• May 4, 2026
Masjid Kauman Yogyakarta telah menyiapkan kari kambing untuk berbuka puasa sejak tahun 1950

Masjid Kauman Yogyakarta telah menyiapkan kari kambing untuk berbuka puasa sejak tahun 1950

Sejak 67 tahun lalu, Masjid Gedhe Kauman selalu menyajikan nasi kambing setiap hari Kamis di bulan Ramadhan. Ada lebih dari 2.000 peminat yang tertarik

YOGYAKARTA, Indonesia – Masjid Gedhe Kauman mempunyai tradisi unik setiap Ramadhan. Selama satu bulan, pihak masjid akan menyajikan menu kari kambing setiap hari Kamis.

Tradisi ini dimulai pada tahun 1950 hingga sekarang. Tahun ini, jumlah menu yang disediakan terus bertambah hingga mencapai 2.000 bungkus nasi kari setiap minggunya.

Karena peminat yang semakin meningkat, panitia masjid harus membentuk tim khusus yang bertugas memilih katering dan menentukan menu berbuka puasa di hari lain.

Anggota Panitia Tajil Masjid Gedhe Kauman, Jujuk Inhari Edi menjelaskan, tradisi menyiapkan menu gulai kambing setiap Kamis tidak berubah sejak 67 tahun lalu. Saat itu, menurut dia, pihak masjid memilih menu kari kambing karena dianggap sebagai makanan istimewa.

“Dulu, kari adalah makanan istimewa. Jadi kami memilih yang paling spesial di hari Kamis. “Kari pada tahap itu dimasak sendiri oleh takmir masjid,” kata Jujuk.

Sejak saat itu, tradisi ini terus dipertahankan. Pengunjung masjid juga hafal bahwa setiap hari Kamis mereka menyantap menu berbuka puasa berupa kari kambing.

Jujuk mengatakan, setiap tahunnya porsi yang disiapkan rata-rata meningkat. Dari ratusan setiap Kamis, terus bertambah hingga ribuan bungkus. Namun, kata dia, jumlah tersebut seringkali masih kurang, meski terkadang juga berlebihan.

Untuk menyediakannya, panitia menyiapkan menu lain seperti roti, kurma dan air mineral serta teh hangat jika jumlah porsi yang disediakan kurang.

Awalnya menu disiapkan oleh takmir masjid sendiri, panitia masjid kemudian menyerahkan penyediaan makanan siap saji kepada katering profesional. Sehubungan dengan bulan Ramadhan, banyak pengusaha katering yang ingin memberikan donasi untuk berbuka puasa di Masjid Kauman.

Tak hanya nasi kari setiap hari Kamis, ada juga menu lain seperti tongseng di hari Sabtu, brogkos di hari Minggu, dan acar sayur, ayam goreng, dan sambal di hari Senin.

Diakui Jujuk, tahun ini ada sekitar 20 katering yang menyampaikan keinginannya untuk menyediakan beras dan bahan pangan kebutuhan berbuka puasa. Namun, tidak semua saran katering bisa diterima. Panitia memilih katering mana yang paling profesional, menyajikan makanan terbaik, dan rasanya paling enak.

“Semua boleh mendaftar, tapi kami selektif,” ujarnya seraya menambahkan hingga saat ini belum ada katering atau pengusaha non-Muslim yang menyumbangkan beras untuk berbuka puasa.

Buka menu untuk siapa pun

Panitia Seksi Buka Puasa Masjid Kauman memiliki tim khusus beranggotakan 11 orang untuk memilih katering yang paling enak dan bergizi. Tim ini sudah terbentuk sejak lama dan beranggotakan 6 laki-laki dan 5 perempuan.

Selain tugas mencicipi masing-masing catering, mereka juga memilih kandidat yang dianggap paling profesional dalam memasak menu tertentu.

“Misalnya untuk menu sate kita memilih katering yang memiliki sate paling enak. Semua makanan dari mereka. “Masjid mengeluarkan nol,” kata Jujuk.

Selain seleksi, panitia juga menentukan jumlah porsi yang bisa disiapkan oleh pihak catering. Seringkali panitia menolak keinginan katering yang ingin memasak lebih dari porsi yang ditentukan panitia.

“Kami juga mengukur kemampuan kateringnya. Kalau biasanya mereka mampu 100, lalu mau kasih 150, biasanya ada 10 atau 20 beras tua. “Jadi besarannya juga kami tentukan berdasarkan kapasitas katering,” ujarnya.

Seperti pada Kamis malam, 8 Juni 2017, panitia mulai menyiapkan makanan dan minuman mulai pukul 15.00 WIB. Para panitia laki-laki menyaksikan dengan cekatan mengisi gelas teh dan menata piring nasi kari di atas meja.

Beberapa laki-laki lainnya memasukkan tiga hingga empat kurma ke dalam bungkusan tajil jamaah masjid. Terlihat tiga orang perempuan sedang menyiapkan nasi dan biskuit di sebelah kanan.

Jujuk mengatakan, panitia laki-laki lebih banyak terlibat dalam menyiapkan kebutuhan makanan cepat saji dibandingkan perempuan.

“Perempuan yang menjadi panitia lebih sedikit karena mereka banyak mempersiapkan kebutuhan berbuka puasa di rumah masing-masing,” ujarnya.

Di Masjid Kauman, pengunjung masjid dipersilakan untuk mengambil makanan dan minuman sebelum berbuka puasa. Sembari menunggu waktu berbuka puasa, mimbar akan diisi oleh ulama setempat untuk memberikan khotbah.

Di masjid yang letaknya tak jauh dari Malioboro ini, makanan berbuka puasa diperuntukkan bagi siapa saja, bahkan orang yang tidak berpuasa sekalipun.

“Kami tidak pernah melarang non-Muslim makan. “Makanan ini diperkenankan bagi yang sedang berpuasa maupun tidak,” ujarnya. —Rappler.com

Keluaran Sidney