• February 28, 2026
Kepala BNN Budi Waseso siap tembak mati pengedar narkoba

Kepala BNN Budi Waseso siap tembak mati pengedar narkoba

JAKARTA, Indonesia – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisaris Jenderal Budi Waseso, menyatakan siap menembak mati para pengedar narkoba. Menurut Budi, tindakan para pelaku trafiking telah merugikan jutaan generasi muda dan mengancam masa depan negara.

“Kami tidak melakukannya tidak penting, karena tindakan tegas ini juga terukur, karena kami akan menindak para pedagang yang sudah kami alami pelanggaran hukumnya. “Kalau begitu, kita masih direhabilitasi, sebenarnya kita yang rugi, karena pasti masih mencari mangsa,” kata Budi dalam acara tersebut.Ngopi bareng Buwas-Pimred Media” di Surabaya, Rabu malam 26 Oktober.

Ia menjamin perbuatannya tidak melanggar hukum dan hak asasi manusia.

“Pernyataan Presiden bahwa Indonesia berstatus darurat narkoba adalah kebal hukum, bahkan Presiden sudah menyatakan perang terhadap narkoba. Selain itu juga ada Peraturan Kapolri. Tindakan mereka yang merugikan jutaan generasi muda justru semakin melanggar HAM, ujarnya.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo berulang kali menyatakan bahwa Indonesia kini berada dalam masa darurat narkoba.

“Dia momen darurat, jangan biarkan itu pergi. “Ada situasi yang sangat mendesak, sehingga semua harus bahu-membahu karena situasinya sangat mendesak,” kata Jokowi dalam pidatonya pada Rakornas Narkoba tahun 2015.

“Dan yang lebih mengerikan lagi, sudah di penjara, saya masihpengelolaan mengatur peredaran obat di luar. Ini benar-benar keadaan darurat. Oleh karena itu, semua gubernur, bupati, walikota, kita harus satu aturan, satu kata untuk memerangi narkoba. “Tidak boleh ada lagi toleransi, sekecil apapun,” kata Jokowi saat itu.

Keadaan darurat inilah yang menjadi landasan Jokowi dalam mengeksekusi mati narapidana narkoba.

Budi sendiri pernah mengatakannya pada suatu kesempatan mendukung upaya kuat pemerintah Presiden Filipina Rodrigo Duterte dalam memberantas perdagangan narkoba.

Sejak menjabat sebagai presiden pada Juni 2016, Duterte telah menerapkan metode pemberantasan narkoba yang keras. Dia sekarang berada di bawah tekanan internasional.

Ia memerintahkan polisi untuk memberantas narkoba dengan segala cara, apalagi jika mereka menolak ditangkap. “Saya bilang ke polisi, kalau mereka dalam bahaya, tembak saja,” kata Duterte.

“Jika kebijakan seperti itu diterapkan di Indonesia, kami yakin jumlah pengedar dan pengguna narkoba di Indonesia tercinta akan berkurang drastis,” kata Budi pada 7 September, sebelum kedatangan Duterte di Jakarta dalam kunjungan kenegaraan baru-baru ini.

Menunggu senjata

Untuk itu, menurut Budi, BNN telah menyiapkan tim khusus yang akan bertindak tegas terhadap para pengedar narkoba yang menghancurkan jutaan generasi muda. “Kita tinggal menunggu senjata standar yang kita pesan dan akan tiba pada bulan November,” kata Budi.

Dalam acara yang juga dirangkai dengan pertemuan BNN/BNNP dan Badan Reserse Narkoba Indonesia itu, ia menegaskan, pihaknya juga memiliki 50 K-9 (anjing pelacak) khusus narkoba.

“Kami melatih lima puluh K-9 dalam waktu enam bulan dan menguji kemampuan sniffing dan trackingnya, bahkan saya sendiri berangkat ke Belanda atas perintah presiden untuk mempelajari secara khusus teknik pembuatan K-9,” ujarnya.

Jumlah unit K-9 akan ditambah dengan menggunakan anjing lokal. “Untuk itu BNN bermitra dengan komunitas pecinta anjing. “Jadi, kita serius memerangi narkoba karena pengguna narkoba di Indonesia sudah mencapai 5,9 juta,” ujarnya.

Menurut Budi, para pengedar menciptakan “Operasi Regenerasi Pasar Narkoba” yang menyasar anak-anak prasekolah, sekolah dasar, dan sekolah menengah melalui jajanan anak sekolah yang membuat ketagihan. “Mereka melakukannya karena 5,9 juta pengguna hanya menunggu kematian dan kematian,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, setiap harinya terdapat 40 orang yang meninggal akibat rusaknya sistem metabolisme organ tubuh pengguna narkoba, sedangkan pengedar besar yang mengambil keuntungan umumnya berada di luar negeri.

Omzet jaringan narkoba tersebut mencapai Rp3,6 triliun per tahun, namun pada tahun lalu tercatat dana Rp2,7 triliun mengalir keluar Indonesia, tersebar di 11 negara dan angka terbesar masuk ke China, ujarnya.

Namun, ia mengaku sudah pasrah karena sulitnya pihak asing bekerjasama dalam memberantas narkoba, termasuk negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. “Untuk itu kami akan memberantasnya melalui cara-cara yang kami pelajari dari berbagai negara,” ujarnya. —Antara/Rappler.com

daftar sbobet