Sudah saatnya Les Bleus mengesampingkan keraguan
keren989
- 0
Tim asuhan Didier Deschamps menang tidak meyakinkan di game pertama. Bagaimana sekarang?
JAKARTA, Indonesia – Laga perdana Prancis di Euro 2016 tak menunjukkan kelasnya sebagai favorit juara. Mereka memang menang 2-1 atas Rumania. Kemenangan yang baru didapat pada menit ke-89 lewat Dimitri Payet menunjukkan tim masih belum sempurna.
Di babak pertama, pasukan Didier Deschamps bermain dengan intensitas rendah. Tidak banyak peluang yang dihasilkan. Bahkan, mereka memasang pemain terbaiknya.
Trio penyerang diisi pendobrak terbaik Prancis: Antoine Griezmann di kanan, Olivier Giroud di tengah, dan Payet di kiri.
Tiga gelandang di belakang mereka adalah Blasé Matuidi, N’Golo Kante dan Paul Pogba.
Namun pemain juga beberapa kali melakukan kesalahan. Pogba yang biasanya masuk ke area berbahaya lawan justru kerap terpinggirkan. Begitu pula dengan Griezmann yang disingkirkan habis-habisan oleh bek Rumania.
Alhasil, Prancis yang usai unggul 1-0 di babak pertama harus rela menyamakan skor melalui Rumania pada menit ke-65 melalui Bogdan Stancu. “Prancis tertatih-tatih di pertandingan pertama mereka,” kata penulis sepak bola Jonny Singer di Daily Mail.
Lantas bagaimana laga kedua mereka melawan Albania, Kamis 16 Juni di Stade Velodrome, Marseille, pukul 02:00 WIB?
Sebelum laga digelar, Deschamps tak mau memberikan tekanan kepada pasukannya. Ia tahu Pogba mendapat kritik keras di laga itu. “Paul bisa berbuat lebih baik, saya tahu. tapi saya tidak ingin terlalu keras padanya,” kata Deschamps dikutip dari Daily Mail.
Kapten tim Hugo Lloris mengakui timnya banyak mendapat kendala di laga pertama. Keadaan ini memang bisa dibilang biasa saja. Sebab, menjelang turnamen dimulai, masalah internal kembali menimpa tim.
Deschamps harus melepas striker Real Madrid Karim Benzema berdiri dalam barisan Prancis dibawa ke Euro 2016. Benzema sempat terlibat konflik dengan Mathieu Valbuena.
Absennya Benzema bisa membuat skuad semakin solid. Sebab Deschamps sangat menegakkan disiplin. Para pemain lebih percaya pada kepemimpinannya.
Meski demikian, harus diakui Benzema adalah mesin gol Prancis. Musim ini ia mencetak 24 gol untuk Real Madrid dan total 27 gol untuk timnas.
Namun, Lloris menilai bukan itu masalahnya. Tapi ini lebih bersifat spiritual. Penyebab utamanya adalah masalah mental, kata kiper Tottenham Hotspur itu dikutip oleh Sports Mole.
“Pada pertandingan pertama kami tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tekanannya jauh lebih besar dari biasanya, kata pemain berusia 29 tahun itu.
“Tapi, di laga kedua akan berbeda,” janjinya.
Misi Albania menghentikan Payet
Prancis harus segera menghilangkan keraguannya. Pasalnya Albania bukanlah tim yang mudah dikalahkan. Melawan Swiss di laga pertama mereka hanya kalah 0-1. Faktanya, julukan tim Elang (Si Elang) bermain dengan sepuluh orang.
Di laga pertama, Albania juga mampu menunjukkan ketangguhan tim. Absennya Lorik Cana akibat kartu merah di laga pertama bisa digantikan oleh Ledian Memushaj.
Pelatih Albania asal Italia, Gianni De Biasi, jelas mendasarkan permainan timnya pada pertahanan yang solid.
Pemain sayap kanan Odise Roshi bisa digantikan oleh Andi Lila yang berposisi sebagai bek kanan. Tujuannya adalah meredam winger paling berbahaya asal Prancis: Payet.
Lila akan mengcover pergerakan Payet dengan Elseid Hysaj. Hysaj adalah bek kanan Albania yang bermain di Italia bersama Napoli.
Payet patut mendapat perhatian khusus dari pasukan De Biasi, selain talenta Prancis lainnya. Pasalnya, pemain West Ham United itu terbukti bisa menjadi pembeda ketika rekan-rekan setimnya tak mampu berkreasi akibat solidnya pertahanan lawan.
Situasi bagi Prancis sedikit lebih sulit karena rekornya berpihak pada Albania dalam dua tahun terakhir. Sejak 2014, Hugo Lloris dan kawan-kawan belum pernah mengalahkan Albania.
Keduanya bermain imbang dalam pertandingan persahabatan pada November 2014 dan Albania justru menang 1-0 saat bentrok pada 13 Juni tahun lalu.
Albania jelas akan lebih bersemangat untuk melakukannya lagi. Pada keikutsertaan pertamanya di ajang sepak bola empat tahunan Eropa, Lorik Cana jelas bermain lebih leluasa.
Apapun hasilnya, keikutsertaan mereka di Euro 2016 sudah menjadi prestasi besar bagi republik berpenduduk hanya 2 juta jiwa itu.
Deschamps mengakui laga nanti akan berjalan sulit bagi kedua tim. Pasukannya khususnya perlu menciptakan lebih banyak inisiatif menyerang.
Karena itulah ia tetap berharap Payet kembali bermain gemilang. “Payet memainkan peran yang sangat penting dalam situasi seperti ini. Di level klub, karyanya selalu menentukan hasil pertandingan. “Sekarang dia menyebarkannya di pertandingan internasional,” ujarnya.–Rappler.com
BACA JUGA: