Gerald Clayton berbagi perasaannya di Ubud Village Jazz Festival 2017
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Acara ini tidak hanya menarik minat wisatawan lokal, namun juga wisatawan mancanegara
UBUD, Indonesia — Ubud Village Jazz Festival digelar di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, pada tanggal 11-12 Agustus 2017. Panggung ini tidak hanya akan memukau wisatawan dalam negeri namun juga wisatawan mancanegara.
Salah satu musisi yang paling ditunggu penampilannya adalah Gerald Clayton yang tampil di hari kedua. Pianis yang ditakuti itu ‘memikat’ ratusan penonton dengan alunan musik jazz yang memukau.
Bahkan, ada di antara penonton yang khusyuk menikmati musik sambil memejamkan mata, ada yang menyerap setiap nada yang dinyanyikan Clayton. Ada beberapa penonton yang menari mengelilingi panggung. “Saya senang di sini (Bali), tempat yang indah,” kata Gerald Clayton.
Di Ubud Village Jazz Festival ini merupakan pertama kalinya Gerald Clayton ke Bali. Bagi Clayton, musik mampu merangkul banyak hal yang sulit dipahami. “Nilai-nilai dalam seni pasti bagus untuk membantu setiap orang menghadapi tantangan yang ada di dunia ini,” ujarnya.
Gerald Clayton dinominasikan empat kali sebagai pemenang GRAMMY Award 2010 untuk Solo Jazz Improvisasi Terbaik untuk aransemen Cole Porter Kalian semua. Clayton tampil dengan bassis Joe Sanders dan drummer Gregory Hutchinson.
Tahun ini temanya adalah Ubud Village Jazz Festival Musik yang indah atau pikiran yang indah. Musik jazz akan dihadirkan dengan berbagai unsur. Ada arus utama, modern, tradisional dan Latin. Festival musik yang dimulai pada tahun 2013 ini memiliki variasi yang berbeda-beda.
Selain Gerald Clayton, musisi luar negeri yang juga tampil adalah Steve Barry Quartet asal Australia. Steve Barry adalah pemenang Bell Award 2013 untuk Artis Jazz Muda Australia Tahun Ini dan runner-up di National Jazz Award 2013.
Dari Perancis ada Trio Samy Thiebault. Sedangkan untuk grup musik asal Jerman ada Big Band Glen Buschmann Jazz Academy. Sedangkan Marc Vogel dan Lukas Schiemer tampil dari Austria memadukan jazz modern dengan gaya musik alur populer.
Musisi tuan rumah asal Bali menampilkan gitaris I Wayan Balawan dengan band Batuan Ethnic Fusion. Pemain trombon legendaris dalam dunia musik jazz Indonesia, Benny Likumahuwa, juga sangat populer di kalangan penikmatnya. Konsep Ubud Village Jazz Festival dinilai Benny sangat nyaman. “Penyiapan panggungnya, festival ini yang terbaik,” ucapnya.
Benny berharap pertunjukan musik jazz terus berkembang. Harapannya, musik jazz, kata dia, semakin diminati terutama di kalangan anak muda. “Jadilah musisi yang memahami akar-akar (jazz),” ujarnya.
Konsep pedesaan digunakan sebagai setting panggung yang memberikan kesan gembira. Di depan setiap panggung disediakan tikar anyaman untuk penonton yang ingin menikmati musik sambil duduk di lantai.
Tiga fase yang disediakan yaitu Padi, Giri dan Subak. Menurut Direktur Ubud Village Jazz Festival, Anom Wijaya Darsana, setiap panggung mempunyai karakter tersendiri. Panggung Padi dan Giri terletak di tengah-tengah acara. “Panggung Subak ada kuartet dan trio,” ujarnya. —Rappler.com