Balapan 17 Agustus, Sudah Saatnya Kita Lupakan?
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Menjelang bulan Agustus, kemeriahan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia semakin terasa. Mulai dari bendera yang berkibar di tiang tinggi, hingga segala macam aksesoris manis dengan kombinasi warna merah dan putih.
Untuk semakin memeriahkannya, sejumlah lomba yang identik dengan perayaan kemerdekaan negeri ini diadakan di mana-mana, mulai dari kota hingga institusi.
Pada 17 Agustus misalnya, warga Villa Melati Mas, Tangerang menggelar sejumlah kegiatan untuk memeriahkan perayaan kemerdekaan. Perlombaan dimulai pada pukul 07:00 WIB dengan lari pagi.
Setelahnya, warga berkumpul di lapangan kompleks tempat diadakannya perlombaan. Ada lima lomba yang digelar, yakni lomba makan kelapa, lomba lari estafet karet dengan sedotan, lomba mencari uang logam dalam tepung, lomba lari karung, dan lomba mengisi ember dengan sedotan. spons basah untuk anak-anak.
“Nilai kearifan bersaing sangat baik. “Pemanjatan pinang masih terus berlanjut, namun semakin hari semakin nyata, dan kita tidak bisa bohong, gotong royong dan kebersamaan semakin memudar.”
—JJ Rizal
Tingkah lucu anak-anak tentu mengundang gelak tawa. Kemeriahan berlanjut hingga acara berakhir, sekitar tengah hari, saat para pemenang menerima hadiahnya. Disesuaikan dengan pemainnya, hadiah yang diberikan juga sesuai dengan kesukaan anak, seperti snack dan minuman manis.
“Acaranya seru. “Ini momen untuk mempererat silaturahmi,” ujar salah seorang warga, Audrey Halim. “Kami tidak melihat adanya perbedaan. Ingatlah bahwa kemerdekaan Indonesia bisa tercapai karena seluruh elemen masyarakat bersatu melawan penjajah.
Rangkaian acara ini sendiri merupakan pra-peristiwa kompetisi teratas yang akan diadakan pada D-Day, 17 Agustus.
Bagian dari bangsa Indonesia
Masyarakat Indonesia sangat menikmati kompetisi. Hal ini tidak mengherankan. Sebab menurut sejarawan JJ Rizal, jika menilik sejarah, arak-arakan sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak abad ke-16 sebagai wujud kemurahan hati raja.
Ketika kerajaan-kerajaan tersebut ditaklukkan oleh pemerintah kolonial Belanda, diadakan pula perlombaan-perlombaan sebagai bentuk perayaannya. Sedangkan pada masa penjajahan Jepang, perlombaan juga digunakan untuk membangkitkan semangat.
Misalnya saja panjat pinang yang ditemukan di Indonesia sejak awal abad ke-20, pada masa penjajahan Belanda. Atau, balap karung yang terdokumentasikan pada masa penjajahan Jepang menjadi bukti keberadaan perlombaan tersebut sejak lama.
“Jadi kami punya sejarah panjang sebagai masyarakat (yang) menyukai balap,” katanya kepada Rappler.
Di balik gelak tawa yang dihasilkan dari kompetisi-kompetisi ini, ada hikmah yang bisa dipetik. Seperti balap karung yang mengingatkan masyarakat akan kerasnya masa penjajahan, hingga kebutuhan sandang pun tak mampu tercukupi. Oleh karena itu, tas goni digunakan sebagai penggantinya. Kini, seburuk apapun kondisinya, kita tidak perlu lagi menggunakan tas sebagai pakaian.
Hal lainnya, lomba panjat pinang sangat erat kaitannya dengan nilai gotong royong. Hal ini terlihat jelas pada setiap orang yang saling membantu untuk mencapai puncak dan mendapatkan imbalan. Selain itu, sulitnya mencapai puncak juga menunjukkan bahwa kita harus berusaha untuk mendapatkan apa yang kita harapkan, atau mungkin sekedar apresiasi.
Bagi pendiri terbitan Komunitas Bambu ini, kompetisi ini penting untuk dilestarikan karena mengandung banyak pembelajaran seperti kedisiplinan, sportivitas, dan kerja keras. Selain itu, ada pengingat akan perjalanan panjang bangsa ini.
Namun masih ada hal yang lebih penting dari sekedar kelestarian kompetisi, yaitu menjaga nilai-nilai positifnya, dan tidak melupakan sejarah bangsa Indonesia.
Dalam konteks ini, Rizal mencontohkan lomba panjat pinang.
“Nilai kebijaksanaannya luar biasa. “Pemanjatan pinang masih terus berlanjut, namun semakin hari semakin nyata, dan kita tidak bisa bohong, gotong royong dan kekompakan semakin berkurang,” ujarnya.
Pelajaran sejarah yang tidak ada gunanya?
