• May 25, 2026
Film Indonesia ‘On The Origin of Fear’ telah memasuki Festival Film Toronto 2016

Film Indonesia ‘On The Origin of Fear’ telah memasuki Festival Film Toronto 2016

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

‘On the Origin of Fear’ mengikuti program kompetisi film pendek “Short Cuts” di Festival Film Internasional Toronto 2016

Jakarta, Indonesia – Tentang asal mula rasa takut mengikuti program kompetisi film pendek “Short Cuts” di Festival Film Internasional Toronto 2016.

Film yang disutradarai oleh sutradara Bayu Prihantara Filemon ini mengeksplorasi pengalaman traumatis generasi 80-an terkait reproduksi teror dan kekerasan dalam film propaganda sejarah buatan Orde Baru tahun 1984.

Pada awal Agustus lalu, film berdurasi 12 menit ini diikutsertakan dalam kompetisi Orizzonti bersama 18 film pendek dunia lainnya di Festival Film Internasional Venesia. Kini film tersebut telah dipastikan mengikuti program kompetisi film pendek “Short Cuts” di Festival Film Internasional Toronto 2016.

Saya menyaksikan bagaimana peristiwa ’65 versi resmi sejarah negara dibangun melalui propaganda teror, kata Bayu.

“Bioskop adalah teror. Adegan-adegan Penculikan, penyiksaan, pembunuhan, tarian dan lagu-lagu yang mengagungkan kekerasan dalam film – dengan pelaku dan korban sebagai sesama warga negara – semuanya menjadi landasan awal pengetahuan sejarah saya tentang bagaimana bangsa ini membangun peradabannya setelah tahun 65, katanya.

Film ini merupakan upaya Bayu untuk melawan trauma tersebut. Ia berharap generasi muda Indonesia tega menerima kenyataan bahwa ada masa kelam dalam sejarah yang harus diakui agar bangsa ini bisa maju dengan lebih ringan dan bermartabat.

Produser film Tentang asal mula rasa takut, Amerta Kusuma dan Yulia Evina Bhara menjelaskan, pembuatan film ini merupakan wujud sikap generasi muda yang sedang mencari kebenaran sejarah atas peristiwa tahun 1965.

Pesan kemanusiaan dalam film Indonesia merambah festival dunia

sebelumnya, Kata Istirahat (atau sendirian, kesendirian) yang mengisahkan aktivis dan penyair pembela demokrasi, Wiji Thukul, masuk festival film terkemuka tahun ini.

Film Pendek Indonesia Lainnya, Prenjak, juga meraih Leica Cine Discovery Prize dari ajang Semaine De La Critique di Festival Film Cannes 2016.

Sementara itu, Direktur Produksi Film Negara (PFN) Abduh Aziz menilai prestasi film Indonesia menembus kompetisi film dunia merupakan kabar baik yang harus segera direspon oleh negara.

“Film-film kita sudah mampu masuk ke banyak festival besar dunia. “Jadi yang dilakukan negara saat ini adalah mendukung para produser film agar bisa terus menghasilkan film-film berkualitas agar Indonesia benar-benar masuk dalam peta film dunia,” kata Abduh dalam siaran persnya. —Rappler.com

SDy Hari Ini