• May 25, 2026

Kisah ‘ianfu’ dibungkam selama 70 tahun

JAKARTA, Indonesia – Sri Sukanti dibuat “ianfu” sejak dia berumur 9 tahun.

Kisahnya, dan kisah 12 perempuan Indonesia yang selamat setelah dipaksa atau ditipu untuk memenuhi kebutuhan seksual tentara Jepang pada masa penjajahan sekitar 70 tahun lalu, diceritakan melalui pameran seni bertajuk Buku Visual Ianfu dan film dokumenter berjudul Aktif.

“Dia benar-benar luar biasa. “Bagaimana Sri Sukanti mampu dan mau menghadapi masa lalunya,” kata peneliti dan pembela HAM Eka Hindra ianfu.

Ia menuturkan, Sri Sukanti digendong menuju Gedung PakPak lantai dua, Gundih, Purwodadi, Jawa Tengah. Di sanalah Sri Sukanti diperkosa tentara Jepang.

“Saya hanya ingin menyemangati para penyintas penyembuhanuntuk berani menghadapi langkah paling dahsyat dalam hidup karena saya yakin mereka perlu mencari pengampunan dari diri mereka sendiri,” kata Eka dengan suara gemetar.

“Mereka masih belum mendapatkan keadilan, dan itulah yang membuat saya membutuhkan waktu 17 tahun untuk berada di sisi mereka. Karena saya tidak hanya ingin mendidik diri saya sendiri, tetapi saya juga ingin mendidik generasi di bawah saya.

“Saya tahu, saya hitung, dua, tiga tahun ke depan, generasi di bawah saya tidak akan pernah bertemu secara fisik, itu tidak mungkin,” kata Eka mengingatkan usia perempuan termuda yang pernah ada. ianfu Berusia sekitar 80 tahun dan beberapa mantan Ianfu yang dia kenal telah meninggal.

Tidak diperhatikan oleh negara

Faktanya, uang belas kasihan para penyintas dikorupsi oleh pemerintah Indonesia, kata Eka tentang apa yang dilakukan pemerintah terhadap para penyintas.

“Pada tahun 97 diumumkan bahwa pemerintah Jepang akan memberikan dana santunan kepada para korban sebesar dua juta Yen, namun para korban tidak pernah menerimanya,” kata Eka yang berkunjung ke Kementerian Sosial dan menemukan laporan tersebut.

“Dan tidak pernah dipublikasikan secara transparan bahwa pemerintah menerima bantuan sebanyak itu, ratusan juta (rupiah). Tapi tidak ada satu pun ianfu yang menerima “Saya jamin, kalau tidak saya tidak akan bersama mereka selama 17 tahun,” ujarnya.

“Pemerintah Indonesia? Tidak berbuat apa-apa. Faktanya, uang kompensasi para penyintas dikorupsi.”

Eka berhasil menemukan mantannya ianfu yang dirawat di panti jompo (lansia), namun hal ini karena ia tergolong “lansia terlantar”, bukan karena haknya sebagai perempuan yang sebelumnya dipaksa memenuhi kebutuhan seksual tentara Jepang bukan puas.

Padahal, panti asuhan itu dibangun dengan dana Jepang, yang menurut Eka, “sebenarnya bukan untuk (membuat) panti asuhan. Tidak ada yang mau tinggal di panti asuhan. Mardiyem (salah satu eks Ianfu yang diwawancarai Eka, – ed) pernah bilang, kita merasa ditinggalkan ketika tinggal di panti asuhan.”

Wanita yang mendampingi ianfu sejak 17 tahun lalu itu melanjutkan: “Apakah mereka (pemerintah Indonesia) berhasil? perjanjian dengan pemerintah Jepang mendengarkan suara para korban? TIDAK. Apakah pemerintah kemudian menanyakan kepada korban apa yang diperlukan?

“Malah pemerintah Indonesia hanya diam-diam mengambil uang tersebut, lalu menjadikannya sebuah proyek (…yang…) sama sekali tidak melibatkan masyarakat, apalagi korban.”

pemerintah Jepang

Eka juga menjelaskan, “Untuk menutup persoalan kejahatan perang, pemerintah Jepang kemudian dengan cerdik membuat perjanjian bilateral.

“Mereka mengurung Korea Selatan dengan perjanjian tahun ’65, dengan Tiongkok pada tahun 1972, dengan Indonesia pada tahun 1956; jika perjanjian tersebut tidak memuat kerugian apa pun terhadap hak asasi manusia, termasuk ianfu, romushaDan Hai,” kata Eka mengacu pada kerja paksa (romusha) dan pasukan Jepang (Hai).

IANFU.  Seperti yang diceritakan melalui karya visual dalam pameran Ianfu Visual Book.  Foto oleh Jennifer Sidharta

Wanita yang mengaku memiliki perjanjian tersebut dan mempelajarinya menjelaskan bahwa isi perjanjian tersebut hanya membahas kerugian materiil, dan perjanjian bahwa kontraktor Jepang akan datang untuk membangun Indonesia, dengan hasil seperti Hotel Indonesia, dan mal Sarinah di Jakarta. dan Ambarukmo di Yogyakarta.

Jadi sebenarnya uang itu kembali ke pemerintah Jepang, kata Eka.

Apa yang diinginkan wanita mantan ianfu?

“Mereka hanya tidak ingin dilupakan. Mengapa kamu tidak ingin dilupakan? “Karena mereka ingin kejadian yang dialaminya tidak terjadi lagi di kemudian hari,” kata Eka seraya menambahkan bahwa dirinya tidak bisa menggeneralisasi semua kejadian di masa lalu.ianfutapi umumnya itulah yang mereka inginkan.

KISAH HIDUP 13 eks Ianfu terekam dalam karya 12 seniman, dalam pameran dan katalog Buku Visual Ianfu.  Foto oleh Jennifer Sidharta/Rappler

Eka dan kawan-kawan memproduksi film dokumenter Aktif. Film ini bercerita tentang 13 mantan-ianfu belum selesai berproduksi karena berbagai faktor, termasuk faktor finansial.

Bersama Dolorosa Sinaga dan seniman Tanah Air, Eka juga membuat pameran bertajuk Buku Visual Ianfu.

“Seiring berjalannya waktu, begitu pula harapan. “Para korban Ianfu menunggu setiap detik untuk terbebas dari semua mimpi buruk yang mereka alami, hingga harapan itu akhirnya pupus.” —Ayu Maulani

Dolorosa mengatakan, pameran Buku Visual Ianfu ini bertujuan, “Membuka ruang perbincangan generasi muda tentang sejarah, khususnya yang selama ini dibungkam oleh pemerintah. Agar sejarah Ianfu tidak hilang begitu saja.”

Pameran karya 12 seniman ini akan digelar di Galeri 6 Cemara, Jakarta Pusat, hingga Minggu, 27 Agustus. Selanjutnya, karya-karya tersebut juga akan mereka bawa ke pameran di Seoul, Korea Selatan, dan Nan Jing, Tiongkok.

Dolorosa yang berencana mencetak lebih banyak buku katalog Ianfu Visual Book dan menggelar tur pameran menambahkan, pihaknya akan menggelar penggalangan dana untuk mendanai upaya mereka mengingatkan masyarakat dan pemerintah Indonesia dan Jepang tentang bagian sejarah yang telah dibungkam selama sekitar 70 tahun. —Rappler.com

Keluaran SDY