• April 9, 2026

Seiring meningkatnya suhu permukaan laut, terumbu karang Malang terancam rusak

MALANG, Indonesia – Sore itu, Andy Syaifudin kembali menyelam di tepian Pantai Kondang Merak, Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kali ini dia berada di laut bersama Ke dalam waktu yang lamasekitar 2 meter di dalamnya.

Di tangannya ada karang Acropora putih yang terkoyak dari substrat buatan. Beberapa ikan karang warna-warni berkumpul tak jauh dari karang putih. Carilah sisa makanan yang masih menempel pada karang yang sekarat.

“Karang ini memutih, warnanya menjadi putih. “Tidak butuh waktu lama, jika suhu permukaan laut tetap tinggi maka akan mati dimakan alga dan menjadi karang mati bersama alga,” kata Andy, Minggu 15 Mei.

Sejak lima tahun lalu, Andy rajin menanam karang acropora di pantai Kondang Merak bersama Sahabat Alam Indonesia (Salam), sebuah organisasi konservasi yang berkantor pusat di Kondang Merak.

Terdapat ratusan karang acropora di tepian Pantai Kondang Merak, lengkap dengan label nama penanam karang.

Salam sengaja mengajak pengunjung Kondang Merak untuk semangat mengikuti penanaman karang. Mereka bisa secara sukarela berdonasi untuk setiap karang acropora yang ditanam dengan menggunakan name tag pengunjung. Sumbangan yang masuk digunakan untuk membuat substrat dan penghasilan tambahan bagi para relawan yang membantu penanaman, pemuda dan nelayan setempat. Salah satu upaya sederhana untuk mengajak warga sekitar agar peduli terhadap kelestarian terumbu karang dan berhenti berburu lobster dengan kalium.

Kini sebagian besar karang yang mulai tumbuh telah mati akibatnya pemutihan karang. Terumbu karang lain yang tumbuh secara alami juga mengalami nasib serupa. Kebanyakan dari mereka mulai memutih dan mati. “Kalau terumbu karang mati pasti ikan-ikan karang ini hilang, mungkin berpindah ke tempat lain atau mati,” ujarnya.

Pemutihan karang akibat kenaikan suhu permukaan laut

Sore itu suhu permukaan laut terasa hangat. Alat pengukur suhu menunjukkan 30,5 derajat Celcius pada pukul 15.30 WIB. Suhu relatif lebih rendah dibandingkan beberapa hari sebelumnya, 32 derajat Celcius.

Oktiyaz Muzaki Lutfi, akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, mengatakan suhu permukaan laut mengalami peningkatan sejak April 2016 hingga saat ini. Tak hanya di Kondang Merak, kenaikan suhu juga terjadi di sebagian besar pesisir Samudera Hindia, mulai dari ujung timur Pulau Jawa hingga Sumatera.

“Suhu permukaan laut meningkat dua derajat. Berdasarkan peta suhu permukaan laut di website NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), hal ini terjadi di Samudera Hindia hingga perairan Australia, kata Oktiyas Muzaki Lutfi, Minggu 15 Mei.

Suhu rata-rata di perairan Malang Selatan bervariasi antara 27 derajat hingga 30 derajat Celcius. Jika suhu berubah menjadi lebih dingin atau lebih hangat, lebih dari satu derajat dalam jangka waktu lama, terumbu karang akan menunjukkan gejala yang jelas.

“Jika suhu hangat berlangsung sekitar delapan minggu, sebagian besar karang, terutama spesies Acropora, akan sangat rentan terhadap pemutihan dan kematian. Prosesnya, karang pada empat minggu pertama akan transparan atau berwarna putih, kemudian mati dan ditumbuhi alga jika suhu tidak turun, ujarnya.

Selain kenaikan suhu, pemutihan karang Hal ini dapat terjadi akibat pencemaran air laut dan paparan limbah logam berat. Ketiga hal tersebut akan mematikan Zooxanthellae, plankton yang menempel pada karang dan melakukan fotosintesis. Zooxanthellae akan memberi warna pada karang. Jika Zooxhantellae mati atau pergi, karang akan menunjukkan warna aslinya yang putih tulang. Zooxhantellae dapat kembali lagi jika suhu sudah turun dan karang tidak ditumbuhi alga.

“Yang terjadi di Kondang Merak adalah pemutihan akibat kenaikan suhu karena terjadi secara masif mulai dari Situbondo hingga Sumatera,” ujarnya.

Di Malang sendiri, selain Kondang Merak, hal serupa juga terjadi di Pantai Balekambang, Kecamatan Bantur, dan Pantai Tiga Warna di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.

