Kebakaran hutan dan lahan kembali mengancam Kalimantan Barat
keren989
- 0
Polisi belum menemukan korporasi pelaku karhutla
PONTIANAK, Indonesia – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Kota Pontianak, Kubu Raya, Kabupaten Landak, Bengkayang, dan Sanggau dalam beberapa pekan terakhir seiring dengan meningkatnya angka kebakaran.
Berdasarkan catatan satelit NOAA, Kalimantan Barat memiliki 56 titik api atau hotspot pada tanggal 10 Agustus dengan Kabupaten Sanggau yang mengalami KLB terbanyak yaitu 17 hotspot, mengatakan Dasmian Sulvian, staf BMKG Supadio di Pontianak.
“Sampai saat ini Kabupaten Sanggau yang paling banyak terjadi KLB yaitu 17, disusul Kapuas Hulu 10, Kabupaten Melawi 9, Kabupaten Sintang 8, Kabupaten Landak 7, Kabupaten Ketapang 4, dan Bengkayang 1. Ini pantauan kami pada 10 Agustus,” kata Dasmian. kepada Rappler.
Menurut Dasmian, dibandingkan dengan kondisi kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau tahun 2015, data hotspot di Kalimantan Barat saat ini masih tergolong rendah. Misalnya saja pada 25 September 2015, di Kalimantan Barat terdapat 260 titik panas, menurut pemantauan satelit Badan Nasional Penanggulangan Bencana,
Untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Tim pemadam kebakaran gabungan Manggala Agni, BPKS dan BPBD, termasuk unsur TNI dan Polri, bekerja sama hingga malam hari untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan.
Tak hanya itu, anggota Polri dan TNI melakukan patroli di berbagai tempat di dusun untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya karhutla, termasuk pelanggaran hukum dan ancaman hukuman penjara dan denda, serta dampak kesehatan dari asap kebakaran.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerja sama dengan United Nations Development Program (UNDP) juga memberikan pelatihan dasar penanganan karhutla di 75 desa dan pelatihan bagi relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat.
Sementara itu, menghadapi musim kemarau ini, Gubernur Cornelis meminta bupati dan wali kota serta instansi terkait termasuk TNI dan Polri se-Kalbar untuk menerbitkan Inpres No. 11, 2015.
Gubernur Kalimantan Barat juga meminta semua pihak untuk bahu-membahu mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, khususnya perusahaan perkebunan.
“Saya sudah lama meminta perusahaan sawit untuk membangun embung, atau saluran yang bisa menampung air, bahkan saya sudah membuat surat edaran, agar bila ada kebakaran bisa segera diatasi,” kata Cornelis.
Cornelis juga berharap pemerintah kabupaten dan kota lebih proaktif dalam mendukung pencegahan karhutla karena selama ini hanya polisi dan TNI yang berperan aktif.
“Posko harus didirikan di setiap daerah, sehingga jika terjadi kebakaran lahan bisa segera ditangani, jangan hanya mengandalkan TNI dan Polri. Memang selama ini TNI dan Polri terus memberikan bantuan, namun jika tidak, masyarakat harus proaktif untuk mencegahnya, kata Cornelis.
Peristiwa Kebakaran di Kalimantan Barat
Sementara itu, Polda Kalbar menyatakan sudah melakukan pengecekan 145 kasus perorangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sejak Januari 2016 dan 3 orang tersangka ditetapkan.
Menurut Kabid Humas Polda Kalimantan Barat Kompol Suhadi SW, dua kasus yang sudah masuk tahap penyidikan sedang ditangani Polres Pontianak dan satu kasus di Polres Sanggau. Kasus lain harus dibatalkan karena kurangnya bukti.
Polri dan TNI pun berhasil memadamkan api Lahan seluas 371,95 hektar sejak Januari 2016.
“Dalam menangani pelaku karhutla, kami terus memproses kasus baik perorangan maupun korporasi. Hanya saja Polda Kalbar tidak menemukannya pelaku kebakaran hutan dan lahan dari pihak korporasi. “Jika ada, polisi akan tetap bertindak profesional,” ujarnya. – Rappler.com