Kisah jamaah haji yang selamat dari peristiwa terinjak-injak di Saudi dan tetap kembali menunaikan ibadah haji
keren989
- 0
Pemerintah Arab Saudi mengaku telah melakukan tindakan preventif agar kejadian di Mina tidak terulang kembali
JAKARTA, Indonesia – Luka dan trauma masih membekas dalam ingatan jemaah asal Nigeria Muhammad Sani saat kembali menginjakkan kaki di Arab Saudi tahun ini. Sani merupakan salah satu jemaah haji yang selamat dari peristiwa terinjak-injak di Mina saat hendak berangkat menunaikan ibadah haji.
Peristiwa yang terjadi pada 24 September 2015 tersebut mengakibatkan 2.297 umat paroki meninggal dunia. Saat itu, jamaah berjalan dari Jembatan Jamarat menuju Mina untuk melempar jurah sebagai simbol pelemparan batu ke setan.
Pria yang berprofesi sebagai apoteker ini mengaku secara ajaib selamat dari kejadian tersebut. Sedangkan dua rekannya tewas.
“Saya secara ajaib bisa lolos tanpa cedera. Namun kejadian ini masih meninggalkan luka di hati saya dan tidak akan pernah sembuh, kata Sani yang tiba di Arab Saudi bersama istrinya.
Meski tahu kejadian serupa bisa terulang lagi tahun ini, namun ia tetap ingat bahwa kematian bisa datang dari mana saja dan bukan hanya karena terinjak. Meski begitu, mereka berharap keamanan di Tanah Suci bisa ditingkatkan oleh pemerintah.
Sebelumnya, Arab Saudi juga dilanda kejadian maut lainnya, pertama crane yang roboh menimpa gedung Masjidil Haram dan juga bom bunuh diri di Masjid Nabwai, Madinah yang menewaskan 4 petugas keamanan.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khameini, mengkritik pemerintah Saudi yang tidak serius menyelidiki penyebab insiden penginjakan tersebut. Dalam kejadian itu, jemaah haji asal Iran menjadi korban terbanyak yakni mencapai 464 orang.
Khameini juga mempertanyakan kemampuan Saudi dalam mengelola tempat-tempat suci. Bahkan, dia menuding Saudi tidak menyelidiki lebih lanjut pihak-pihak yang seharusnya terlibat dalam peristiwa penginjakan di Mina.
Komite Pencari Fakta Islam Internasional tidak diizinkan Arab Saudi masuk ke negaranya.
Tidak diberikan kuota haji
Akibat kritik keras tersebut, pemerintah Saudi akhirnya tidak melarang jamaah asal Iran untuk beribadah. Meski begitu, Saudi mengaku menyambut baik kedatangan jemaah Iran yang datang dari negara lain.
Padahal, tahun lalu Iran mengirimkan 60 ribu calon jemaah haji ke Arab Saudi. Namun, sejak Mei 2015 mereka sudah menyatakan tidak bisa ikut haji tahun ini.
Jika Arab Saudi dituding tidak becus mengelola ibadah haji, maka pemerintahan Raja Salman akan menyalahkan jamaah haji yang sering terlihat tidak mengikuti aturan yang ada. Pihak Saudi mengaku telah melakukan penyelidikan, namun belum merilis hasil apa pun sejak tahun lalu.
Jumlah korban meninggal pun bervariasi. Pemerintah Saudi menyebutkan jumlah korban mencapai 769 orang, namun data yang disampaikan 30 negara lain menyebutkan angka kematian tiga kali lebih tinggi.
Sedangkan kejadian runtuhnya crane di kompleks Masjidil Haram menewaskan 109 orang. Otoritas setempat membawa 14 orang yang diduga lalai ke pengadilan.
“Mereka tidak transparan mengenai hal ini (kejadian penginjakan di Mina) seperti halnya mereka tidak transparan terhadap kejadian crane. “Itu akan membuat Anda berpikir kesalahan ada pada pihak berwenang dan bukan pada jamaahnya,” kata seorang sumber.
Gunakan teknologi modern
Lantas apa upaya pemerintah Saudi untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali? Raja Salman memerintahkan peninjauan kembali dalam penyelenggaraan penyelenggaraan ibadah haji di Arab Saudi. Laporan media Saudi mengatakan perubahan telah terjadi setelah insiden tersebut.
Surat kabar Arab News melaporkan bahwa jalan-jalan di kawasan Jamarat telah diperlebar dan beberapa akomodasi bagi jamaah telah dipindahkan. Harian Saudi Gazette melaporkan bahwa kini terdapat lebih banyak ruang setelah fasilitas pemerintah dipindahkan dari Mina.
Menteri Haji dan Umrah juga menggunakan teknologi tinggi untuk meningkatkan keamanan. Untuk pertama kalinya, mereka menggunakan gelang elektronik yang berisi informasi pribadi jamaah haji.
Waktu pelemparan batu juga terbatas. Pengawasan juga ditingkatkan dengan memasang kamera pengintai.
Jemaah haji mengakui perubahan tersebut sudah terasa, termasuk proses yang lebih cepat di bandara.
“Kami merasa ada peningkatan yang lebih besar dalam pelayanan,” kata Asi Wat Azizan, seorang petugas yang tiba bersama delegasi dari Thailand.
“Kami tidak takut dengan kejadian apa pun,” kata jemaah asal Sudan, Najwa Hassan.
Sementara itu, menurut Dirjen PHU Kemenag, Adul Jamil, Arab Saudi telah melakukan upaya pencegahan agar tragedi tahun lalu tidak terulang kembali.
Sementara itu, jemaah Mali, Oumou Khadiatou Diallo, yang berhasil selamat meski 7 orang tewas di sekitarnya, mengatakan bahwa Allah memanggilnya untuk kembali ke Tanah Suci. Ia mengaku masih trauma, namun semangat beribadah tetap menjadi prioritas.
“Saya berharap keamanan ditingkatkan. “Jika saya mengingat kembali para korban yang meninggal tahun lalu, rasanya sangat menyakitkan,” kata Diallo. – dengan pelaporan AFP/Rappler.com
BACA JUGA: