Debat Gubernur-Cawagub Upaya Terakhir untuk Memenangkan Hati ‘swing voter’
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta akan menjalani debat publik perdana pada Jumat malam, 13 Januari.
Tiga pasangan calon (paslon) akan menyampaikan gagasan dan menjawab pertanyaan bertema “Perkembangan Sosial Ekonomi Jakarta”.
Sedangkan debat ini akan dibagi menjadi 6 segmen.
Sesi pertama menyampaikan visi misi, program kerja unggul dan integritas, kata Komisioner Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta, Betty Epsilon Idroos, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 12 Januari.
Pada sesi kedua dan ketiga, moderator akan menanyakan pertanyaan yang sama kepada masing-masing pasangan calon, yang akan dijawab secara bergantian. Dalam sesi ini, setelah dijawab, masing-masing kandidat berhak menanggapi atau memperdebatkan jawaban lainnya.
Pada sesi keempat dan kelima, masing-masing pasangan calon bisa saling bertanya. “Selama tidak keluar topik, mereka boleh bertanya. “Kita bisa saling membalasnya nanti,” kata Betty.
Dalam sesi ini, para pasangan calon harus sudah menyiapkan data, dan saling menyikapi jika ada perbedaan atau kelebihan dan kekurangan yang ingin disampaikan kepada publik.
Debat akan dimoderatori oleh mantan presenter Ira Koesno yang akan menjawab pertanyaan dari 4 panelis. Betty mengatakan, nama-nama panelis akan diumumkan secara resmi pada hari debat.
Dari segi undangan, KPUD DKI Jakarta mengundang partai politik pengusung pasangan calon dan pejabat terkait. Sementara untuk pendukung dan keluarga, hanya disediakan 100 undangan yang bisa ditukarkan di tempat debat yang digelar mulai Jumat sore di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.
Apa yang bisa Anda harapkan?
Pengamat politik Ray Rangkuti menilai kinerja paslon nomor urut 1, Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni menjadi daya tarik perdebatan besok. “Keingintahuan masyarakat terhadap Agus sangat tinggi,” ujarnya.
Dalam beberapa debat tidak resmi yang digelar televisi swasta, Agus-Sylvi menjadi satu-satunya pasangan calon yang tidak hadir. Perilaku tersebut pun menuai cibiran dari pendukung pasangan calon lainnya di media sosial.
Dalam debat resmi KPUD DKI Jakarta ini, setiap pasangan calon wajib hadir. Kubu Agus-Sylvi pun menyatakan calonnya pasti akan menghadiri setiap debat resmi yang digelar KPUD DKI Jakarta.
Saat ditanya calon mana yang diprediksi menang, Ray mengaku belum bisa menjawab karena debatnya sendiri belum terlaksana. Namun, ia menganalisis ciri-ciri masing-masing paslon dari aktivitasnya selama ini.
Pertama, dia menjelaskan soal paslon nomor urut 3, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Anies itu konseptual, dia masih punya waktu untuk menjelaskannya secara teknis, kata Ray.
Salah satunya saat keduanya menyatakan ingin menjadikan Jakarta kota bahagia. Ray mengatakan kebahagiaan itu bersifat konseptual dan tidak bisa dikejar.
Menurut Ray, konsep “kebahagiaan” perlu dijelaskan lebih teknis; seperti pengentasan kemiskinan hingga pemberantasan kemacetan lalu lintas.
“Kebahagiaan yang tidak teknis hanya bisa dirasakan, bukan dipupuk,” ujarnya.
Untuk itu, lanjut Ray, seharusnya Sandiaga sebagai tandem Anies lebih dominan di sini, dalam hal konsep dan teknis yang mungkin bukan kelebihan Anies, agar bisa dilampaui oleh rekannya.
Kalau Anies, dia pintar, asal tidak bicara teknis, kata Ray.
Sebaliknya, pasangan calon nomor urut dua, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat justru unggul di bidang teknis. Pengalaman mereka sebagai petahana memudahkan untuk menguraikan program dan proses dengan jelas.
