• March 21, 2026

Mengenang lagu-lagu lawas di Museum Musik Indonesia

MALANG, Indonesia — Mata Dina Mariana berlinang air mata. Tangannya membelai piringan hitam tahun 1978 bertajuk Ayo berpesta. Album yang dirilis saat ia berusia 6,5 ​​tahun ini berisi 10 lagu. Piringan hitam ini menjadi pengingat karir musiknya selama ini dari 58 album yang telah ia rilis.

Wajahnya masih imut ya, kata Dina sambil menunjuk sampul piringan hitam di Museum Musik Indonesia (MMI) di Jalan Nusakambangan, Kota Malang, Selasa, 7 Februari lalu.

Dina mulai bernyanyi pada tahun 1973, dari panggung ke panggung. Hingga ia mulai merekam lagu anak-anak dan akhirnya merilis album pada tahun 2008.

“Saya bersyukur masih ada yang mengoleksi. “Semua piringan hitam hilang saat dipindahkan,” katanya.

Ia mengaku sedih karena tidak bisa menyelamatkan piringan hitam yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun melalui perburuan yang panjang. Sebanyak 30 album vinil hilang.

“Saya kumpulkan, saya beli di sejumlah radio yang tutup. “Saya terharu, sedih dan terharu,” ujarnya sambil menahan air mata.

Dina menandatangani piringan hitam dan sejumlah kaset lama koleksi MMI. Tanda tangan ditempatkan pada kertas sampul kaset dan piringan hitam.

“Saya kumpulkan, saya beli di sejumlah radio yang tutup. “Saya terharu, sedih dan terharu,” kata Dina Mariana sambil menahan air mata.

“Foto cakupan “Di Malaysia,” kata Dina sambil menunjuk salah satu sampul album vinyl. Saat itu, ia membeli baju dan sepatu di Malaysia untuk pemotretan. Selain memotret sampul album, ia juga sedang melakukan pemotretan untuk sebuah majalah di Malaysia saat itu.

Dina mengunjungi MMI bersama penyanyi lagu lawas lainnya, Yayuk Suseno dan Sandro Tobing. Mereka melihat berbagai koleksi piringan hitam, kaset, compact disc yang masih terawat baik, serta berfoto dengan kaset dan piringan hitam.

“Saya sangat bangga, saya sendiri tidak memilikinya. “Di sini koleksinya lengkap,” kata Yayuk.

Ia berharap para seniman dan musisi Tanah Air mengapresiasi koleksi MMI sekaligus berkontribusi terhadap koleksi tersebut. Yayuk berjanji akan menyumbangkan sejumlah baju dan aksesoris yang dikenakannya Menunjukkan.

“Bisa disimpan sebagai kenangan,” ucapnya.

Dia menyimpan kaset album pertamanya yang diberi judul Biru dengan baik. Album ini dirilis pada tahun 1982 di bawah arahan drummer Koes Plus, Muri.

Pabrikan Malaysia belajar di MMI

Produser musik Malaysia Datin Seri Sina Ghazy pun mengaku kagum MMI bisa mengoleksi begitu banyak album lawas. Sementara menurutnya, belum ada museum musik yang dikelola secara serius di Malaysia. Selama ini hanya mengandalkan dana pribadi dan dijalankan secara mandiri.

“Belum ada museum musik yang koleksinya selengkap MMI,” kata Datin.

Ia mengatakan akan mengajak seniman musik Malaysia untuk belajar mengelola museum musik di MMI, serta memberikan contoh dalam merawat dan menjaga koleksi kaset dan piringan hitam berusia 70 tahun.

“MMI yang bagus. Terharu. “Di Malaysia tidak seperti itu,” katanya.

Produser musik yang juga menggeluti bisnis real estate ini berharap bisa mendirikan museum serupa di Malaysia. Ia juga akan mendonasikan sejumlah koleksi milik seniman Malaysia kepada MMI. Pasalnya musisi Malaysia juga merilis album-album yang sangat populer di Indonesia.

Kita pun sama, banyak artis yang dulu rekaman di Indonesia, ujarnya.

Untuk mengingatkan artis-artis lawas, Datin akan mengajak Dina Mariana dan Yayuk Suseno bernyanyi di Malaysia. Lagu-lagu mereka, kata Datin, dulunya dikenal luas di kalangan masyarakat Malaysia.

Digitalisasi musik lama

Ketua MMI Hengki Herwanto mengatakan, sekitar 21 ribu barang koleksi museum terdiri dari kaset, piringan hitam, majalah, alat musik, poster, tiket, dan pemutar piringan hitam. Sekitar 80 persennya adalah kaset dan piringan hitam.

Yang tertua adalah piringan hitam dari luar negeri yang diproduksi pada tahun 1923 dan piringan hitam yang diproduksi pada tahun 1965 oleh studio rekaman pertama Lokananta.

“Selama enam bulan terakhir, sudah ada 14 ribu lagu yang sudah didigitalisasi, dari total 180 ribu judul lagu,” kata Hengki.

Pengunjung dapat mendengarkan lagu-lagu di website MMI melalui koneksi internet. Namun lagu tersebut tidak dapat diunduh dan dibagikan karena alasan hak cipta.

Menurut Hengki, setiap tahunnya lebih dari seribu orang mengunjungi museum tersebut. Para pengunjung datang dari sejumlah kota besar di Pulau Jawa. Mereka datang sekadar untuk melihat koleksi atau melakukan penelitian.

Bahkan, sejumlah mahasiswa datang untuk mencari data dan melakukan penelitian. Dari mahasiswa jurusan desain grafis, sejarah, pemasarandan budaya yang menulis tesis.

“Ada yang membuat film dokumenter bahkan mencari sumber data tentang musik,” ujarnya.

MMI didirikan pada tahun 2016. Sebelumnya bernama Galeri Malang Bernyanyi sejak 8 Agustus 2009. —Rappler.com

Pengeluaran Sidney