• March 21, 2026

Siapapun yang terpilih, itulah harapan para pemilih muda Jakarta

JAKARTA, Indonesia – Tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta harus berjuang keras untuk mendapatkan suara dari pemilih muda. Pasalnya, kelompok yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (GEC) adalah pemilih berusia 17-30 tahun berjumlah 27,3 persen dari seluruh pemilih di Jakarta.

Mengingat calon pasangan gubernur dan wakil gubernur harus memperoleh 50 persen plus satu suara, angka tersebut sangat signifikan. Namun sayangnya, pemilih muda masih kurang mendapat perhatian dari pasangan calon yang maju di Pilkada DKI Jakarta.

“Pada pemilu legislatif dan pemilu presiden sebelumnya, tim sukses dan generasi muda terlibat aktif dalam politik. Sekarang sudah tidak seperti itu lagi,” kata Iman Sjafei. kata salah satu dari 2 YouTuber yang tergabung dalam Assumption, yang sering mengadakan web show tentang isu-isu politik nasional dari sudut pandang anak muda.

Bersama Young Synergy Foundation, Asumsi menggelar acara bertajuk “Dengar Dong! Anak Muda Bicara Pilkada DKI” pada Rabu, 8 Februari, di Restoran Es Teler 77, Jakarta Selatan, pada 8 Februari. melihat rencana masing-masing pasangan calon dalam mengakomodir kebutuhan dan hak generasi muda Jakarta ketika terpilih nanti.

Kegiatan diskusi ini mempertemukan panelis muda dari berbagai latar belakang dan profesi dengan perwakilan dari masing-masing pasangan calon Gubernur DKI Jakarta.

Oleh karena itu, menurut Iman, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi pemilih muda Jakarta untuk menyampaikan pendapatnya kepada ketiga wakil paslon tersebut. Berbagai komunitas dan pemuda dari berbagai latar belakang diundang menghadiri kegiatan ini dan menjadi panelis untuk menyampaikan saran dan pertanyaan kepada perwakilan pasangan calon.

Mulai dari tata ruang hingga kemacetan lalu lintas

Sri Suryani, dari komunitas Ciliwung Merdeka, berharap siapa pun yang terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta ke depan, lebih memperhatikan penataan ruang kota di Jakarta.

“Setiap orang berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik, termasuk masyarakat korban pemukiman kembali,” kata Sri.

Menurut dia, Pemprov DKI Jakarta selama ini memilih menggunakan relokasi dalam proses pembangunan.

Meski masih banyak pilihan lain, antara lain konsolidasi lahan atau pembagian lahan, ujarnya.

Menurutnya, opsi ini lebih partisipatif karena masyarakat bisa dimintai pendapatnya terkait pembangunan.

Masih terkait tata ruang kota, Rozinul Aqli, mahasiswa yang sedang menyelesaikan gelar masternya di Universitas Kairo Mesir, memberikan beberapa masukan mengenai kebijakan transportasi umum di Jakarta. Menurut dia, kemacetan di Ibu Kota tidak hanya disebabkan oleh berbagai hal terkait transportasi saja, namun juga dipengaruhi oleh tata ruang kota.

“Harga rumah di pusat kota masih terlalu mahal sehingga banyak pekerja yang lebih memilih tinggal di luar Jakarta. “Ini justru meningkatkan mobilitas pekerja keluar masuk Jakarta,” kata Rozinul.

Ia berharap ada terobosan baru untuk mengatasi kemacetan Jakarta, termasuk meningkatkan ketersediaan perumahan murah di kota tersebut. Karena dapat mengurangi mobilitas pekerja yang sangat tinggi, diharapkan dapat mengurangi kemacetan di Jakarta.

Mulai dari hak penyandang disabilitas hingga pendidikan

Permasalahan transportasi umum juga menjadi perhatian beberapa penyandang disabilitas yang mengikuti kegiatan ini. Misalnya saja Annisa Rahmania dari Young Voice Indonesia.

Annisa yang merupakan seorang tuna rungu kerap terlibat aktif di berbagai forum pemuda penyandang disabilitas internasional dan berharap Jakarta menjadi kota yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas.

“Sepertinya pemerintah kurang memperhatikan pejalan kaki bagi penyandang disabilitas. Hal ini terlihat dari masih banyak area pejalan kaki yang terhalang pepohonan atau tempat parkir sepeda motor. “Ini tidak hanya menyulitkan penyandang disabilitas, tapi juga pejalan kaki biasa,” kata juru rambu Annisa.

Dari kalangan akademisi, Taufan Akbari, Dekan Muda London School of Public Relations, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia memaparkan beberapa data yang menunjukkan adanya peningkatan jumlah guru muda di Indonesia.

“Sayangnya, angka ini tidak terlalu tinggi di Jakarta. “Banyak anak muda yang tidak tertarik menjadi guru di Jakarta,” ujarnya.

Oleh karena itu, menurutnya, sedikitnya calon yang berhasil memenangkan Pilkada DKI Jakarta memiliki tantangan untuk menarik perhatian generasi muda agar menjadi guru. Penggagas Jaringan Masyarakat Indonesia ini mengingatkan, Indonesia akan menghadapi bonus demografi pada tahun 2035 yang artinya kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia harus baik.

Mulai dari kewirausahaan hingga isu perempuan

Agrita Widiasari, pendiri Sinergi Muda, juga menanyakan komitmen masing-masing calon dalam mengembangkan kewirausahaan generasi muda.

“Jakarta memang seperti itu perapian karena banyak pelaku industri kreatif di sini,” ujarnya.

Selain itu, ia berharap Jakarta lebih aman bagi pekerja perempuan. Mengingat banyak perempuan yang mulai terjun di industri kreatif, banyak di antara mereka yang memiliki pola kerja berbeda dengan karyawan perusahaan pada umumnya.

“Mereka sering pulang malam dan sangat rentan terhadap pelecehan seksual,” kata Agrita.

Ia juga menceritakan beberapa pengalaman teman pekerja perempuan yang mengalami pelecehan seksual dalam perjalanan pulang kerja di Jakarta.

Yuki Widiasari, pengusaha muda di Jakarta juga mengharapkan dukungan Pemprov DKI terhadap para pelaku usaha.

“Baik dari bantuan pelatihan maupun kemudahan akses permodalan,” kata pemilik Onigiri, Futago. Ia tidak ingin banyak pebisnis muda yang menjadi wirausaha musiman karena masalah keuangan.

Harapan dan masukan tersebut kemudian ditanggapi oleh perwakilan pasangan calon. Mereka pun berjanji berbagai masukan yang disampaikan masing-masing paslon akan ditindaklanjuti. —Rappler.com

BACA JUGA:

toto hk