Terumbu karang tempat ikan hidup

Terumbu karang yang sehat memiliki banyak fungsi. Mereka akan menjadi rumah bagi ikan karang untuk mencari makan, bertelur dan mencari perlindungan. Snorkeling di Kondang Merak, pengunjung akan dengan mudah menemukan lionfish dan bulu babi yang bersembunyi di bawah terumbu karang bersama lobster. Ada juga ikan badut yang bermain di antara anemon laut dan padang lamun. Flatfish berwarna biru atau hitam seperti Dori di film Mencari Nemo berenang bolak-balik bersama berbagai ikan sejenis, di antara terumbu karang yang hidup.

“Secara ekologis fungsinya sebagai tempat berlindung, tempat bertelur ikan kerapu, tempat penyerapan karbon, tempat lobster dan juga sebagai pelindung pantai dari gerusan,” kata Oktiyas.

Kenaikan suhu tidak dapat dicegah. Namun, pengunjung pantai dapat mengurangi tingkat stres pada terumbu karang. Caranya dengan mengurangi aktivitas menyelam atau snorkeling yang berpotensi meningkatkan tingkat stres karang.

“Snorkeling atau diving berpotensi menyentuh atau menginjak karang. Hal ini akan meningkatkan tingkat stres dan menurunkan ketahanan karang. “Kegiatan ekowisata seperti itu sebaiknya dikurangi dulu hingga suhu menjadi dingin,” ujarnya.

Di antara puluhan pantai wisata yang ada di Kabupaten Malang, Kondang Merak dan Tiga Warna populer sebagai spot snorkeling dengan terumbu karang yang cukup bagus dan ombak yang tenang di jam-jam tertentu.

Di wilayah yang lebih dalam, terumbu karang tidak terlalu terpengaruh oleh peningkatan suhu permukaan laut. Oktiyas mengatakan permukaan laut dengan kedalaman hingga 20 meter berpotensi terkena paparan suhu yang lebih tinggi. Sedangkan pemutihan di Kondang Merak paling banyak terjadi di kedalaman lima meter.

Suhu lautan lebih tinggi dibandingkan daratan

Suhu permukaan laut berpotensi naik lebih hangat dibandingkan suhu di wilayah lain di Tanah Air. Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Malang menyebutkan Mei hingga Juni merupakan suhu puncak terpanas sepanjang tahun. Bulan ini juga diikuti dengan perubahan suhu yang cukup ekstrim akibat berakhirnya musim hujan dan musim kemarau.

“Sepanjang tahun, bulan Mei dan Juni memiliki suhu terpanas,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Karangploso, Hartanto. BMKG mencatat suhu rata-rata mencapai 30 derajat Celcius dan tidak menunjukkan gejala kenaikan suhu ekstrem.

“Suhu saat ini antara 30 hingga 32 derajat Celcius, tidak ada gejala ekstrem di luar normal. “Tetapi suhu bisa lebih tinggi dari itu, terutama di sekitar pantai, perkotaan, dan bisa lebih rendah di daerah pegunungan,” ujarnya.

Hartanto mengatakan suhu permukaan laut relatif mudah berubah akibat panas matahari. Namun, hal berbeda akan berlaku pada lautan secara keseluruhan. Pada musim kemarau, suhu laut umumnya akan lebih dingin dibandingkan pada musim hujan. Akibatnya, awan hujan yang terbentuk lebih sedikit dibandingkan saat musim hujan.

“Proses pemanasan laut secara umum memerlukan waktu yang sangat lama. Jika terjadi peningkatan suhu laut yang besar maka akan terjadi badai dan hujan. “Saat ini curah hujan semakin berkurang dan kita memasuki musim kemarau pada bulan Juni,” ujarnya.

Sedangkan bulan Mei seharusnya menjadi musim panen gurita bagi nelayan Kondang Merak. Ikan yang kerap dimasak dengan berbagai bumbu, mulai dari kuah santan, tumis, asam manis, hingga kecap, memiliki tekstur agak kenyal dan rasa gurih. Nilai ekonominya memang tidak setinggi ikan pelagis atau laut dalam andalan Malang seperti Tuna, Cakalan, dan Tongkol. Namun bagi para nelayan, gurita bisa dijadikan makanan tambahan bagi keluarganya di rumah.

Pada bulan Mei ini, gurita tidak lagi ditemukan di Poukus yang terkenal dengan garis pantai seluas 850 meter persegi. Terumbu karangnya banyak yang mati, guritanya menghilang mencari terumbu karang lain yang masih hidup, kata Andik Syaifudin. – Rappler.com

HK Hari Ini