• March 23, 2026
Mengapa penting bagi calon kepala daerah untuk membahas isu-isu perempuan?

Mengapa penting bagi calon kepala daerah untuk membahas isu-isu perempuan?

Perdebatan ini menjadi pintu masuk untuk mulai membahas masa depan seperti apa yang diinginkan perempuan di Jakarta.

JAKARTA, Indonesia — Salah satu tema debat publik antara gubernur dan calon gubernur pada Jumat, 10 Februari 2017 adalah pembahasan mengenai pemberdayaan perempuan. Sejak awal kampanye, para kandidat telah menguraikan program mereka mengenai topik ini.

Dalam program 3 paslon ini banyak fokus pada pemberdayaan ekonomi, fasilitas bagi ibu hamil dan menyusui, serta keselamatan transportasi umum dan jalan raya. Tapi apakah itu cukup?

Namun sejumlah aktivis perempuan melihat program tersebut masih fokus pada perempuan yang sudah menikah. Padahal, persoalan perempuan tidak melulu soal keluarga atau reproduksi.

Misalnya saja terkait masalah kesehatan. “Kesehatan perempuan jauh lebih luas dibandingkan kesehatan ibu yang hanya berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. “Kesehatan perempuan mencakup segala penyakit yang bisa dialami perempuan, seperti kanker dan penyakit mental,” kata Kate Walton, penggagas Jakarta Feminist Discussion Group (JFDG) saat dihubungi Rappler, Kamis, 10 Februari 2017.

Belum lagi isu-isu lain seperti pendidikan, ketenagakerjaan dan keterlibatan dalam perumusan kebijakan. Juga akses air bersih, polisi dan militer yang ramah terhadap perempuan, kuota dan tindakan afirmatif agar lebih banyak perempuan di politik dan pemerintahan, dan topik lainnya.

Menurutnya, masih banyak permasalahan yang belum terselesaikan hingga saat ini. Seperti kurangnya pemahaman mengenai dampak kebijakan terhadap laki-laki dan perempuan. Termasuk proyek pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, angkutan umum, serta subsidi kesehatan dan pendidikan.

Salah satu contohnya adalah pembangunan jalan tol. “Kalau kita petakan aktivitas sehari-hari perempuan dan laki-laki, pasti ada perbedaan. Perbedaan tersebut disebabkan oleh peran gender yang bisa dikatakan masih tradisional yaitu perempuan mengasuh anak dan mengurus rumah tangga, laki-laki bekerja dan beraktivitas di luar rumah, ujarnya.

Artinya perempuan dan laki-laki akan menggunakan fasilitas umum dengan cara yang berbeda. Seperti halnya jalan tol, laki-laki pada umumnya akan menggunakan jalan tersebut untuk berangkat dan pulang kerja.

Jalan tol juga mengurangi waktu tempuh bagi pengguna kendaraan pribadi yang didominasi oleh laki-laki. Dari sudut pandang sosial, perempuan memiliki aktivitas berbeda yang memerlukan mobilisasi ke banyak tempat: ke pasar untuk berbelanja, ke sekolah anak, dan tempat lainnya.

“Jalan tol justru bisa mempersulit aktivitas mereka, karena perempuan lebih sering naik angkutan umum atau berjalan kaki,” ujarnya.

Masalah terbesar perempuan di Jakarta

Saat ditanya isu perempuan mana yang paling penting untuk dibicarakan oleh para kandidat, Kate menjawab sulit untuk menentukannya. “Harus ada program komprehensif yang mencakup seluruh elemen kebutuhan anak perempuan dan orang dewasa, termasuk kesehatan, pendidikan dan keamanan,” katanya.

Namun, diakuinya ada perubahan ke arah yang lebih baik dari sisi keamanan. Seperti fasilitas khusus perempuan di angkutan umum, penambahan 90 ribu lampu LED, dan pembangunan ruang terbuka yang dilengkapi CCTV.

Namun perempuan dan anak masih menjadi korban kekerasan, pelecehan dan pemerkosaan yang berujung pada pembunuhan. “Hal ini perlu diatasi dengan pendidikan yang komprehensif, penegakan hukum dan kebijakan yang pro perempuan,” ujarnya.

Komnas Perempuan juga punya pesan khusus untuk calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Sejauh ini lembaga tersebut sudah memulai kerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta dalam berbagai hal.

“Yang menjaga antara lain peringatan dan lokasi Mei 98,” kata Yuniyanti Chuzaifah, Wakil Ketua Komnas Perempuan.

Selain itu, juga harus ada tugas lain seperti memperkuat sistem layanan dan pengaduan korban kekerasan melalui mekanisme pengaduan online dan langsung. Mereka yang bertugas menerima laporan dan memberikan layanan harus baik hati dan berpegang teguh pada prinsip keadilan bagi korban.

Penting juga untuk memastikan kawasan ramah perempuan dan sistem transportasi ramah semua pihak. Sama seperti Kate, Yuniyanti juga meminta kebijakan tata ruang kota juga memikirkan kelompok rentan dan berpegang pada prinsip hak asasi manusia, termasuk perempuan.

Bagi Kate, perdebatan ini menjadi pintu masuk untuk mulai membahas masa depan seperti apa yang diinginkan perempuan di Jakarta. Apakah ini akan menjadi modal yang ramah perempuan, memastikan bahwa hak-hak perempuan dihormati, memudahkan perempuan dalam melakukan aktivitas mereka dan menjamin keamanan dan kenyamanan?

Ataukah ibu kota yang mengabaikan hak-hak perempuan sehingga menjadikan perempuan terpinggirkan?—Rappler.com

Data SDY