Meski dilarang, umat Islam Jabar tetap ikut aksi 112 di Jakarta
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
“Jangan biarkan minggu yang tenang berubah menjadi minggu yang gaduh,”
BANDUNG, Indonesia — Kapolda Jawa Barat Irjen Pol. Anton Charliyan melarang warga Jabar menghadiri aksi 112 di Masjid Istiqlal Jakarta, Sabtu 11 Februari 2017. Anton berdalih, situasi dan kondisi di Jakarta saat ini sedang dalam suasana politik menjelang pemilihan gubernur DKI – 15 Februari 2017.
“Kami mengajukan banding dan kami melarangnya, sesuai dengan kebijakan dari atas. Untuk apa (ke Jakarta)? Karena di sana kental dengan nuansa politik. Di sana-sini juga ada minggu-minggu tenang. “Jangan sampai minggu yang tenang menjadi minggu yang bising,” kata Anton kepada wartawan di Mapolda Jabar, Jumat, 10 Februari 2017.
Anton menegaskan, polisi akan mencegah massa keluar dengan tujuan ikut aksi 112. “Dicegah untuk pergi. Karena dilarang kesana kecuali untuk kegiatan lain. Namun jika Anda ingin mengambil tindakan di sana, apa yang ingin Anda lakukan? Dan untuk membela siapa? Tidak jelas,” katanya.
Menurut Anton, jika tujuannya untuk beribadah tidak perlu ke Jakarta dan lebih baik beribadah di daerah masing-masing.
Meski mengetahui ada larangan, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI Ciamis tetap akan mengirimkan ratusan hingga ribuan orang yang datang dari berbagai kediaman Islam di Banjar dan Ciamis. Tak hanya Kapolda Jabar, Bupati Ciamis juga mengimbau warganya untuk tidak ikut serta dalam operasi 112.
Ketua GNPF MUI Ciamis Deden Badrukamal mengatakan, semakin dilarang maka akan semakin banyak masyarakat yang menghadiri aksi 112. Deden memperkirakan 50 bus akan berangkat ke Jakarta. “Estimasi kerumunan 50 bus itu karena kami merasa tertekan. “Semakin banyak tekanan, maka massanya akan semakin besar,” kata Deden saat ditanya, Jumat sore.
Deden mengenang aksi 212 yang terjadi akibat tekanan polisi berupa pelarangan perusahaan bus yang menyediakan angkutan bagi para pengunjuk rasa. Kini larangan tersebut kembali dialami. Sebelumnya, kata Deden, beberapa Perusahaan Otobus (PO) menyatakan siap mengangkut massa aksi. Total ada 20 bus yang disiapkan. Namun, ada pula yang mengundurkan diri pada Jumat sore.
Meski tak akan berjalan kaki lagi, Deden mengatakan massa akan tetap menuju Jakarta dengan kendaraan alternatif. Rencananya, massa usai salat Isya akan berangkat dari Masjid Raya Ciamis, tempat mereka berkumpul saat ini.
“Kami masih berangkat. “Kalau bus tidak mencukupi, kami akan menggunakan mobil kecil,” kata Deden.
Selain GNPF MUI, massa Aliansi Gerakan Islam (API) Jawa Barat juga bersiap berangkat ke Jakarta. Jumlahnya pun tak kalah besar, diperkirakan mencapai ribuan orang. “Ada sekitar 10 hingga 20 bus yang berangkat dari Pusdai (Pusat Dakwah Islam) Jabar,” kata Ketua API Jabar Asep Syaripudin saat ditanya, Jumat.
Meski ada larangan, API Jabar tetap akan berangkat ke Jakarta untuk menghadiri aksi yang bertemakan “Tegakkan Al Maidah 51”. Massa akan berangkat pada Jumat pukul 23.30 WIB. Dahulu kala, API Jabar membuat selebaran yang mengajak umat Islam untuk hadir dalam aksi tersebut.
Dalam pamflet tersebut juga terdapat undangan untuk mengawasi persidangan kasus penodaan agama terhadap Alquran dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kesepuluh di Kementerian Pertanian di Jakarta pada Senin 13 Februari 2017. —Rappler.com