• March 20, 2026
Badai Ahok dan PDIP, Sepihak?

Badai Ahok dan PDIP, Sepihak?

Perolehan suara parpol pimpinan Megawati Soekarnoputri ini tak bulat, malah ada kesan ada dua kubu di partai raksasa tersebut.

JAKARTA, Indonesia – Menjelang pemilihan kepala daerah pada Februari 2017, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama semakin mendapat tempat di panggung. Pria yang akrab disapa Ahok itu berencana kembali mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di ibu kota negara itu.

Berbagai kontroversi mewarnai tindakan Ahok. Mulai dari apakah ia akan maju melalui jalur independen, atau akhirnya bergabung dengan salah satu atau gabungan partai politik. Meski sudah vokal tak akan berada di bawah sayap partai, ada beberapa indikasi Ahok mencoba masuk ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Reaksi partai politik pimpinan Megawati Soekarnoputri itu juga bukan tanpa drama. Seolah-olah ada dua suara dalam satu tubuh pesta raksasa ini. Mari kita lihat hubungan antara Ahok dan PDIP.

Manajemen independen

Indikasi awal Ahok akan menggemparkan bursa calon gubernur DKI Jakarta sudah santer beredar sejak 2015. Namun niatnya baru diumumkan Ahok pada awal Maret lalu. Ia saat itu mengatakan akan maju dari jalur mandiri. Awalnya, pernyataan ini direncanakan pada Mei 2016.

“Saya bisa membuat pernyataan minggu depan atau dua minggu lagi,” ujarnya kepada media. Namun, saat itu kelompok relawan Sahabat Ahok tidak mendapatkan syarat yang diminta Ahok, yakni dukungan 1 juta KTP.

Sosok tersebut dipilih Ahok sebagai bukti sahih bahwa masyarakat Jakarta sangat menginginkan dirinya kembali menjadi gubernur.

Niatan itu juga ditegaskannya kembali pada Mei lalu saat melantik Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah BPKAD, Heru Budi Hartono, sebagai calon wakil gubernur. Di sana ia kembali menegaskan tak akan meneruskan jalur partai.

“Kami memutuskan untuk tidak menggunakan partai,” katanya. pada saat yang sama, Ia menolak jika PDIP mengusungnya sebagai calon partai di pilkada. Pasalnya, jika diusung PDIP, ia harus memilih wakil, bahkan menjadi wakil, dari antara calon yang diajukan PDIP.

Selain itu, ia sudah ‘mendaftar’ terlebih dahulu melalui jalur mandiri. Sebab, pihaknya tak mungkin menerima tawaran dari partai tersebut. “Banyak tawaran, dari berbagai pihak, tapi saya bilang TIDAK mungkin karena pendaftaran mandiri dulu,” dia berkata.

Apalagi, setelah bertemu Megawati akhir pekan lalu, Ahok semakin tegas dengan menyatakan tidak akan menelantarkan relawannya. “Jika itu aku, itu tidak mungkin meninggalkan teman Ahok. Sesuatu yang bisa sangat mengecewakan,” dia berkata.

indikasi partai

Meski demikian, mantan Bupati Belitung Timur itu beberapa kali menunjukkan tanda-tanda merapat ke PDIP. Jika terealisasi, ia akan berpasangan dengan Wakil Gubernurnya saat ini, Djarot Saiful Hidayat.

Ahok beberapa kali bertemu Megawati di berbagai kesempatan. Salah satunya terjadi pada KTT Luar Biasa OKI pada Maret lalu. Saat itu Ahok mengatakan bahwa Ny. Banteng tak berkeberatan jika ia terus berangkat bersama para relawan.

“Dia juga tidak mau Teman-teman Ahok kecewa. Makanya saya bilang, mereka meminta Anda mengeluarkan surat untuk mendukung atau membawanya,” ujarnya. Tetapi Megawati menjawab tindakannya harus melalui mekanisme partai yang jelas rumit.

Dari situ banyak yang bertanya, apakah PDIP sebenarnya menginginkan Ahok menjadi calonnya atau tidak. Suara anggota partai juga terbagi.

Politisi PDI Perjuangan Charles Honoris tak sepenuhnya yakin dengan pilihan Ahok yang menolak garis partai. Menurutnya, Ahok sebenarnya memilih jalur partai sejak awal ketimbang mendaftar melalui jalur perseorangan.

Hanya saja, Ahok saat itu khawatir tidak ada pihak yang meminangnya hingga batas waktu pendaftaran di KPU DKI Jakarta. Saya yakin Pak Ahok-Djarot bisa maju lagi, ujarnya.

Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal PDIP, mengungkapkan pihaknya tak mau bernegosiasi dengan Ahok jika tak mau menghormati prinsip PDIP. “Kami tegaskan semuanya harus melalui partai,” ucapnya sambil mengisyaratkan partai tidak akan mendukung calon yang bukan anggota.

Namun, bukan berarti mereka menolak mentah-mentah suami Veronica Tan. Ahmad Basarah, Wakil Sekjen PDIP, mengatakan Ahok masih berpeluang meraih dukungan partainya. “Anda harus terlebih dahulu ‘mengubah politik’,” katanya.

Ia juga menambahkan, Ahok salah mengambil jalur saat mendaftar sebagai calon perseorangan.

Ahok harus mengikuti tahapan yang digariskan partai untuk memenuhi standar kelayakan. Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira juga mengatakan Ahok harus mengurus para relawannya terlebih dahulu.

PDIP dengan tegas menyatakan tidak akan mengejar Ahok menjadi kadernya. Kalau Ahok butuh dukungan, biarlah dia yang bertanya langsung ke Bulls.

Karena masalah?

Namun, benarkah keengganan PDIP hanya karena Ahok bukan anggota partainya? Apakah Ahok juga memilih jalur independen karena terbuka duluan?

Hubungan antara keduanya bukan hanya tawa. Kisruh antara Ahok dan Bulls bermula dari anggaran anggaran elektronik. Saat itu, anggota PDIP di DPRD Jakarta termasuk yang menolak, bahkan mengajukan hak berpendapat (HMP).

Tak lupa, Basarah juga mengungkapkan kekhawatirannya jika Ahok mendapat dukungan, ia malah terseret ke dalam kontroversi kasus korupsi RS Sumber Waras yang masih berlanjut. “Jangan jadi calon gubernur, tiba-tiba jadi tersangka,” ujarnya.

Kasus-kasus tersebut, termasuk kontroversi daur ulang Teluk Jakarta, memaksanya bolak-balik ke markas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk diperiksa sebagai saksi. Bahkan, popularitasnya menurun.

Namun, Ahok mungkin harus mempertimbangkan soal dukungan partai. Apalagi setelah revisi RUU Pilkada membuatnya sulit maju sebagai calon independen. Atau akankah ada keajaiban pada akhirnya bagi calon petahana ini?

Masyarakat hanya bisa menunggu. – Rappler.com

BACA JUGA:

sbobet