Mengapa wanita dan anak membutuhkan vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks
keren989
- 0
Januari adalah bulan kesadaran kanker serviks. Tujuan pemberian vaksin HPV adalah sebagai salah satu pencegahan penyakit kanker serviks.
JAKARTA, Indonesia – Kanker serviks merupakan penyakit ganas yang terjadi pada leher rahim wanita, atau area antara vagina dan kantung rahim. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan kasus kanker serviks merupakan penyakit keganasan tertinggi kedua pada perempuan di Indonesia setelah kanker payudara.
Kanker serviks disebabkan oleh human papillomavirus (HPV), yang memiliki lebih dari 100 jenis virus. Virus yang paling banyak menyebabkan kanker serviks ini adalah virus HPV strain 16 dan 18.
Saat ini salah satu cara mencegah kanker serviks adalah dengan menggunakan vaksin HPV. Apa yang perlu Anda ketahui tentang vaksin HPV?
Anak-anak harus mendapatkan vaksin HPV sejak usia 11 tahun
Para ahli mengatakan semakin muda seseorang mendapatkan vaksin ini, maka tingkat efektivitas vaksin ini akan semakin tinggi. Anak perempuan disarankan untuk mendapatkan vaksin ini sejak usia 11 tahun.
Pada pria, vaksin ini bisa diberikan mulai usia 11 tahun hingga 26 tahun. Dengan mendapatkan vaksin ini, selain melindungi diri dari strain virus HPV penyebab kutil kelamin, pria juga dapat mengurangi risiko penularan strain virus HPV penyebab kanker serviks ke pasangan seksualnya di kemudian hari.
Vaksin HPV harus diperoleh sebelum aktif secara seksual
Vaksin HPV paling ideal diberikan kepada mereka yang tidak aktif secara seksual karena penularan virus ini terjadi melalui hubungan seksual. Semua orang dewasa yang aktif secara seksual yang belum pernah mendapat vaksin HPV harus divaksinasi.
Wanita yang sudah aktif secara seksual sebaiknya melakukan hal ini tes bubur sebelum menggunakan vaksin HPV. Tes Pap adalah pemeriksaan sel-sel yang melapisi leher rahim.
Dari pemeriksaan ini Anda bisa mengetahui apakah kondisi leher rahim Anda masih normal atau ada perubahan sel yang menandakan adanya keganasan. Jika hasil Pap smear normal, Anda bisa langsung menggunakan vaksin HPV.
Apabila hasilnya tidak normal, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan (biopsi/pemeriksaan invasif lainnya) untuk mengetahui apakah telah terjadi keganasan.
Bagaimana prosedur pemberian vaksin HPV?
Vaksin HPV yang tersedia di Indonesia adalah Gardasil dan Cervarix. Gardasil melindungi tubuh terhadap infeksi HPV strain 6, 11, 16 dan 18.
HPV strain 6 dan 11 adalah penyebab utama kutil kelamin. Cervarix melindungi tubuh dari infeksi HPV strain 16 dan 18. Vaksin ini diberikan melalui suntikan di lengan atas.
Vaksin HPV harus diberikan 3 kali dalam waktu 6 bulan. Vaksin HPV kedua diberikan 1-2 bulan setelah vaksin HPV pertama. Vaksin HPV ketiga diberikan 6 bulan setelah vaksin HPV pertama.
Misalnya, jika Anda mendapatkan vaksin HPV pertama pada tanggal 1 Juni, vaksin HPV kedua dijadwalkan setidaknya pada tanggal 1 Juli atau 1 Agustus, dan vaksin HPV ketiga dijadwalkan setidaknya pada tanggal 1 Desember.
Saat ini, penelitian lebih lanjut sedang dilakukan mengenai perlunya pengulangan vaksin ini setelah beberapa tahun.
Efek samping yang mungkin terjadi setelah mendapatkan vaksin HPV
Efek samping yang terjadi setelah pemberian vaksin ini umumnya ringan, berupa nyeri dan kemerahan pada bekas suntikan. Efek samping yang jarang namun berpotensi serius termasuk pingsan dan pembekuan darah.
Untuk mencegah pingsan, duduklah minimal 15 menit setelah vaksin diberikan. Kekambuhan penggumpalan darah biasanya terjadi pada pasien yang menggunakan kontrasepsi oral.
Ibu hamil sebaiknya tidak menggunakan vaksin ini karena hingga saat ini belum ada penelitian yang jelas mengenai efek samping vaksin ini pada kehamilan. Vaksin ini juga tidak boleh diberikan jika Anda memiliki riwayat alergi terhadap bahan-bahan yang ada dalam vaksin ini (seperti lateks atau ragi).
Jika Anda menderita penyakit sedang atau berat, pemberian vaksin ini sebaiknya ditunda sampai Anda benar-benar sehat. Sangat penting untuk mendiskusikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter sebelum menggunakan vaksin ini.
Tindakan lain untuk mencegah kanker serviks selain vaksin HPV
Sudah divaksin bukan berarti Anda terlindungi sepenuhnya dari kanker serviks. Seperti yang Anda ketahui, vaksin HPV yang tersedia hanya melindungi Anda terhadap beberapa jenis virus HPV, tidak semuanya. Tindakan pencegahan harus selalu dilakukan.
Wanita sebaiknya melakukan tes Pap rutin setiap 3 tahun sekali, agar jika terjadi perubahan pada jaringan serviks dapat dideteksi sejak dini. Kombinasi pemberian vaksin HPV dengan pemeriksaan pertunjukan rutin (tes Pap) adalah perlindungan terbaik untuk mencegah kanker serviks. —Rappler.com
Sumber artikel ini berasal dari HaloSehat.comsebuah website kesehatan yang menyajikan informasi terpercaya dan mudah diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia.