tidak Ada New York Hari Ini bisa laris manis di pasaran. Kecuali tentu saja keberhasilan Mira dan Riri dalam memposisikan buku ini di dalam dan sekitar AADC 2 dan Hari Puisi Nasional.

Kota New York dan fotografi

Mo berangkat ke New York pada tahun 1986 dan melanjutkan studinya di lapangan grafik komputer. Sepulang sekolah ia menetap di kota dengan julukan Big Apple.

Bagi Mo, New York adalah sumber inspirasi dan energi kreatif, baik untuk fotografi maupun hal-hal dalam kehidupan sehari-hari yang terus dia artistik. Fotografi hanyalah salah satu jalur kreatif yang dipilihnya sebagai rutinitas di sela-sela kesibukan pekerjaan kantoran.

“Saya selalu mencobamenjaga empat blog foto dengan tema yang berbeda selama empat tahun terakhir ini,” katanya. Keempatnya bisa dilihat di website moriza.com.

Kota adalah sumber inspirasi bagi Mo, dan setiap kota memiliki inspirasi spesifik untuk setiap fotografer. Apa yang berbeda bukanlah satu-satunya perbedaan lanskaptetapi juga tingkat energi.

Bagi Mo yang sudah 20 tahun memotret New York, kota ini memang sangat menarik. New York menawarkan kesempatan untuk mewakili budaya yang berbeda, karena New York adalah salah satunya perapian.

Energi kota ini sangat tinggi, mirip dengan Jakarta. Oleh karena itu, setiap pulang kampung, ia selalu menyempatkan diri untuk berfoto di jalan, di pasar, di stasiun, di terminal bus.

“Tapi saya bisa merasakan cara saya memotret di New York berbeda dengan memotret di Jakarta,” katanya.

Proyek berikutnya

http://www.moriza.com/post/143094031647/new-york-non-stop-the-second-photography-book-i

Sebelum mengerjakan proyek Tidak Ada New York Hari Inipada awal 2016, foto-fotonya diterbitkan bersama dalam buku koleksi foto Kota New York berjudul New York-Non Stop diterbitkan oleh penerbit Universe.

Saat ini ia sedang mengerjakan proyek instalasi multimedia yang menghubungkan Makassar, kota kelahirannya, dengan New York, kota tempat tinggalnya selama 30 tahun terakhir.

“Rencananya saya akan mengajukannya sebagai proposal untuk pameran dan bengkel Dari Rumah Budaya Rumata di Makassar,” ujarnya.—Rappler.com

BACA JUGA:

Live Result HK