Namun sejarawan Indonesia lainnya, Asep Kambali, berpendapat berbeda. Baginya, lomba panjat pinang, balap karung, dan makan kelapa sebaiknya tidak lagi digelar dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan.
“Saya tidak bilang salah, tapi permainan ini tidak mendekatkan kita pada sejarah bangsa kita,” kata pendiri komunitas Historia Indonesia ini.
Asep mengatakan, kompetisi-kompetisi tersebut sudah ada sejak lama. Pemanjatan pinang, kata dia, sudah ada di China sejak Dinasti Qing dan Ming. Jadi, dia setuju dengan betapa akrabnya masyarakat Indonesia dengan game ini. Ia juga menegaskan, ada nilai-nilai penting dalam pendakian pinang, seperti gotong royong dan perjuangan. Namun, tidak ada pelajaran sejarah dalam lomba tersebut.
“Karena kita mandiri. “Kita perlu menciptakan sebuah program yang lebih mendidik, lebih bermartabat, yang membuat anak-anak lebih mengenal sejarah.”
– Asep Kamali
Asep juga menilai kompetisi lainnya tidak mengandung pelajaran sejarah. Ia mengatakan balap karung merupakan simbol tanam paksa, dan makan kerupuk melambangkan kemiskinan masyarakat Indonesia di masa lalu.
Simbol-simbol tersebut sudah dianggap tidak pantas lagi di negeri ini.
“Karena kita mandiri. “Kita perlu membuat program yang lebih mendidik, lebih bermartabat, yang menjadikan anak-anak lebih mengenal sejarah,” ujarnya.
Indonesia memang terjajah, dan Asep membenarkannya sebagai fakta. Namun menurutnya, perlu adanya pengenalan lebih lanjut mengenai sejarah Indonesia, yang lebih dari sekedar informasi bahwa Indonesia pernah dijajah.
Di sinilah Asep mengungkapkan keprihatinannya terhadap generasi muda Indonesia yang sudah tidak lagi mengenal sejarah dan pahlawan bangsanya.
Coba, siapa sajakah pahlawan di uang kertas Rp 10 ribu lama dan baru? HR Rasuna Said itu perempuan atau laki-laki? Tanya saya, orang Indonesia tahu apa arti kata Indonesia? Siapa yang memberi nama Indonesia? untuk belajar panjat pinang,” ujarnya.
Ia mengatakan, permainan-permainan tersebut memang ada secara historis, namun kemudian terkesan dimainkan untuk merayakan kemerdekaan. Faktanya, game ini sebenarnya bebas untuk dimodifikasi.
Rayakan kemerdekaan dengan gaya baru
Asep tak lantas mengkritik tanpa solusi. Bersama komunitas Historia Indonesia yang didirikannya, Asep melakukan perubahan pada kompetisi perayaan kemerdekaan. Ia yakin kompetisi ini akan memberikan pembelajaran sejarah bagi para peserta.
“Nah, kami komunitas Historia Indonesia menawarkan program alternatif, misalnya dengan lomba kepahlawanan, lomba lagu perjuangan, lomba baca teks proklamasi, lomba baca teks Pancasila, membingungkan sejarah, lomba tebak sejarah, balapan yang hebat sejarah,” kata Asep.
“Saya kira banyak program yang bisa kita ciptakan agar generasi muda kita semakin lekat dengan republik ini, dan belajar sejarah.”
Secara historis, pendakian sirih pinang pada masa kolonial hanya mungkin dilakukan oleh orang Belanda yang relatif kaya pada saat itu. Pesertanya adalah masyarakat miskin Indonesia. Permainan ini dipelihara sebagai sarana hiburan bagi masyarakat Belanda.
Oleh karena itu, Asep membantah jika game besutannya tidak menghibur.
“Lomba lagu perjuangan, lomba baca teks proklamasi, kalaupun kita tidak bisa tertawa, kita juga bisa tertawa. Menertawakan anak-anak, bukan? Bapak-bapak disuruh membaca teks Pancasila, tidak dihafal, malah ditertawakan karena lucu. “Ada juga yang lucu, menghibur,” ujarnya.
“Jadi tidak harus benar kalau itu kaku dan tidak lucu. Kebenarannya juga bisa lucu. Anda bisa bersaing seperti pahlawan, bukan? Tentu saja dia tidak terlihat sama, bukan? Dan itu menjadi lucu.”
Bagi Asep dan KHI, perayaan kemerdekaan juga menjadi momen yang tepat untuk menengok ke belakang dan belajar dari masa lalu. Selain lomba, ia juga mengadakan kegiatan yang diberi nama Berjalan di Jejak Proklamasi.
Tahun ini, Jalur Proklamasi digelar pada 16 Agustus dimulai dari Museum Joang ’45 Menteng, Jakarta Pusat, pukul 12.00 WIB. Peserta akan diajak berjalan-jalan melewati berbagai tempat bersejarah di Jakarta seperti Rumah Bung Hatta, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Tugu Proklamasi dan lain-lain. —Rappler.com