Ziarah ke Makam Proklamator Republik Indonesia Bung Karno
keren989
- 0
BLITAR, Jawa Timur – Pukul 07.30 WIB, beberapa petugas berseragam batik mulai bersiap di depan gapura berupa gapura ala Bali yang merupakan pintu masuk makam Presiden RI ke-1. Sukarno.
Kompleks makam seluas 4.000 meter persegi ini terletak di Desa Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. “Pengunjung diharapkan mengisi buku tamu dan masuk dengan tertib,” kata petugas melalui pengeras suara. Masuk ke makam ini gratis.
Satu jam sebelum jam buka, puluhan jamaah asal Jakarta Utara sudah menunggu di depan pintu gerbang. Ketika akhirnya diperbolehkan masuk, mereka berlutut di sebelah kiri makam Bung Karno. “Ibu bersama rombongan ini atau sendirian?” tanya Juni salah satu petugas. jawabku sendirian. Dia mengajak saya untuk mengambil posisi di sebelah kanan. Para peziarah mulai berdoa di bawah bimbingan seorang pemimpin rombongan.
Terdapat tiga buah makam pada bangunan khas Jawa berbentuk joglo dengan ukiran kayu yang indah pada tiang dan langit-langitnya. Makam Bung Karno yang bernama asli Koesno Sosrohardjo ini dikelilingi makam ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai dan ayahnya, Raden Soekemi Sastrohardjo.
Tak lama kemudian, rombongan peziarah lain datang. Jadi, pada pagi itu, Kamis, 10 Agustus 2017, ada 50 jemaah. Usai berdoa, mereka menaburkan bunga.
“Ini adalah musim haji dan musim liburan telah berakhir. Sangat sepi. Kalau akhir pekan, akhir tahun, dan libur panjang, ribuan orang datang setiap harinya,” kata Juni. Nuansa peringatan kemerdekaan RI ditandai dengan adanya poster bernuansa merah putih yang dililitkan pada pilar-pilar bertuliskan kalimat sejarah Bung Karno.
Meski jauh dari ibu kota Jakarta yang menjadi episentrum politik dan kekuasaan, makam Bung Karno seakan masih menyimpan magnet, daya tarik pengunjung hingga kini, 47 tahun setelah kepergiannya. Mereka datang dari seluruh penjuru negeri.
“Di sini dimakamkan BUNG KARNO, PROKLAMATOR KEMERDEKAAN DAN PRESIDEN PERTAMA REPUBLIK INDONESIA. Lahir 6 Juni 1901, Meninggal 21 Juni 1970. PEMBICARA LIDAH RAKYAT.
Kalimat tersebut tertulis pada batu marmer berwarna gelap di ujung nisan marmer putih. Bung Karno ingin kata-kata itu tertulis di kuburnya. Bung Karno sebenarnya menginginkan pemakaman yang sederhana. Makamnya tidak perlu dilengkapi nisan atau nisan. Cukup ditulis di atas. Namun bukan hanya wasiat Bung Karno tentang pemakamannya saja yang tidak dipenuhi.
“Saya sangat ingin beristirahat di bawah pohon yang rindang, dikelilingi pemandangan yang indah, di samping sungai yang airnya jernih. Saya ingin berbaring di antara perbukitan dan ketenangan. Hanya keindahan tanah yang saya cintai dan kesederhanaan bagaimana saya hidup. Saya berharap rumah terakhir saya adalah daerah Priangan yang dingin, bergunung-gunung, subur, tempat pertama kali saya bertemu dengan petani Marhaen,” kata Bung Karno dalam buku Bung Karno Juru Bicara Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams pada tahun 1965.
Belakangan, Bung Karno ingin dimakamkan di dekat Istana Batutulis di Bogor yang dibangun pada tahun-tahun terakhir pemerintahannya. Bung Karno meninggal di Jakarta sebagai tahanan politik. Presiden ke-2, Soeharto, memutuskan Bung Karno akan dimakamkan di Blitar.
Dalam biografi berjudul ‘Suharto, Pikiran, Ucapan dan Tindakanku’ yang ditulis oleh G. Dwipayana, Soeharto menjelaskan alasan Sukarno dimakamkan di Blitar. Menurutnya, semasa hidupnya Bung Karno sangat menyayangi dan menghormati ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai.
“Dia sangat menghormatinya. Jika ia akan bepergian ke tempat yang jauh dan kemana saja, ia terlebih dahulu bersujud dan meminta restu kepada ibunya. Setelah itu dia pergi. Walaupun dia orang yang mempunyai kedudukan tinggi dan terpelajar, namun dia tetap menghormati ibunya,” aku Soeharto dalam buku tersebut.
“Saya melihat kebiasaan Bung Karno dan memutuskan alangkah baiknya jika Bung Karno dimakamkan di dekat makam ibunya di Blitar. Ini alasan saya dan keputusan saya tentang pemakaman proklamator kita,” kata Soeharto lagi.
Menurut Soeharto, ada protes dari ibu-ibu dan anak-anak Bung Karno atas keputusan itu saat itu. Namun dia tidak menanggapi protes tersebut. “Kalau saya menuruti keinginan mereka, saya kira tidak akan ada solusi,” ujarnya.
Analis sejarah menduga, alasan sebenarnya adalah karena Soeharto khawatir jika dimakamkan di atau dekat Jakarta, kharisma Sukarno yang akan menghidupkan para pengikutnya yang fanatik akan mengganggu stabilitas kekuasaan Soeharto. Hampir setengah abad kepergian Bung Karno, kecintaan masyarakat terhadap sosoknya tak pernah pudar.
Memang makamnya sudah dipercantik dan ditambah beberapa fasilitas, termasuk ruang pamer lukisan dan peninggalan Bung Karno. Terdapat juga perpustakaan yang berisi buku-buku koleksi Putra Fajar. Putri Bung Karno, Megawati Soekarnoputri, meresmikan renovasi kompleks makam tersebut pada tahun 2004.
Di belakang areal makam, terdapat ratusan lapak pedagang kecil yang menjajakan souvenir bernuansa Bung Karno. Membawakan makanan untuk warga sekitar kuburan. –Rappler.com