15 klub menuntut transparansi dan menghadiri pertemuan tertutup dengan operator liga
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Tiga klub tak terlihat di tempat pertemuan
JAKARTA, Indonesia – Tekanan keras sejumlah klub terhadap operasional kompetisi sepak bola Tanah Air akhirnya membuahkan hasil. PT Liga Indonesia Baru (LIB) mengumpulkan klub-klub Liga 1 2017 di Hotel Sultan, Jakarta pada Selasa 10 September sore.
Sayangnya, hanya 15 klub dari 18 klub kompetisi kasta atas yang diundang hadir. Tiga klub lainnya belum terlihat hingga sore ini. Pertemuan tersebut diadakan secara tertutup. Media dilarang meliput atau sekadar mengambil gambar.
Pertemuan tersebut merupakan hasil tekanan dari sejumlah klub. Mereka menuntut transparansi hukum, bisnis, dan teknis dari PT LIB terkait pengelolaan Liga Indonesia.
Suasana pertemuan sendiri sangat tertutup dan media dilarang memberitakan atau sekadar mengambil gambar. Menurut resepsionis acara yang menjaga pintu masuk, Semen Padang merupakan klub terakhir yang datang.
“Yang belum datang adalah Perseru Serui, Borneo FC, dan Mitra Kukar. Entah kenapa belum datang,” kata Nazlah sang resepsionis.
Manajer Persib Bandung Umuh Muchtar yang hadir dalam pertemuan tersebut mengaku tidak tahu apa-apa. “Saya datang karena saya diundang. Kalau 15 klub yang bergerak, saya belum tahu, ujarnya.
“Yang pasti saya datang ke sini untuk melihat siapa yang bilang Persib anak emasnya. Persib juga tidak pernah diuntungkan, malah dieksploitasi. Lihat saja kami di dalam kandang. Faktanya, ada banyak hal yang harus dilakukan. Kami juga berada di posisi ke-11 di liga. Apa manfaatnya?” ujarnya.
Sebelumnya, mayoritas klub Liga 1 terancam tidak melanjutkan kompetisi Liga 1. Alasannya, mereka menuntut transparansi dalam tiga aspek yakni hukum, bisnis, dan teknis.
Edy Rahmayadi, Ketua Umum PSSI, mengatakan pertemuan itu hanya salah paham. “Terjadi miskomunikasi seolah-olah tidak ada transparansi. Yang mengkhawatirkan karena Liga 1 tinggal sebulan lagi, Februari Liga 1 akan dimulai lagi, ujarnya.
Edy pun membantah adanya ancaman mogok kerja dari klub tak terima PT LIB. Semuanya, kata dia, sudah jelas. “Yang bilang mogok ya bakalan mogok, oh tidak. “Para jurnalis ini hanya memancing mereka untuk berbicara,” katanya.
Edy mengatakan, situasi saat ini sudah membaik. PT LIB secara transparan menyuarakan seluruh kekhawatiran klub. PT LIB akan menyalurkan pendanaan per klub sebesar Rp 7,5 miliar. Rinciannya, Rp 1 miliar disalurkan di awal kompetisi.
“Setelah itu Rp 514 juta per bulan. “Kemudian finalnya Rp 1 miliar di akhir Liga 1 masing-masing klub,” ujarnya.
Edy pun mengklarifikasi situasi di Timnas. Sebelumnya banyak klub yang menyebut gaji pemain timnas ditanggung PSSI. Namun sepertinya kesepakatan itu telah dibatalkan.
“Sebelumnya, rencananya akan membawa tim nasional penuh oleh PSSI. Bahkan rencananya akan ada pelatihan indoor dan outdoor. Sehingga sang pemain tidak sempat masuk kembali ke klub tersebut. Gaji pemain dibayar oleh PSSI. Itu awalnya,” jelasnya.
“Tetapi saat saya berjalan ke sini, hal itu tidak terjadi. Akhirnya, para pemain terus kembali ke klub. Ya, klub tetap harus menanggung gaji pemain timnas, ujarnya.-Rappler.com