Masjid Jami’e Darussalam, sebuah oase di tengah hiruk pikuk kota Jakarta
keren989
- 0
Masjid Jami’e Darussalam merupakan karya Ridwan Kamil semasa menjadi arsitek
JAKARTA, Indonesia — Sore itu, seperti biasa, lalu lintas di kawasan sekitar Jalan Jenderal Sudirman-MH Thamrin, Jakarta, sangat padat. Menjelang waktu berbuka puasa, lalu lintas di pusat Ibu Kota Jakarta sungguh menguji kesabaran.
Namun tak jauh dari kemacetan, hanya 300 meter dari pusat perbelanjaan Grand Indonesia, terdapat sebuah bangunan masjid dengan arsitektur yang tidak biasa.
Masjid ini merupakan hasil karya Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung, bersama Urbane, sebuah firma arsitektur yang berkantor pusat di Bandung, Jawa Barat. Proyek pembangunan Masjid Jami’e Darussalam dimulai pada tahun 2012.
Mengawali bulan Ramadhan tahun ini, Ridwan Kamil selaku arsitek masjid kecil nan cantik ini menyempatkan diri untuk singgah. Masjid Jami’e Darussalam usai menghadiri acara di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta.
Masjid ini adalah kebisingansebuah masjid dipindahkan dari satu tanah wakaf ke tanah wakaf lainnya.
Masjid Jami’e Darussalam awalnya terletak di atas tanah wakaf di Jalan Kotabumi, sekitar 50 meter di belakang Plaza UOB. Namun masjid tersebut dikelilingi tanah milik PT Putra Gaya Wahana dan masuk dalam peta proyek pembangunan.
Terakhir, pihak perusahaan mendapat izin dari Menteri Agama untuk mengubah lokasi masjid menjadi lahan yang lebih luas di Jalan Kota Bumi Ujung, tak jauh dari lokasi semula.
Berbeda dengan masjid yang biasa diidentikkan dengan kubah, Masjid Jami’e Darussalam yang terletak di Jalan Kotabumi Ujung, Kebon Melati, Jakarta Pusat ini memiliki bangunan berbentuk segitiga.
Ruang utama terletak di lantai atas, lengkap dengan mimbar dan dindingnya dilapisi kaligrafi.
Desain unik ini awalnya ditolak oleh pengurus masjid. Pasalnya, bentuk segitiga tersebut dinilai berbeda dengan masjid pada umumnya.
“Saat gambar itu dirilis, dalam pikiran kami, kami tidak terima dengan bentuk seperti ini,” kata Pengurus Masjid Jami’e Darussalam H. Haris Maulana kepada Rappler sebelum pengambilan, Rabu, 15 Juni.
Namun karena Ridwan Kamil menyampaikan argumentasinya, pihak pengembang dan pengurus masjid akhirnya sepakat menerima desain yang diberikan.
“Pak Ridwan berpendapat kubah tidak cocok untuk daerah tropis. Akhirnya digunakanlah bentuk seperti ini, dengan kaligrafi Lailaailla Allahdengan filosofi tertentu,” kata Haris.
“Tapi kami masih begitu bersikeras Saya juga tidak menerimanya. Akhirnya Pak Ridwan katakan ‘Sebagai tubuh percaya sama seperti para ahlinya, serahkan dengan ahlinya,” kata Haris menirukan Ridwan.
Untuk membiayai operasional sehari-hari, masjid ini mengandalkan sistem wakaf produktif. Masjid Jami’e Darussalam mempunyai ruangan yang bisa disewa untuk berbagai acara, disediakan juga ruko, namun saat ini masih belum terisi.
Selain itu, masjid juga memiliki kedai kopi di bagian depan, serta bantuan dana dari perusahaan-perusahaan yang berada di sekitar masjid.
Selama bulan Ramadhan, masjid yang resmi dibuka pada 25 Juni 2015 ini menyediakan makanan dan minuman gratis untuk berbuka puasa.
“Untuk kegiatan Ramadhan, kami menyediakan takjil setiap hari. “Ada sekitar 100 porsi,” kata Haris.
Jemaah masjid sebagian besar adalah orang-orang yang bekerja di sekitar lokasi, sedangkan warga sekitar tidak terlalu banyak.
“Kebanyakan mereka pekerja, hanya 30 persen warga di sini. “Pada hari kerja, 70 persennya adalah pekerja dan orang yang lalu lalang.”
Simak hasil walkthrough Rappler terhadap masjid berkapasitas 1.500 jamaah tersebut dalam video berikut:
—Rappler.com
BACA JUGA: