• April 16, 2026
Tito Karnavian, Kapolri, menjadi Guru Besar PTIK

Tito Karnavian, Kapolri, menjadi Guru Besar PTIK

Tito mengatakan, untuk melawan terorisme setidaknya ada dua pendekatan yang harus dilakukan negara

JAKARTA, Indonesia – Kapolri Jenderal Muhammad Tito Karnavian resmi menjadi guru besar Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK). Pelantikan dilaksanakan pada Kamis, 26 Oktober 2017 di Auditorium PTIK), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Acara peresmian tersebut dihadiri sejumlah tokoh seperti Menristekdikti M Nasir, Menko Polhukam Wiranto, Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan, Jaksa Agung HM Prasetyo, Ketua Umum DPR RI Setya Novanto, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan Ketua MUI Ma’aruf Amin.

Prestasi akademis dan karir Kapolri Tito juga tak jauh dari obsesinya terhadap dunia pendidikan. Bahkan ia juga telah menulis sejumlah buku yang diterbitkan secara internasional dan aktif menjadi dosen di beberapa universitas terkemuka, seperti PTIK, UI, dan Nanyang Technological University.

“Ini pengalaman empiris saya. “Setelah mengabdi di bidang terorisme di Indonesia sejak tahun 1999, saya kemudian bersekolah di sekolah formal khusus di Amerika, Inggris, Australia, dan Singapura,” kata Tito.

Dalam orasi ilmiahnya, Kapolri Tito memaparkan sejumlah wawasan mengenai sejarah singkat terorisme di Indonesia dan beberapa negara lain serta peran aktor non-negara yang berbahaya bagi negara yaitu teroris.

Tak hanya itu, ia juga mengatakan, untuk memerangi terorisme setidaknya ada dua pendekatan yang bisa dilakukan negara yakni. pendekatan yang sulit atau cara-cara kekerasan yang menggunakan militer dan disertai intelijen penegakan hukum sebaik pendekatan lembut yakni dengan cara-cara lunak seperti upaya deradikalisasi, moderasi narasi tokoh-tokoh moderat dan netralisasi masyarakat yang terpapar radikalisme.

Tak hanya itu, pendekatan lunak juga dialihkan ke media internet yang menjadi sarang rekrutmen terorisme seperti ISIS.

Namun pendekatan kekerasan yang dilakukan negara tidak mampu menyelesaikan masalah terorisme. Sebab perang melawan terorisme dapat disusupi oleh aktivitas ekonomi, politik, dan keuangan di era globalisasi.

“Ini tentang bagaimana caranya aktor negara memenangkan simpati publik. Karena sebenarnya masyarakat terpapar dengan ideologi radikal tersebut sudah bisa sedikit, mereka hanyalah sebagian kecil dari masyarakat Indonesia. Negara tidak boleh salah langkah, jika salah langkah pasti bisa menimbulkan kekacauan. “Harus ada supremasi hukum dan perlindungan hak asasi manusia,” jelasnya.

Dari kajiannya, Kapolri Tito juga menegaskan bahwa terorisme tidak hanya terkait dengan satu agama. “Tidak hanya Islam, terorisme terjadi pada agama Budha, Kristen dan lain-lain. “Ini hanya terorisme atas nama Islam, konsepnya mereka membajak ajaran Islam dan salah menafsirkannya,” kata Tito.

Ia juga menambahkan, meskipun ada konflik di dunia Islam, masalah terorisme tidak akan pernah terselesaikan. Tito menjelaskan, Indonesia menjadi sumber permasalahan tersebut ketika ideologi yang berasal dari negara-negara di Timur Tengah disusupkan ke Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

“Saya perintahkan Densus 88 beberapa waktu lalu, dengan peningkatan anggaran dan tenaga yang dilakukan, mereka harus bekerja maksimal untuk mendeteksi dan mencegah aksi teroris. “Ini yang akan saya sampaikan malam ini di Amerika, saya diundang oleh PBB dan FBI.”

Usai dikukuhkan sebagai guru besar, Tito, Kapolri, rencananya juga akan terbang ke Amerika Serikat untuk menghadiri pertemuan dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang pemberantasan terorisme.

“Saya harus-pendek mereka, untuk memahami tipologi karakteristik jaringan teroris tersebut. baik dengan pendekatan keras, operasi militer dapat dilakukan. Tapi yang paling penting adalah pendekatan lembut, karena dengan pendekatan ini bisa langsung menyentuh hatinya untuk tidak melakukan aksi teroris,” ujarnya.

Sebagai seorang praktisi dan akademisi, Kapolri Tito mengaku didukung oleh keluarga untuk bersaing di dunia pendidikan. Menurutnya, ini persaingan yang sehat, karena ketiga saudaranya sudah meraih gelar Guru Besar dan dokter spesialis.

Dalam acara pengukuhannya, ia juga menghimbau kepada mahasiswa PTIK dan jajaran Polri untuk menyeimbangkan antara akademik dan praktik di lapangan, sehingga kebijakan dapat relevan dan bermanfaat bagi masyarakat. —Rappler.com

slot gacor