Namun, status pemain lama juga menjadi pedang bermata dua. Jika program Ahok-Djarot selama memimpin Jakarta tidak terlaksana atau akhirnya gagal, bisa saja pasangan calon lain menggunakannya sebagai amunisi penyerangan.
Tak hanya itu, Ahok juga dikenal sebagai orang yang berpikiran pendek. “Dua pasangan lainnya bisa saja mencari pola agar Ahok kehilangan emosi dan mengucapkan kata-kata di luar skenario,” kata Ray.
Dia tak banyak berkomentar soal Agus karena belum ada catatan jelasnya. Sebelum memutuskan menjadi salah satu calon cagub, Agus menyandang pangkat mayor TNI. Namun jika ternyata Agus mampu menunjukkan kinerja yang baik, maka keunggulannya di berbagai survei kelayakan bisa dipertahankan.
Saingan ‘swing voter’
Direktur Populi Center Usep S. Ahyar mengatakan debat tersebut merupakan salah satu upaya kampanye yang didanai negara. Bagi Pilkada DKI Jakarta, itu merupakan upaya meraih suara hampir 33 persen ayunan pemilih.
Berdasarkan survei yang dilakukan lembaga tersebut, sebanyak 66 persen pemilih sudah memutuskan pasangan calon yang akan dipilihnya. “Tingkat loyalitas yang paling tinggi mungkin nomor 2,” kata Usep.
Namun ada 29 persen yang belum menentukan pilihannya. Sedangkan 4 persen lainnya tidak tahu atau tidak mau menjawab. Debat publik ini merupakan cara pasangan calon untuk menyemangati warga yang masih kebingungan memilihnya.
Alasan mengapa debat lebih efektif dibandingkan metode kampanye lainnya adalah karena profil partainya ayunan pemilih Ini. “Dari segi pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan politik, maka semakin baik pula kemampuan menilai substansi atau isi perdebatan. Ayunan pemilih “lebih diisi oleh orang-orang terpelajar,” kata Usep.
Masyarakat yang terklasifikasi ayunan pemilih Hal ini, kata Usep, tidak termakan isu SARA yang melanda Jakarta beberapa bulan terakhir. Mereka lebih mudah terpengaruh oleh jawaban-jawaban debat yang logis dan koheren.
Namun bukan berarti pemilih yang sudah mengambil keputusan tidak bisa dibujuk untuk memilih. Salah satu caranya adalah melalui faktor ketertarikan terhadap permasalahan perkotaan yang akan dibahas dalam debat.
“Seperti misalnya khawatir“Baik soal kemacetan lalu lintas, maupun hak asasi manusia, mereka bisa membandingkan jawaban paslon mengenai topik-topik tersebut dan memilih yang terbaik,” kata Usep.
Ada juga faktor emosional yang bisa dieksploitasi oleh calon pasangan melalui gerak tubuh mereka. Misalnya, jika pasangan calon terus-menerus diserang dan bertindak seolah-olah menjadi korban, maka masyarakat akan bersimpati.
“Atau bisa juga kalau ada pasangan calon yang terlalu agresif, orang-orang tetap cenderung tidak suka dengan orang seperti itu. “Mereka lebih memilih sopan, menarik,” ujarnya.
Baik Ray maupun Usep akhirnya sepakat bahwa debat ini merupakan upaya terakhir KPUD DKI Jakarta untuk menggiring pemilih menjadi lebih rasional. Pilkada (Jakarta) itu unik, tidak banyak bicara keunggulan paslonnya, tapi menyerang paslon lain, kata Ray.
Dengan saling berkompetisi di hadapan masyarakat pemilih, maka jawaban pasangan calon dapat diperbandingkan. Melalui diskusi membandingkan jawaban yang diberikan, diharapkan siapa pun gubernur terpilih akan menjadi yang terbaik.
“Pokoknya jangan diolok-olok kalau jawabannya aneh-aneh, seperti meme di media sosial. “Ini bukan soal perbandingan,” kata Ray.—Rappler.com